Bunuh Diri dan Simpton Politik Kematian

Foto: Dok.Pribadi Kasus bunuh diri di kalangan kaum terpelajar di Kabupaten Manggarai belakang ini semakin menambah panjang daftar ka...

Foto: Dok.Pribadi


Kasus bunuh diri di kalangan kaum terpelajar di Kabupaten Manggarai belakang ini semakin menambah panjang daftar kasus bunuh di tanah air. Dari tahun ke tahun angka bunuh diri menunjukkan prevalensinya cukup tinggi. Mengutip Flores.co dua tahun terakhir 2017 sampai memasuki semester kedua 2018 jumlah kasus bunuh diri di Kabupaten Manggarai mencapai kurang lebih 10 kasus.
Tindakan bunuh diri di kalangan terpelajar diduga sebagai akumulasi kekecewaan terhadap sistem pendidikan kita yang mendidik anggota masyarakat yang kerdil jiwa dan pikirannya, menjadi anak yang takut berkompetisi  dengan teman-temannya baik dalam kancah pergaulan nasional maupun internasional, dengan kata lain bunuh diri di kalangan terpelajar menunjukkan potret pendidikan gagal.

Mengutip A.E. Wood (1982), mengatakan, tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh manusia tidak hanya terdorong  oleh naluri semata, akan tetapi juga dipicu oleh (1) tidak terpenuhinya pemenuhan kebutuhan dasar (basic need) dan kebutuhan sosial  (dereived need), (2) faktor transfomasi  sosial dari masyarakat (negara) agraris ke masyarakat (negara) industri.

Oleh karena itu bunuh diri di kalangan terpelajar itu mencerminkan kondisi sosial dan kebudayaan masyarakat Indonesia pada umumnya dalam menghadapi proses akulturasi yang berlangsung amat pesat dan luas jangkauannya. Walaupun masyarakat Indonesia, sebagaimana halnyadengan masyarakat manusia lainnya, mempunyai kemampuan untuk   menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan dalam arti luas, akantetapi perubahan yang berlangsung dalam tempo yang relatif singkat dan menjangkau hampir segenap sektor kehidupan, dapat menyebabkan masyarakat kehilangan akal sehat dalam menghadapinya.  
Dalam kondisi demikian, masyarakat dihadapkan pada tiga pilihan, yaitu bekerja keras untuk menanggulangi tantangan, melarikan diri dari kenyataan atau melakukan bunuh diri. Celakanya hanya sebagian kecil masyarakat yang, karena     kepekaannya melihat peluang, mampu menyesuaikan diri dan mengambil     manfaat. Sebagian besar warga masyarakat justru cenderung untuk     melarikan diri dari kenyataan atau bersikap masa bodoh. Sedang sebagian kecil warga yang tidak mempunyai banyak pilihan  justru melakukan  dengan bunuh diri sebagai sebuah pilihan.
   
Walaupun jumlah warga yang memilih tindakan bunuh diri sebagai protes     terhadap perubahan lingkungan yang kurang menguntungkan itu tidak     besar, namun dampaknya sangat luas. Masyarakat yang pada umumnya     tidak sanggup menghadapi berbagai tantangan, akhirnya terseret untuk ikut melakukan bunuh diri sebagai     pilihan untuk menghadapi tantangan ketika cara-cara konvensional tidak efektif lagi.
Tindakan bunuh diri nampaknya merebak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi selama masa pembangunan berorientasi pertumbuhan.     Pembangunan yang dititik beratkan pada bidang ekonomi itu telah meningkatkan kegiatan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan     dukungan pranata sosial yang menjamin keadilan sosial (social     justice), demokrasi politik (political democracy) dan kebebasan     budaya (cultural freedom).

Penerapan tekonologi maju yang mahal     beayanya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, telah memperkenalkan     nilai-nilai merkantil, materialistik dan kompetitif yang memacu     timbulnya persaingan. Akan tetapi persaingan tanpa aturan main yang     jelas akhirnya mengembangkan persaingan yang tidak sehat yang     merangsang tindakan bunuh diri, kembali menjadi model penyelesaian masalah.

Simptom Politik Kematian

Meminjam catatan, Marsel Robot (Kematian Yang Mempesona: Sebuah Hermeneutika Bunuh Diri, 2006), mengatakan   "Mereka tidak melakukan bunuh diri, mereka sedang membunuh negara atau tepatnya mereka dibunuh oleh realitas karena diyatimpiatukan oleh keadaan. Toh, kalau mereka bunuh diri, itu bukan untuk mati, tetapi itulah cara paling ekstrim untuk melampiaskan rasa frustrasi terhadap kemiskinan yang tak tertahankan. Atau cara tipikal rakyat Indonesia untuk melakukan balas dendam atas kesengsaraan sebagai rakyat Indonesia. Singkatnya, bunuh diri sebagai bentuk protes terhadap realitas yang dikonstruksi negara. Karena itu, Anda tidak mempunyai hak untuk menguburkan jenazah-jenazah mereka selain pemerintah atau utusannya."

Lebih lanjut Marcel Robot, mengatakan, dalam perspektif hermeneutika sosial, "bunuh diri" bukanlah sekedar happenings (kejadian belaka yang kadang acak), melainkan sebagai doings yakni perbuatan atau tindakan bertujuan. Bunuh diri, oleh karena itu, adalah tindakan sosial. Suatu tindakan yang direncanakan dan bertujuan, baik bagi si pelaku bunuh diri maupun orang lain. Dengan kata lain, bunuh diri merupakan simptom yang mengandung perihal unjuk rasa terhadap realitas. Sebagaimana pengemis dan pengamen di simpang jalan dapat dimaknai sebagai cara lain untuk meminta semangkuk keadilan dan sedekah harta dari kekayaan negara yang direguk secara angkuh oleh segelintir orang (koruptor).

Karena itu, apabila ditanya: mengapa seseorang bertindak bunuh diri? Mengapa tidak membunuh orang lain? Atau yang paling arif, mengapa tidak meminta wejangan seorang rohaniwan? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dirujuk pada pandangan sisiolog Brian Fay. Fay mengkatagorikan niat atau motif tindakan atas lower intentional level (tingkat atau derajat niat yang rendah) dan higher intentional level (derajat niat yang tinggi). Suatu tindakan sangat mungkin dimaknai dalam dua level tujuan sekaligus. Apa yang disebut lower intentional level ialah bahwa seseorang bunuh diri karena "kemiskinan". Realitas hidup seorang bernama rakyat Indonesia dikepung oleh bukan saja harga kebutuhan pokok naik, melainkan karena seluruh kebutuhan untuk hidup meningkat dan sulit dicapainya.
Dalam tindakan yang sama (bunuh diri) tersirat pula higher intentional level. Pemaknaan pada tingkat ini, bunuh diri merupkan meta-aksi. Artinya, seorang melakukan bunuh diri bukan untuk menghindari perjumpaan dengan realitas yang terus-terus menderanya, melainkan bunuh diri merupakan cara untuk mengucapkan makna tertentu kepada negara. Dalam konteks itulah seseorang dibunuh oleh realitas.

Bila pada lower intention level tindakan bunuh diri merupakan tujuan, maka pada higher intention level tindakan bunuh diri merupakan strategi atau metode pengucapan makna. Dengan begitu, tindakan bunuh diri bukanlah sebuah simptom "politik kematian", apalagi dikategorikan sebagai trend paling keren untuk menamatkan hidup di bumi, melainkan ia, si pembunuh diri adalah fundamentalist yang menolak perjumpaan dengan keadaan, atau menghindari secara radikal realitas penderitaan yang sengit dan pahit. Dan realitas yang dimaksud dikonstruksi oleh negara melalui politik pembangunan.

Penjelasan di atas dapat diperluas dalam ranah praksis dengan mengacu pada pandangan Johan Galtung. Galtung pernah mengatakan, pembangunan tidak lain adalah usaha penghapusan-penghapusan kesengsaraan, seperti perdamaian adalah penghapusan-penghapusan perang. Sedangkan bunuh diri merupakan jawaban ekstrim terhadap penderitaan. Dengan kata lain, apabila misalnya kebijakan pembangunan tidak sanggup mensejahterakan, apalagi kalau terjadi sebaliknya (menyebabkan rakyat semakin menderita), maka sesungguhnya telah terjadi tindakan represi atau tindakan kekerasan oleh negara terhadap rakyatnya. Kekerasan jenis ini oleh Galtung dikategorikan seagai kekerasan struktural.

Inti kekerasan struktural adalah eksploitasi. Dalam konsep Galtung eksploitasi diartikan sebagai cara mendistribusikan kekayaan secara tidak adil. Beberapa orang yang berada di puncak (topdog) mendapatkan lebih banyak distribusi kekayaan daripada sebagain besar orang di bawah (underdog) terlunta. Dan yang paling sial ialah apabila pihak underdog dirugikan terus-menerus hingga mereka kekurangan makanan, penyakitan, lalu mati atau mematikan diri (bunuh diri).
Tentu terlalu naif untuk begitu saja memparalelkan penjelasan Galtung dengan perangai pemerintah Indonesia yang korup. Namun, realitas kemelaratan rakyat tidak bisa dipandang sebagai sisi lain atau tidak inheren dengan tugas pemerintah.Lantas bunuh diri hanya dipahami sebagai happenings. Betapapun penderitaan rakyat produk tindakan kekerasan atau bentuk penganiayaan terhadap terhadap kehidupan rakyat.

Pada pihak lain, ironi sosial sepanjang jalan pembangunan tidak pernah redah. Korupsi di kalangan topdog merimbun di mana-mana, sedangkan kemeratan di kalangan underdog terdapat di mana-mana. Kalangan topdog asyik mementaskan kamuflase semacam gerakan "kejarlah daku kau ‘kan kutangkap" di mana koruptor dibebaskan, bahkan berlenggang anggun di atas karpet merah menuju istana, sedangkan di kalangan underdog terjadi eskalasi bunuh diri.
Rakyat Indonesia bagai burung audan di tepi jurang yang hanya hidup untuk mengenal sedih dan derita. Lantas ada yang menolak keadaan itu dengan membunuh diri. Sebilah pisau atau seutas tali gantung diurapi dengan teologi Jawa: "toh hidup ini hanya sekadar tempat singgah minum air. "Sebab, segala kesibukan kita "hanya menunda kekalahan", kata penyair Chairil Anwar. Namun, bunuh diri karena kemiskinan adalah sebuah simptom yang mewartakan kematian nurani bangsa, isyarat lenyapnya kesadaran akan kemanusiaan yang adil dan beradab.
Simpton politik kematian yang dilakukan oleh manusia karena tidak terpenuhinya pemenuhan kebutuhan dasar (basic need) dan kebutuhan sosial  (dereived need), dan menguatnya transfomasi  sosial dari masyarakat (negara) agraris ke masyarakat (negara) industri, kemudian menuju ke masyarakat informasi. Oleh sebab itu negara harus bertanggungjawab atas politik kematian ini.


Ben Senang Galus, penulis buku Transformasi Ideologi, Menyingkap Ideologi dan Developmentalisme, tinggal di Yogyakarta.

COMMENTS

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Agraria,1,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,3,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,230,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,5,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,43,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,144,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,45,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,4,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,244,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,1,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,143,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,56,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,39,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,86,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,5,Novanto,1,Novel,15,NTT,117,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,344,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,24,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,88,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,864,Peritiwa,2,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,PP PMKRI,1,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,65,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,6,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Bunuh Diri dan Simpton Politik Kematian
Bunuh Diri dan Simpton Politik Kematian
https://2.bp.blogspot.com/-DEt1bRb-i6s/W5ceYM7Zw8I/AAAAAAAACdY/ZMxQ8_dF5vgZ8UWwY7jdW4Jfw1H3YWB-QCLcBGAs/s320/IMG-20180331-WA0012.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-DEt1bRb-i6s/W5ceYM7Zw8I/AAAAAAAACdY/ZMxQ8_dF5vgZ8UWwY7jdW4Jfw1H3YWB-QCLcBGAs/s72-c/IMG-20180331-WA0012.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/09/bunuh-diri-dan-simpton-politik-kematian.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/09/bunuh-diri-dan-simpton-politik-kematian.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy