Kisah Cinta yang Kini Mampu Aku Perjuangkan, Cerpen Karya Febri Kabur
Cari Berita

Kisah Cinta yang Kini Mampu Aku Perjuangkan, Cerpen Karya Febri Kabur

MARJIN NEWS
28 September 2018

Foto: Kresensia Nadia Badang
Semenjak aku mengenalnya pertama kali, aku menyadari bahwa cinta itu ada, cinta itu tak pernah pudar, walau pertama kali saat berjumpa dengannya, aku tahu bahwa ada pria lain yang berada disisinya, darisitu aku mulai sadar, bahwa pria lain yang ada bersamanya saat itu, itulah kebahagiaan yang ia miliki, aku pun coba merebut kebahagiaannya dari pasangannya itu, tapi aku juga sadar bahwa itu bukanlah hal yang Ia inginkan, walau disaat awal aku selalu berjuang terus agar mendapatkannya , Ia tak pernah membuka hatinya,  Ia justru lebih cuek, dan timbul rasa benci terhadap aku yang selalu ingin merusak kebahagiaannya itu. Namun dari situlah aku paham, aku tahu, jika Ia memang  orangnya tulus, tulus kepada pasangannya, dan tidak ingin melukai perasaan dari pasangannya itu sendiri.

Hingga pada saat itu, Ia tak pernah menghirau tiap kali aku menegurnya. Seiring jalannya waktu hingga mencapai 3 bulan, aku masih tetap ingin bersabar, walau bukanlah waktu yang singkat disaat aku menantinya, dalam doa yang aku harapkan adalah, agar kelak Dia bisa menjadi milikku dan jatuh pada pelukkanku. Seiring doaku, aku tetap berusaha, berusaha untuk menanti dirinya, walau saat itu begitu banyak wanita yang begitu dekat denganku, namun sedekatnya aku dengan wanita-wanita itu, aku tetap merasa, bahwa hatiku ini, hanya pantas diisi oleh dirinya seorang.

Aku pun tetap menantinya, hingga pada saatnya aku membaca sebuah postingan di kronologi pada unggahannya, bahwa Ia telah tersakiti oleh pasangannya sendiri. Dari situ aku berusaha dan berdiri kembali, untuk menyatakan sikap bahwa aku harus mendapatkannya pada hari itu.

Ternyata harapanku terkabul, pada saat itu juga tanpa Ia berpikir panjang, Ia mampu menerima perasaanku yang telah lama aku pendam, tapi entahlah, dirinya menerimaku dari hati dan perasaannya sendiri, ataukah hanya ingin menjadikan aku sebagai pelampiasan. Tapi aku menganggap itu hal yang biasa, karena disaat hubungannya dan pasangannya itu berakhir, disaat itu pula Ia menerima ungkapan perasaan dariku. Wajar saja aku menganggap bahwa Ia menerimaku hanya sebagai pelampiasan, tapi nyatanya tidak.

Seiring waktu berjalan, ternyata Ia bisa menerimaku apa adanya, baik kelebihan maupun kekuranganku. Aku pun merasa begitu bahagia disaat menjalin hubungan bersamanya, walau aku banyak melakukan kesalahan, dan membuatnya kecewa, aku selalu berusaha meminta maaf dan terus berusaha agar Ia dapat memaafkanku kembali, karena jujur, aku tak rela jika Ia jatuh pada pelukan orang lain. Karena yang aku tahu, saling memaafkan dan berusaha, adalah hal yang mampu untuk dapat mempertahankan sebuah hubungan.

Dan hingga kini, Ia mampu bertahan untuk berada di pelukanku, maka dari itu, timbullah keyakinan yang besar dari diriku, bahwa kelak, aku bersamanya dapat membangun kebahagiaan yang lebih besar dari sebelumnya, untuk tetap menyayanginya, meskipun aku tahu selama 2 tahun 10 bulan terakhir ini bukanlah waktu yang singkat yang aku lalui bersamanya, walau pun berbagai rintangan dan tantangan yang kami lalui bersama, bagiku tidaklah mudah untuk dilalui.

Hingga kini aku mampu merasakan kebahagiaan yang begitu sempurna, dan bahagiaku saat ini adalah Dia, senyumku adalah Dia, penyemangatku, canda tawaku adalah Dia. Dan sebagian hidupku adalah Dia. Maka, tidak ada alasan bagiku untuk berhenti menyayanginya, sesulit apapun yang harus aku hadapi akan aku lewati. Disaat pertama kali saja aku mengungkap perasaanku ini terhadapnya, disitu aku mulai merasakannya, bahwa Dialah wanita yang aku impikan selama ini.

Aku kuat karena kehadirannya, lidahku tak mampu berkata bohong jika aku tidak bahagia bersamanya, kebahagiaan dan jatuh cinta setiap harinya selalu aku rasakan disela hembusan nafasku, nafasku yang ku hirup beriringan dengan kasih sayang darinya yang selalu menemani ketenanganku. Semangatnya yang selalu memberikan pelangi keindahan di hatiku dan perhatian yang begitu besar darinya yang selalu memberikan ketenangan disetiap waktu yang aku lewati bersamanya.

Aku tak pernah mengira bisa menyayanginya...

Oleh: Febriano Kabur
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Politik pada jurusan Ilmu Pemerintahan di Universitas Warmadewa.