Balasan Ayuni
Cari Berita

Balasan Ayuni

MARJIN NEWS
4 September 2018

Foto: Ilustrasi

Wandi yang baik..
Surat-surat yang engkau kirim sudah kuterima, ku kira semuanya telah ku baca dan sangat menarik untuk dijadikan dongeng sebelum tidur. Telah kuterima juga sepasang mata yang engkau berikan kepadaku. Masih berdarah dan segar. Kadang ketika malam aku sengaja menempatkannya di dalam lemari agar matamu itu tak sibuk memata-mataiku.

Wandy apakah kamu tahu, mata yang engkau kirimkan itu telah membawa cinta yang sesungguhnya pada kehidupanku. Surat yang engaku krimkan telah menjadi kado pernikahanku yang diberikan oleh suamiku. Rupa-rupanya engkau telah salah memilih teman. Temanmu yang engkau tugasi unttuk membawakan surat untukku ternyata menyimpan perasaan cinta kepadaku.

Semua suratmu tak pernah ia berikan. Ia sembunyikan di alam yang tak bisa engkau jangkau. Aku yakin kamu selalu berharap aku akan membalas suratmu itu. Wandi hidup tak seperti keyakinanmu yang dangkal itu. Aku baru membaca suratmu saat malam pertama dan cerita-cerita yang engkau tulis telah menjadi dongengku dan suamiku sebelum tidur.

Wandi yang bodoh.
Sebodoh itukan dirimu hingga engkau tak tahu bahwa cintamu telah di curi sahabatmu. Dan mata yang engkau kirimkan adalah mata yang paling tak aku inginkan kahadirannya. Mata bodoh yang tak pernah diinginkan manusia. Mata yang terlalu polos melihat dan mencintai wanita.

Surat-surat yang engkau kirimkan rupanya membawa rasa penasaran pada sahabtmu itu. Dia menemuiku dan memberi cinta yang sesungguhnya. Tidak seperti cintamu dan tulisan-tulisan yang tak bisa membuatku kenyang.

Wandi yang bodoh, tolol dan malang
Hidup ini bukan hanya soal imajinasi. Engkau lebih suka hidup dalam duniamu dan khayalanmu sampai engkau lupa hidup tidak seromantis seperti yang engkau pikirkan. Aku tak suka berkhayal sepertimu. Aku mau yang sesungguhnya nyata bukan lakon yang engkau ciptakan dalan kepalamu.

Siapa yang tahu isi kepalamu? Hanya dirimu Wandi dan itu adalah celaka untuk hidupmu.

Wandi, engkau terlalu polos untuk dimanfaatkan. Temanmu yang kau percayakan untuk mengirimkan surat kepadaku nyatanya telah berkhianat dan merebut cintamu. Apakah kamu berpikir tantang hal itu. Ku rasa tidak, engkau hanya berkhayal soal cinta dan kastil kecilmu diperairan dangkal. Kaslil yang akan kau bangung jika telah menikan denganku. Bukankan itu impianmu. Ya itu impianmu dan aku tak suka hidup dalam impianmu yang aneh itu.

Ayolah Wandi bangun dari tidurmu, mimpimu akan tetap menjadi mimpi selama engkau memimpikannya. Berhentilah mencintaiku, aku telah bersuami dan suamiku adalah sahabatmu. Aku tidak pernah mencintaimu . Aku hanya kasihan kepadamu yang dibutakan oleh cinta. Cintamu kepadaku terlalu besar Wandi tetapi sayang aku hanya meliahtmu sebagai orang aneh yang terjebak dalam dunia yang engkau bangun sendiri.

Hidup ini Wandi jangan melulu soal cinta, jangan percaya kata-kata cinta, kata-kata tak akan memberiku sesuap nasi, aku tak bisa kenyang dari kumpulan huruf-hurufmu. Lihat sahabatmu dia telah memberikan segalanya untuk kehidupanku dan anak-anakku.

Wandi yang paling malang
Ku akhiri surat ini, akan ku lipat menjadi pesawat kertas  dan kuterbangkan bersama angin yang sepoi ini. semoga saja surat ini sampai ke tanganmu dan jika memang tidak pernah sampai aku hanya menitip pesan kepada siapapun yang membaca surat ini nanti. Semoga kesaksianku ini akan memberi pelajaran yang berharaga tentang cinta. Dan untuk Wandi berhentilah mencintai wanita yang tak pernah mencintaimu.

Selamat berpisah Wandi yang bodoh

Ayuni
Ruteng, 2018

Oleh: Klaudius Marsianus Juwandy
Penulis adalah Mahasiswa angkatan pertama Prodi PBSI STKIP St. Paulus, Ruteng