Cinta Beda Agama, Cerpen Karya Arfey Silfester

Foto: Majalahouch

Sore itu mendung tidak lagi mengerumuni puncak-puncak bukit. Yang ada dedaunan yang masih berserakan mulai berterbangan ditiup angin sambil mengendus matahari yang mulai bersembunyi di bagian barat. Rerintik hujan pun tak lagi datang seperti hari-hari kemarin. Bahkan bekasnya mulai kering di atas permukaan dedaunan yang masih berlambai.

Kamar kost ku berhadapan dengan sebuah halte bus kota. Seorang wanita berjilbab sedang duduk sambil melirik ke samping, lalu menopang dagunya sejenak kemudian dengan kedua lengannya. Menatap lagi ke samping beraharap ada cinta yang lewat. Sebenarnya aku tidak ingin menatapnya lebih lama, tapi entah kenapa pikiranku merekat pada wajah itu. “Ah.. Sudalah” gumanku dalam hati sambil beralih mengibas rambutku yang masih basah.

Sejenak kemudian aku kembali melirik dari balik jendela, perempuan tadi masih saja di halte depan.

“Mungkinkah dia seorang yang ingin mengulang masa lalunya di halte itu? Atau mungkinkah putaran waktu terlalu cepat baginya sehingga ia tidak sempat mengenag segala yang perlu dikenang.??. Ataukah justru aku yang sedang mengahayal lantaran masa lalu ku begitu pahit, sepahit pekerjaan menunggu seperti perempuan di depan? sehingga aku tak ingin lagi mengenangnya kembali.?”. Gumanku dalam hati.

Semakin lama semakin merekat tatapanku. Aku sadar pikiranku sudah mendarat di sana. Di halte yang panjangnya kurang lebih 3 meter. Aku mencoba keluar dan mendekatinya.

​“Hey.. Apakah engkau tidak ingin pulang ke rumahmu? mengapa engkau masih saja duduk melamun di tempat ini tanpa melihat jam yang ada di pergelanganmu?” Tanyaku datar. Dia meraih tas yang ada di sampingnya lalu berdiri dan pergi.

​“Hey... Nona. Bukankah engkau seorang muslimah.?”. Teriakku dari belakang.

​“Pertanyaan konyol.!!” Jawabnya keras.

​“Bukankah engkau sesorang muslimah yang saleh?? maukah engkau membantuku untuk mencari diriku yang sudah hilang di dunia ini dan bahkan di balik bola matamu?” aku kembali berteriak.

“Jika engkau orang yang kurang waras datanglah ke Pesantren ayahku di sana kami juga menerima orang yang kurang waras. Ada ruangan khusus untuk mereka”.

Ia berbalik dan menjawab sambil senyum sinis.

“Dasar perempuan cuek.!!” Gerutuku sambil menendang angin.

Waktu kian berputar dan aku mencoba mengendus segala impianku, impian ayah dan impian keluarga. Aku mencoba mengadukkanya bersama keramaian di sebuah Bar kota itu.  Sesekali aku meraih sloki yang sudah disediahkan oleh sang pramuria sambil mencoba meneguknya lalu menghembuskan kepulan asap yang pekat diantara cela-cela orang yang bergoyang bersentuhan dada.

Di pojok kiri ada seorang pria yang berkumis tipis mencoba merangkul kekasihnya. Sungguh sebuah kenyataan. Ini baru namanya hidup. Memang benar orang bilang, dunia itu tidak abstrak seperti ilmu-ilmu filsafat, seperti yang dilakukan oleh para biarawan-biarawarti yang berkontemplasi sambil mengumandangkan nyanyian bagi Allah. Aku berkutat dalam pergulatanku.

"Di mana sih Allah para biarawan-biarawati ini yang hidup berkontemplasi abstrak tanpa menatap realita yang semakin kejam? Ataukah Allah mereka berbada dengan Allah seorang perwira yang melegalkan nyawa manusia dengan sebuah peluru? dan mungkinkah seorang yang hidup dari korupsi masih sempat memikirkan dosa yang diajarkan oleh kaum klerus.? Atau seorang yang korban peperangan masih mengimani Allah sebagai penyelamat.? Ah.. Peperang terjadi di mana-mana, korban pelecahan seksual semakin membengkak, korupsi diberbagai instansi tak terhitung jumlahnya. Atau mungkinkah dalam gereja juga ada korupsi..?? Hmm, itukan mungkin,? Siapa yang tahu”.

Sejenak kemudian aku melirik ke jam yang ada dipergelanganku. Waktu menunjukan pukul 00: 33. Aku harus pulang. Kepalaku yang sedikit pusing kembali disegarkan oleh angin malam yang semakin menusuk sum-sum tulangku. Aku berlaju dengan si jarot kesayanganku.

“Brukkk.. Kreeekkkk.....” Sebuah Mobil Avanza berwarna merah mudah menabrakku dari arah timur. Aku sempat melihatnya. Aku terjatuh dan terpelanting di atas aspal. Segera seorang perempuan berjilbab keluar dari mobil tersebut menghampiriku. Akan tetapi, mataku yang masih kaku untuk buka lebar tak sempat melihat dengan jelas wajah perempuan itu. Tapi yang pasti dia berjilbab.

“Hay.. Kamu nggak apa-apakan.? Ayo kita ke Rumah Sakit.” Dia membantuku berdiri dan lenganku ditaruhnya di atas pundak.

“Ayo kita Ke Rumah Sakit”. Sepertinya dia sangat khawatir.

“Hey.. Aku tidak kenapa-napa”.  Jawabku datar.

“ Jangan bawa aku ke Rumah Sakit.  Aku mau pulang.” Lanjutku.

“Tidak.. Kita harus ke Rumah Sakit. Aku tidak mau keadaanmu kenapa-napa.”
“Hey.. Kau ini siapa.? Bantahku.
“Bawa aku pulang kalau kau punya hati.?”
Dia diam dan menunduk seakan mengiakan permintaanku.
"Oh.. maaf. Iya,, ayo kita pulang. Rumahmu di mana?.” Dia bertanya dengan suara yang agak gugup.
“Hmm.. maaf. Di Jalan Sudirman, belok kiri No. 32.”

Pagi sudah tiba. Sebuah hari baru yang menjengkelkan karena memaksaku untuk bangun. Hari baru yang penuh hiruk-pikuk. Tetapi, hari baru yang sangat segar bagi para koruptor, dan hari baru yang kelam bagi mereka yang sedang berperang.

“Tok tok.. Tok tok.. Hallo..” Bunyi pintu.
“Masuk.. “ Jawabku yang masih asik dalam selimut.
“Hay.. Selamat pagi.
“Haa..??” Aku kaget sambil menucak mata. “Iya.. Selamat pagi. Bukankah kau yang berada di halte depan kemarin sore.?” Lanjutku
​“Iya.. “ Dia menjawab.
​“Trus, untuk apa ke sini.?
​“Maaf, sebelumnya aku minta maaf. Tadi malam aku yang menabrakmu di Lampu Merah.” Dia diam.

Lalu melanjutkan pembicaraannya.

“Sekali lagi aku minta maaf ya.”
“Keadaanmu bagimana.. Kamu sudah makan? Kita ke Rumah Sakit ya.? Lanjutnya.
​“Tidak.. Aku tidak mau.” Tegasku.
​“Kalau begitu kita ke rumahku saja biar di sana saya bisa obatin lukamu.”
​“Tidak.. kalau kamu merasa bersalah, kamu datang setiap hari ke sini dan obatin luka saya sampai sembuh. Dan satu lagi, bawain aku makan. Ok..??”
“Kok gitu..?” Dia membantah.
“Terserah. Yang pasti kalau kamu tidak nuruti apa yang aku mau, aku akan melaporkan kau ke Polisi. Mau.!!” Jawabku

“Hmm, Ok.” Dia mengangguk.
​Dia mengambil sebuah botol yang berisi cairan dalam saku tasnya. “Sini. Di bagian mana yang luka.”
“Hanya ini kok” Aku menyodorkan tangan kananku.

Perlahan ia membersikan sisa-sisa aspal yang masih membekas lalu membalutnya dengan verban
“Isss...” Aku bergerutu
“Sakit ya, maaf, maaf..” Dia menenangkanku.
“By the way, namamu siapa.? Dia mulai menanya
“Namaku Cristian. Dan kamu..? Tanyaku balik.
“Aku Frida Sumita. Kamu bisa panggil aku frida. Kamu Kuliah di mana?
Aku diam. “Kok nggak dijawab.?”
Aku menarik napas panjang.

"Aku seorang yang mencari arti kehidupan dalam dunia yang nyata. Bukan pada teori meditasi. Dulu aku seorang biarawan. Tapi entah kenapa Tuhan tidak menjawab doaku. Sejak kecil aku mempunyai cita-cita menjadi seorang imam. Tapi justru seorang imam-lah yang mengeluarkan aku. Dulu aku seorang yang selalu kontra dengan atasanku. Aku tidak mau hidup yang penuh dengan manifestasi. Membiarkan Hostia kudus jadi bahan lelang. Sabda Tuhan menjadi ajang koalisi belaka. Dan karena itu aku dikeluarkan” Jawabku sembari menatap matanyanya yang searah dengan wajahnya yang halus.

Ternyata dia cantik. Mungkin benar sebuah teori yang mengatakan bahwa laki-laki mempunyai kelemahan di matanya sedangkan perempuan di telinganya. Dia mendengarkan curhatku dengan penuh perhatian sambil menatap mataku hangat. Sesekali tatapan kami bertemu.

“Tuhan dia baik.” Akan tetapi, aku merasa asing menyebut nama Tuhan lagi karena semenjak tiga tahun lalu aku tidak pernah menyebut nama itu.
Sejenak aku terdiam. Tatapan kami kembali bertemu.

"Sejak saat itu aku benci para imam. Benci pada Tuhan yang memberi harapan palsu pada daku. Aku benci kehidupan membiara yang penuh kontemplasi abstrak. Tapi, toh mereka mengabadikan profesi itu untuk menjadi ajang petualang.” Lanjutku dengan suara yang agak keras.

“Cukup.. Cukup.. Sini tangan satu. Aku mau membersikannya.” Dia menyodorkan tangannya dan meraih tanganku.

“Kamu sudah makan.?” Tanyaku
“Belum. Memangnya kenapa.?” Dia balik bertanya.
“Yuk.. kita ke sebuah tempat makan. Aku lapar.”

Kami berjalan agak pelan. Tapi, aku merasakan ada hal yang aneh. Dia mencoba memeluku erat sambil menyandarkan dagunya pada pundakku. Dia berbisik.

"Tuhan itu seperti angin. Kau tidak mampu melihatnya tapi hatimu mampu merasakan kehadiranya. Tuhan itu seperti seorang kekasih yang mencoba memelukmu begitu erat di saat hatimu membutuhkan penenang. Tuhan itu seperti aku yang ingin setia menemanimu hingga aku tak mampu lagi mendefinisikan perasaanku ini”.

Dia melanjutkan bisikannya “Barangkali tidak ada cinta di dunia ini yang indah seperti cinta Tuhan. Memang semua orang punya masa lalu. Semakin lama engkau menjalin kisah dengannya, semakin banyak pula kenangan yang tersimapan di ingatanmu yang mungkin saja engkau belum mampu mengenangnya”.

Perjalanan serasa semakin panjang. Entalah. Tapi yang pasti waktu menghantar kami. Bukan sebuah restaurant. tetapi ke sebuah bukit. Kami duduk berdampingan. Dia menyandarkan kepalanya ke bahuku sambil kembali berbisik.

"Aku memahami hal itu dengan utuh. Itulah yeng membuat aku tidak memaksamu untuk melupakan masa lalumu. Aku tidak pernah menyalahkan bagaimana kisahmu dulu. Entah kau seorang biarawan atau tidak. Tapi yang pasti semenjak di halte depan kostmu aku mecoba memandangmu. Dan mengalihkan perhatian ketika kau hendak melihatku. Aku seorang muslimah. Banyak orang yang berasumsi bahwa agama kami itu sombong karena ada beberapa kelompok kecil yang ingin menumbangkan pancasila dan menggantikanya dengan ideologi yang mereka buat. Dan juga teroris banyak yang beragama Islam. Tapi, meskipun begitu aku tidak goyah dengan keyakinanku. Aku masih mempercayai Allah sebagai penyelenggara semua kehidupanku. Dan mungkin juga dia yang memberiku waktu agar aku ada bersamamu. Tidak peduli bagiku seberapa pun pahit dan hitamnya masa lalumu, aku tetap menyayangimu. Aku suka padamu semenjak di halte bus kota kemarin”.

Dia memandangku dan mencium bibirku. “Aku juga mencintaimu”. Bisikku pelan.
“Aku mencoba melepaskan ciumannya dan berdiri. Tuhan di manakah Engkau. Aku ingin Engkau melihat hatiku. Aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku. Aku tidak mengerti janjiMu waktu itu. Tuhan terima kasih atas kado yang Engkau titipkan ini untukku. Terima kasih atas harapan baru ini. Tuhan aku bahagiaaaaaaa.....” Aku berteriak
Mari kita berteriak bersama “We Love You Tuhannn….”

Oleh: Arfey Silfester
Anggota Kelompok Sastra Salib Merah, San Camillo. 14 September 2018

COMMENTS

KOMENTAR: 1
Loading...
Name

Artikel,140,Bali,109,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,144,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,537,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,200,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1031,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Cinta Beda Agama, Cerpen Karya Arfey Silfester
Cinta Beda Agama, Cerpen Karya Arfey Silfester
https://4.bp.blogspot.com/-PdT7TRqFufs/W56CG7cN9VI/AAAAAAAACjo/e2fdxxoahRsAGincjvzW3e9UJctkcyWIgCLcBGAs/s320/timthumb.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-PdT7TRqFufs/W56CG7cN9VI/AAAAAAAACjo/e2fdxxoahRsAGincjvzW3e9UJctkcyWIgCLcBGAs/s72-c/timthumb.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/09/cinta-beda-agama-cerpen-karya-arfey.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/09/cinta-beda-agama-cerpen-karya-arfey.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy