Korupsi Dan Buruknya Moral Elit
Cari Berita

Korupsi Dan Buruknya Moral Elit

Marjin News
22 September 2018

(Foto: Dok. Pribadi)

Salah satu masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia adalah korupsi. Korupsi adalah penyalahgunaan uang atau kekayaan negara untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok tertentu. Sampai saat ini korupsi di Indonesia belum bisa diusut secara tuntas.

Menurut Kartono (1983) korupsi sebagai tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeruk keuntungan pribadi, dan atau merugikan kepentingan umum dan negara. Menurut Nurdjana korupsi berarti perbuatan yang tidak baik, buruk, curang, dapat disuap, tidak bermoral, menyimpang dari kesucian, melanggaran norma-norma agama materil, mental dan hukum. 

Kebanyakan pelaku korupsi adalah mereka yang “berdasi”, kaum elit yang berpengaruh dalam kehidupan bernegara. Mereka tidak puas dengan kedudukan maupun kekayaan yang mereka miliki. Kepedulian terhadap penderitaan rakyat telah hilang dari pemikiran mereka. Mereka hanya memikirkan kepentingan dan kesejahteraan hidup mereka sendiri. 

Ada beberapa banyak faktor yang membuat para koruptor dengan bangga melakukan korupsi, di antaranya faktor internal dan faktor eksternal. 

Faktor internal penyebab korupsi adalah rasa tidak puas akan kekayaan yang dimiliki. Rasa tidak puas dalam diri membuat para koruptor terus “melahap” uang negara. Lalu, apa yang memotivasi mereka terus melakukan itu? Salah satu faktornya adalah “Gaya Hidup”. Gaya hidup para koruptor yang sangat mewah  membuat mereka tidak segan lagi “merampok” kekayan negara. Anehnya, mereka tidak merasa malu dengan kelakuan mereka. Tidak jarang mereka justru menebarkan senyum ketika kejahatan mereka diketahui publik. Mereka tidak malu lagi disebut sebagai koruptor. Para pelaku korupsi tidak lagi peduli dengan nasib rakyat yang sejatinya masih dalam lilitan kemiskinan. Jeritan rakyat tidak lagi berharga dalam pandangan mereka. Kenikmatan yang diperoleh dengan melakukan korupsi telah menjadikan mereka memiliki gaya hidup mewah. Mereka nyaman dengan hidup mewah, walaupun diperoleh dengan “merampok” kekayaan negara. 

Selain faktor internal, ada juga faktor eksternal yang menyebabkan terjadinya korupsi. Faktor eksternal yang dimaksud adalah lemahnya sistem hukum di Indonesia untuk menindak para koruptor. Hukum yang ada tidak memberikan efek jera bagi masyarakat untuk menghindari perilaku korup. Sistem kerja Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) masih belum memberikan efek signifikan untuk mengurangi korupsi. KPK belum bisa mencari “solusi yang tepat untuk memberantas korupsi. Bahkan, KPK seringkali tidak menindaklanjuti laporan dugaan adanya korupsi  yang dilakukan oleh pribadi ataupun kelompok tertentu. 

Berkaitan dengan persoalan di atas, muncul pertanyaan, Kapan Indonesia terbebas dari korupsi?. Menurut penulis, Indonesia terbebas dari korupsi saat hukum lebih ditegakkan lagi dan saat manusia tidak lagi rakus dengan kekayaan.  Kunci untuk menyelesaikan persoalan ini terletak pada hati nurani kita. Kita perlu memupuk “rasa puas” dengan apa yang merupakan hasil kerja sendiri, bukan dengan melakukan korupsi. Perlu ada kesadaran bahwa korupsi merupakan perbuatan yang tidak bisa dibenarkan dalam kehidupan bermasyarakat. 


Oleh: Atyk Suryatry, Mahasiswa USD Yogyakarta. 



Editor: VP/MN Yogyakarta.