Bangun Rumah Baru, Umat Hindu Bali Gelar Upacara Melaspas
Cari Berita

Bangun Rumah Baru, Umat Hindu Bali Gelar Upacara Melaspas

MARJIN NEWS
12 September 2018

Foto: Istimewa
Denpasar, Marjinnews.com -- Dalam agama Hindu di Bali pada khususnya, ada banyak tradisi yang sudah diwariskan turun-temurun.

Seperti halnya tradisi ketika selesai membangun rumah diadakannya upacara melaspas.

Melaspas dalam bahasa Bali memiliki arti Mlas artinya Pisah dan Pas artinyany Cocok, penjabaran arti Melaspas yaitu sebuah bangunan dibuat terdiri dari unsur yang berbeda ada kayu ada pula tanah(bata) dan batu, kemudian disatukan terbentuklah bangunan yang layak(cocok) untuk ditempati.

Seperti yang dilakukan oleh keluarga I Gede Herman Lew Wardiasa di kompleks Perumahan Puri Gading, Jimbaran, Kuta Selatan pada Rabu (12/9). Bersama keluarga besarnya mereka menggelar upacar mlaspas ini.

Untuk diketahui, upacara melaspas bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan benda ataupun bangunan baru secara niskala sebelum digunakan atau ditempati.

Upacara Melaspas juga dilakukan dengan tujuan agar terciptanya ketenangan dan kedamaian bagi anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut terhindar dari hal-hal yang tidak diiginkan.

Upacara melaspas ini dipimpin oleh seorang pedanda atau pendeta Hindu dibantu beberapa orang pemangku agama tersebut.

Dalam menjalankan ritual ini, warga menggunakan sesajen melaspas yang terdiri dari rangkaian janur, bunga, buah, kue dan aneka bahan sarana upacara lainnya.

Ada beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam upacara melaspas. Seperti ngayaban caru atau mengantarkan sesajen. Hingga ritual ngayaban pamlaspas yang bertujuan mendoakan agar bangunan bisa memberi manfaat positif bagi yang menggunakan atau menempatinya.

Upacara melaspas ini terdiri dari 3 tingkatan yaitu kanista, madya dan tingkatan paling tinggi atau megah yang disebut utama.

Ritual ini merupakan bentuk ketaatan dan kepercayaan umat Hindu di Bali terhadap kekuatan yang maha menguasai semesta. Tradisi warisan leluhur ini sudah dilaksanakan turun-temurun selama ratusan tahun. (*)

Editor: Remigius Nahal