Blunder Paling Fatal dan Pertanyaan Para Pemikir di Era Big Data

Tetapi, tidak masalah. Ambil hikmahnya saja, pesan moral yang saya dapat dari ulah kedua teman itu adalah "penting sekali menguasai bahasa inggris, biar tidak meringis macam habis diketok linggis" (Foto: Dok. Pribadi).
Beberapa waktu terakhir banyak orang berbicara tentang big data. Sebuah fenomena yang katanya menjadikan manusia di muka bumi seperti tengah kembali berada pada zaman Nabi Nuh. Ada "air bah informasi" yang menenggelamkan segala sesuatu di bumi ini tanpa ampun.

Namun, dalam beberapa diskusi yang diikuti penulis selama ini belum ada informasi detail soal definisi big data itu sendiri sampai kemudian kita berani mengambil kesimpulan bahwa era big data akan menghancurkan umat manusia.

Beberapa orang kawan pernah sekali waktu menyodorkan kepada saya definisi Big Data yang dia kutip dari Wikipedia. Disitu dijelaskan bahwa:

"Big data is a broad term for data sets so large or complex that traditional data processing applications are inadequate. Challenges include analysis, capture, data curation, search, sharing, storage, transfer, visualization, and information privacy.”

Entah apa artinya, saya juga bingung. Dalam keadaan bingung seperti itu seorang kawan justru mengutip definisi big data dari sumber lain lagi yang dia bilang sumbernya dari Gartner yang bunyinya kira-kira begini:

"Big data is high-volume, high-velocity and high-variety information assets that demand cost-effective, innovative forms of information processing for enhanced insight and decision making.”

Saya seperti tengah mengamini pepatah yang bunyinya, "sudah jatuh, tertimpa tangga pula!". Bagaimana tidak, belum selesai saya mencari terjemahan definisi Big Data dari Wikipedia yang pertama di google translate malah disodorkan definisi lain yang memakai bahasa asing juga.

Tetapi, tidak masalah. Ambil hikmahnya saja, pesan moral yang saya dapat dari ulah kedua teman itu adalah "penting sekali menguasai bahasa inggris, biar tidak meringis macam habis diketok linggis".

Lalu apa itu big data?

Menurut Teradata dan Hortonworks, big data adalah gerakan atau inisiatif organisasi-organisasi untuk mengambil, menyimpan, memroses, dan menganalisa data-data yang sebelumnya tidak memungkinkan atau tidak ekonomis untuk diambil, disimpan, diproses, dan dianalisa.

Definisi ini menurut saya lebih sederhana dan lebih akurat. Karena perlu diingat bahwa Big Data bukanlah sebuah teknologi, teknik, maupun inisiatif yang berdiri sendiri.

Big Data adalah suatu trend yang mencakup area yang luas dalam dunia bisnis dan teknologi. Big Data menunjuk pada teknologi dan inisiatif yang melibatkan data yang begitu beragam, cepat berubah, atau berukuran super besar sehingga terlalu sulit bagi teknologi, keahlian, maupun infrastruktur konvensional untuk dapat menanganinya secara efektif.

Dengan kata lain, big data memiliki ukuran (volume), kecepatan (velocity), atau ragam (variety) yang terlalu ekstrim untuk dikelola dengan teknik konvensional.

Dengan definisi seperti itu, kita sebagai subjek sekaligus objek big data harus pandai menentukan standing position untuk kemudian memaknai kehadirannya sebagai sesuatu yang bernilai positif atau negatif.

Sebelum sampai kesitu, saya ingin mengajak kita untuk merenungkan bersama pertanyaan sejumlah pemikir internet beberapa tahun lalu tentang big data seperti Danah boyd, Senior Researcher at Microsoft Research, Research Assistant Professor at New York University dan Fellow di Harvard's Berkman Center for Internet & Society, serta Kate Crawford yang adalah seorang Associate Professor di the University of New South Wales, Sydney dan Principal Researcher di Microsoft Research New England. 

Kutipan pertanyaan mereka adalah seperti berikut ini:

"Era Big Data telah dimulai. ilmuwan komputer, fisikawan, ekonom, ahli matematika, ilmuwan politik, bio-informaticists, sosiolog, dan ulama lainnya berteriak-teriak untuk bisa mengakses pada informasi yang lebih luas. Data ini mereka dapat dari orang, benda, dan interaksi mereka. 

Beragam kelompok kemudian berdebat tentang potensi, manfaat dan biaya dari analisis informasi ini, interaksi sosial media, catatan kesehatan, log telepon, catatan pemerintah, dan jejak digital lainnya yang ditinggalkan oleh orang. 

Pertanyaan yang signifikan yang kemudian muncul adalah: apakah data yang jumlahnya besar-besaran ini akan membantu kita menciptakan alat yang lebih baik, layanan bagi publik yang lebih baik? Atau hanya akan mengantar kita pada gelombang baru serangan privasi atau serangan secara personal dan hanya memperbesar invasi-invasi dalam bidang pemasaran yang dilakukan perusahaan? 

Apakah data analytics ini akan membantu kita memahami komunitas online dalam sebuah gerakan politik? Atau justru akan digunakan untuk melacak para aktivis, para demonstran dan menekan aktivitas-aktivitas mereka?

Pertanyaan berikutnya adalah: apakah banjir komunikasi dan data ini akan mengubah cara kita mempelajari komunikasi dan budaya manusia, atau malah mempersempit pandangan kita? Apa sebenarnya kegunaan big data ini untuk penelitian bagi publik?”


Mengingat munculnya Big Data sebagai fenomena sosio-teknis, maka kemudian mereka berpendapat bahwa perlu untuk secara kritis menginterogasi asumsi dan bias dari banjirnya data melalui internet. (Critical question for big data, Provocations for a cultural, technological, and scholarly phenomenon., Routledge, volume 5, 2012)

Definisi dan pertanyaan tentang fenomena kehadiran big data tersebut di atas merupakan sebuah pembuka atas apa yang hendak penulis bahas dalam artikel kali ini. Beberapa waktu terakhir kita dihadapkan pada beberapa persitiwa yang tidak sedap didengar di telinga.

Salah satunya adalah soal video berdurasi 30 detik yang mempertontonkan seorang wanita paruh baya dari sebuah wilayah di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur tengah secara vulgar membicarakan sesuatu yang menurut sebagian orang merupakan hal tabu untuk diperdengarkan kepada masyarakat luas.

Secara harafiah, isi pembicaraan wanita yang tidak diketahui identitasnya itu menjelaskan betapa dia sebagai manusia normal tidak bisa menahan gejolak kebutuhan biologisnya selama suaminya merantau ke Malaysia membuat dia menerima laki-laki lain yang berbuntut pada permintaan klarifikasi dari keluarga suami sahnya soal pilihan wanita tersebut.

Secara umum, isi pembicaraan wanita tersebut bukanlah masalah berarti ketika dia mengutarakannya pada ruang privat keluarga mereka dalam acara sesuai dengan adat masyarakat setempat. Namun, menjadi masalah besar ketika ada oknum yang merekam ranah privat keluarga itu dengan gadget lalu menyebarkannya ke media sosial membuat sesuatu yang sebelumnya lumrah menimbulkan bias persepsi pengguna media sosial.

Disinilah duduk persoalan dalam beberapa pertanyaan pemikir internet soal fenomena Big Data tadi. Kekeliruan memahami dan memaknai era Big Data membuat banyak masyarakat kita melakukan "blunder" paling fatal yang kemudian berbenturan dengan nilai moral lingkungan tempat tinggal kita.

Mirisnya, blunder ini justru merugikan korban atau objek dalam video tersebut. Maka muncullah diskriminasi dari pengguna atau penikmat fenomena Big Data di media sosial. Banyak warga jagat maya menghujat dan mengutuk wanita dalam video yang viral itu.

Semua hadir sebagai pengadil. Sebuah pertanda bahwa kita tengah berada di zaman post truth. Ikut nimbrung dalam hal-hal seperti itu semacam menjadi sebuah kebanggaan. Tidak ada nilai edukasi dari keuntungan fenomena Big Data yang tengah kita nikmati saat ini. Liar dan brutal.

Oleh karena itu, bagi penulis untuk mengatasi persoalan-persoalan seperti itu tidak cukup hanya dengan perbanyak literasi media atau membuat kebijakan hukum tertentu untuk mengarahkan kita menjadi lebih bijak. Perlu sesuatu terobosan baru yang melibatkan banyak pihak dalam mengatasi persoalan begitu kompleks ini.

Salah satu poin penting yang penulis tawarkan adalah pemahaman tentang sebab dan akibat dari setiap tindakan kita dalam hal apapun. Seni memahami seperti ini akan membuat kita juga memiliki perhatian besar terhadap eksistensi diri sebagai pribadi yang hidup dengan orang lain.

Dengan lebih banyak melakukan pertimbangan, kita akan semakin matang dan dewasa mengambil keputusan. Jika kita tidak bisa berbuat sesuatu yang berguna untuk orang lain, minimal jangan membuat mereka kesusahan.

Sekali lagi fenomena Big Data sudah tiba. Mari merenungkan kembali pertanyaan-pertanyaan para pemikir tadi. Salam..

Oleh: Andi Andur

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,203,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,402,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1039,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,48,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Blunder Paling Fatal dan Pertanyaan Para Pemikir di Era Big Data
Blunder Paling Fatal dan Pertanyaan Para Pemikir di Era Big Data
https://2.bp.blogspot.com/-s1bA1zQheYg/W5Dad9x40AI/AAAAAAAADoA/-3vVcXifxZEmPY_pSG8d_HWCSps1IlC1gCLcBGAs/s320/unnamed.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-s1bA1zQheYg/W5Dad9x40AI/AAAAAAAADoA/-3vVcXifxZEmPY_pSG8d_HWCSps1IlC1gCLcBGAs/s72-c/unnamed.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/09/blunder-paling-fatal-dan-pertanyaan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/09/blunder-paling-fatal-dan-pertanyaan.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy