Dibentak Saat Sidang, Noviyanto: Gubernur NTT Rampas Mike dan Tunjuk ke Arah Saya
Cari Berita

Dibentak Saat Sidang, Noviyanto: Gubernur NTT Rampas Mike dan Tunjuk ke Arah Saya

MARJIN NEWS
18 September 2018

Foto: Istimewa
Kupang, Marjinnews.com -- Sidang Paripurna DPRD NTT dengan agend  Pengantar Nota Keuangan atas Rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD yang dihadiri oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Laiskodat bersama wakilnya Josef Nay Soy terjadi aksi pemembentakan terhadap salah seorang anggota DPRD yang menginterupsi saat sidang paripurna.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat membentak anggota DPRD atas nama Noviyanto Umbu Pati Lende yang menginterupsi dan ingin menyampaikan beberapa hal terkait materi sidang tersebut.

Aksi yang tak biasa itu lalu diredam oleh Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno yang memimpin paripurna tersebut dan Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi.

Seperti dilansir Voxntt, begini penjelasan Noviyanto Umbu Pati Lende anggota DPRD NTT.

“Pada jam 9 saya tanda tangan absen dan saya melihat jumlah anggota dewan yang hadir sudah memenuhi kuorum sekitar 40-an orang. Artinya sudah kuorum. Pertanyaan saya pada pion pertama itu mengapa kehadiran anggota dewan sudah memenuhi kuorum pada jam 9 tapi sidang belum dimulai, Itu pertama. Kedua, mengapa dokumen yang sudah ada di meja dewan ditarik kembali , mohon penjelasan pimpinan. Ketiga, sejak saya datang jam 9 itu saya melihat situasi yang tidak biasa terjadi di lembaga ini dimana ada pihak-pihak yang diluar sistem yang sibuk melakukan komunikasi, diskusi secara serius. Jadi, kejadian-kejadian itu yang saya ingin sampaikan,” terang Noviyanto.

Dia menceritakan, saat menyampaikan poin ketiga, gubernur Laiskodat langsung merampas mike dan menunjuk ke arahnya.

Beruntung, saat itu ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno berusaha melerai dan menenangkan emosi Gubernur.

“Saya belum sampaikan poin keempat gubernur langsung serang saya,” tutur Noviyanto.

Dia mengatakan, kejadian seperti itu sangat unik dan langka selama dirinya menjadi anggota DPRD NTT.

“Mestinya pertanyaan anggota dewan itu dijawab pimpinan rapat, karena yang sapaan awal saya, saya diminta jawaban pimpinan bukan gubernur. Lalu gubernur ambil mike langsung tunjuk saya. Saya pikir ini kejadian yang luar biasa,” tegas Noviyanto.

Noviyanto sendiri mengaku kecewa dengan kejadian itu. Tugas dan fungsinya sebagai anggota DPRD seperti dibungkam Gubernur NTT.

“Ini wakil rakyat, kami wakil rakyat. Saya sangat kecewa,” tutur Anggota DPRD NTT dari Dapil Sumba itu.

Dia menambahkan, dinamika dalam sidang paripurna itu hal biasa apalagi sekadar interupsi pimpinan sidang.

“Gubernur yang lalu, sebelum ini, menikmati untuk mendengar itu. Walaupun itu sakit, walaupun itu juga puji-pujian, mereka senang. Tapi tadi saya sangat kaget. Saya mendapat perlakuan yang tidak wajar dari seorang gubernur,” ungkapnya.

Dia berharap, kejadian seperti itu tidak terulang lagi demi menjaga marwah DPRD.

Hal senada disampaikan anggota DPRD lainnya Yohanes Rumat. Anggota DPRD asal daerah pemilihan Manggarai itu menyatakan kekesalan terhadap aksi gubernur. Dia mengatakan sebagai mitra, aksi gubernur itu akan menciptakan preseden buruk bagi hubungan kemitraan eksekutif dan legislatif.

Dia menyampaikan mekanisme penolakan atau ketidaksetujuan eksekutif terhadap pernyataan anggota dewan tersedia. Dan penyampaiannya tentu diatur melalui tata tertib persidangan.

"Jika yang dilakukan demikian maka apa yang bisa diharapkan dalam hubungan antarlembaga ini," katanya.

Hubungan kemitraan antara eksekutif dan legislatif sesuai aturan berada sejajar dan tak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Karena itu harus ada saling menghargai.

"Kalau dengan anggota dewan saja seolah ada yang lebih tinggi dan lebih rendah lalu masyarakat kita tempatkan di sisi mana," katanya.

Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno menyatakan terkejut dengan aksi spontan gubernur itu. Anggota Fraksi Golkar itu mengatakan karena aksi yang dilakukan spontan maka diapun secara pontan meredam situasi agar tak meledak. "Saya lalu spontan memegang tangan kiri gubernur untuk menenangkan beliau," kata Anwar. (*)

Editor: Remigius Nahal