Kembali Pulang: Kisah Kecil Sesa Ame Bembang, Pahlawan dari Dalu Pasa
Cari Berita

Kembali Pulang: Kisah Kecil Sesa Ame Bembang, Pahlawan dari Dalu Pasa

MARJIN NEWS
22 September 2018

Suasana penyambutan rombongan pengambil Batu Kubur Sesa Ame Bembang di Kampung Wontong pada Senin (10/9/2018). (Foto: Yuliana Susanti)
Budaya, marjinnews.com - Sesa Ame Bembang dikenal sebagai tokoh pejuang Manggarai yang tidak kalah hebatnya dengan sosok Ema Motang Rua. Sesa Ame Bembang berasal dari Dalu Pasa, Kecamatan Rahong Utara Kabupaten Manggarai. Beliau  pada keluarganya dikenal sebagai seseorang yang sangat pemberani. Cerita perjalanan hidup Sesa Ame Bembang mulai dari kampung Pasa, kemudian berlanjut sampai ke Kampung Ruang.

Di Ruang inilah beliau melanjutkan hidupnya sampai kemudian turut serta dalam pertempuran melawan Belanda hingga sampai ke Ende, sebuah kota dimana Presiden Soekarno pernah diasingkan. Di Ende beliau bersama dengan kawan–kawannya melawan Belanda hingga Dia Gugur.

Hingga saat ini posisi keturunan dari Sesa Ame Bembang sudah masuk pada keturunan ke-lima. Sesa Ame Bembang pada tahun 1909  memperjuangkan haknya sebagai Warga Negara Indonesia dengan mempetaruhkan nyawanya melawan penjajahan, salah satu bangsa yang menjajah Indonesia sampai pelosok Manggarai saat itu adalah Bangsa Belanda. Pada saat itu salah satu tokoh dalam lingkup perjuangan mereka adalah Ema Motang Rua dan juga kawan kawannya. Sesa Ame Bembang adalah teman seperjuangan melawan penjajah dari Ema Motang Rua.

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Minggu 9 September 2018, keluarga besar Sesa Ame Bembang melakukan sebuah upaya yang luar biasa. Mengembalikan batu kubur Sesa Ame Bembang ke kampung halamannya di Pasa yang selama ini masih di Ende, tempat beliau menghembuskan napas terakhirnya kala melawan Belanda.

Berdasarkan laporan yang diterima marjinnews.com, pihak keluarga yang turut serta dalam pengambilan Batu tersebut terdiri dari pihak Anak Rona, Anak Wina dan Woe yang berangkat tepat Pukul 22.00 WITA menuju Ende. Asa untuk memulangkan leluhur itu pun mendapat berkat, rombongan itu tiba dengan selamat keesokan harinya tepat Pukul 06.00 WITA.

Serangkaian acara adat pun dilakukan. Batu Nisan Sesa Ame Bembang kemudian bisa dibawa pulang oleh anak cucunya ke kampung halaman. Berdasarkan cerita dari salah satu Cecenya yang dikenal dengan nama Eka Tullung, pihak keluarga sebenarnya hendak turut serta dalam upacara tersebut untuk pergi secara bersama-sama ke Ende. Namun, karena beberapa alasan akhirnya hanya perwakilan keluarga besar saja yang pergi untuk menjemput sang Pahlawan kembali ke rumah.

Perjuangan itu ternyata tidak sia-sia. Pada Senin (10/9/2018) Batu dari nenek moyang mereka akhirnya tiba di Kampung Wontong, Kabupaten Manggarai pada Pukul 17.00 WITA yang disambut dengan isak tangis bahagia dari semua pihak keluarga Sesa Ame Bembang.

Akhir dari perjalanan keluarga Suku Pasa kini berhasil membawa pulang batu dari Sesa Ame Bembang. Tiba di kampung Wontong, Rahong Utara (kampung asal Sesa Ame Bembang) rombongan disambut oleh upacara penjemputan yang dilaksankan di Kampung Wontong, Desa Bangka Ruang, Kecamatan Rahong Utara pada Senin sore.

Upacara berlangsung dengan melibatkan semua masyarakat kampung Wontong yang menyambut kedatangannya dengan rasa sedih terharu mengingat perjuangan dari beliau. Setelah itu, masyarakat Kampung Wontong menyelenggarakan upacara adat sampai pada upacara kenduri dari Sesa Ame Bembang pada Sabtu, 15 September 2018 lalu.

Mereka menyiapkan kerbau untuk Pesta Kenduri tersebut. Orang yang berperan penting dalam memperjuangkan untuk mengambil Batu (Teti Watu) dari Sesa Ame Bembang di antaranya adalah Bapak Nelis Embok, Marsel Tejo, Ansel Serath Dan Opa Stanis. Mereka adalah keturunan langsung dari Sesa Ame Bembang.

Oleh: Yuliana Susanti 
Alumni PBSI STKIP St. Paulus Ruteng