Kamu Setelah Dalam Pelukan
Cari Berita

Kamu Setelah Dalam Pelukan

Marjin News
16 September 2018

Seperti itulah kita, kita yang sekarang bercinta di atas jarak. 
Kita yang sekarang hanya saling tatap dalam layar handphone, atau temu dalam bayang.
Kita yang sekarang mengumpulkan butir-butir rindu. Jenuh, namun tetap harus dinikmati. (Gambar: Istimewa)


Setelah sekian lama bersetubuh dengan jarak, bertatap denganmu adalah harap terbesar. 

Bersua di sepertiga malam, mengisi rongga jemariku dengan jemarimu, menikmati kopi dari gelas yang sama dan bercumbu melunasi rindu yang bertumpuk. Ahh, jika saja saat itu tiba, aku yakin, kita adalah yang paling bahagia seperti bahagia yang dirindukan orang-orang. Begitu indahnya. 

Andai saja kita mampu menyulam jarak yang membentang memisakan aku dan kamu menjadi temu. Andai saja aku dan kamu sedekat hening dan do'a, ucap dan bibir. Andai saja. Semuanya pasti sangat indah. Sudahlah, itu hanya pengandaian.
Kalau itu tidak mungkin, doaku sederhana tuhan, bawa aku kembali ke malam kemarin. yah, ketika itu kita dalam selimut yang sama, diatas ranjang yang sama, hangat, hening dan kenyamanan tercipta.


Seingatku, kala itu jarak antara kita hanyalah sejauh jarum pendek dan jarum panjang pada jam dinding ketika menunjukan pukul 12.00, sangat dekat. Untuk sekedar menyusuppun dingin harus pandai mencari cela, anginpun demikian. Ingatkan, kota itu sangat dingin. Tapi malam itu semuanya seperti terasa hangat, apalagi setelah nafas kita seperti bernyanyi memecah kesunyian malam itu. 


Saat itu adalah malam terakhirku di kota dingin yang penuh dengan kenangan indah.
Malam itu adalah malam yang sama seperti kita melewati malam sebelumnya, tapi malam itu adalah malam dengan suasana hati yang teduh namun agak layu. 
Malam itu adalah persiapan, persiapan menuju malam esok yang akan kita lalui dengan rindu dan senyum yang penuh dengan kepura-puraan. 

Seperti itulah kita, kita yang sekarang bercinta di atas jarak. 
Kita yang sekarang hanya saling tatap dalam layar handphone, atau temu dalam bayang.
Kita yang sekarang mengumpulkan butir-butir rindu. Jenuh, namun tetap harus dinikmati. 

Saat ini, di tempatku, di kota yang orang-orang bilang istimewah, aku menyusuri malam dalam imajinasiku. Sementara tubuhku terdiam di hadapan sunyi, bertatap dengan sepi. 
Aku tidak tahu, seperti apa kamu menikmati malam ini di sana. Apakah perasaan dan hatimu sama sepertiku? Semoga saja tidak. Aku ingin kamu ceria dengan malammu.


Malam ini, malam minggu ke tiga dalam bulan september. Seharusnya malam ini kita melepas penat di tempat yang sama, setelah sepekan kita bekerja. Esok kita sama-sama bersujud dihadapan tuhan, di bangku paling depan dalam gereja. Berdoa sembari aku memperkenalkan dirimu pada tuhan. Begitu juga sebaliknya. Tapi, ya sudalah. Kita nikmati saja malam minggu kita, sampai pada temu yang malam ini aku rindukan. Percaya saja, berharap kamu baik-baik saja adalah doa wajib yang aku lantunkan pada tuhan. 

Keyakinanku, kamu baik-baik saja. Seperti dalam pelukan itu, setelah dalam peluk hingga kita temu kembali dalam peluk. 



Yogyakarta, September 2018

Oleh: Viky Purnama (PenaBiru), Marjinnews.com Yogyakarta.