Aku, Selepas Kepergianmu
Cari Berita

Aku, Selepas Kepergianmu

22 September 2018

Bahkan kita tidak pernah mempersoalkan jarak yang membentang diantara kita. Semuanya dijalani dengan layar 5 inc, kita bergantung pada kuota internet, pada handphone dan dalam heningnya doa. Tapi semua begitu bahagia. (Gambar: Ilustrasi)


"Adakah tempat yang paling sepi selain hati yang remuk ditinggal pergi?" Sekian menit aku terdiam setelah mendapati kalimat itu pada sebuah novel tulisan Boy Candra. Pikiranku melayang jauh sampai pada hari saat kamu harus pergi dari rumah pelukan yang sejak lama kita bangun atas nama cinta.

Tidak tau kenapa, kamu selalu saja muncul dalam benak jika aku mendapati sesuatu yang ada hubunganya dengan kamu atau hubungan kita kala itu. Aku juga bingung, merindukanmu itu candu, mau tidak mau harus rindu.

Kalau diingat ingat, kita dulu bahagia ya? Kita dengan bangga bercerita tentang kita dan kehidupan kita masing-masing. 
Malam sebelum tidur, kita dengan bangga menertawakan orang-orang aneh yang kita jumpai seharian. Kita dengan bangga menceritakan bagaimana kita menjalanni hari kita. Pagi setelah siuman, kita menceritakan mimpi malam masing-masing. 
Bahkan kita tidak pernah mempersoalkan jarak yang membentang diantara kita. Semuanya dijalani dengan layar 5 inc, kita bergantung pada kuota internet, pada handphone dan dalam heningnya doa. Tapi semua begitu bahagia. 

Kamu tahu, andai saja malam, senja, pagi dan alam semesta bisa bicara mungkin mereka demo masal didepan kamarku. Ia, karena tak sedikitpun kesempatan bagiku untuk sekedar mengagumi mereka. Padalah sebelum manusia, mereka yang diciptakan pertama kali oleh tuhan. Tapi aku tetap pada pendirian bahwa kamu adalah keindahan dan berkat tuhan sesungguhnya. Hehehehh 

Kalau aku ingat kembali, saat itu adalah saat yang paling aku syukuri. Bertengkar dengan kamu, cerita dengan kamu, bahagia dengan kamu, sedihpun dengan kamu. Menurutmu apakah aku ada alasan untuk mencintai orang lain selain kamu? Entalah. 

Sekarang, setelah semuanya usai. Untuk sekedar menanyakan kabar saja kita begitu canggung, apalagi untuk candaan seperti dulu. Selepas kepergianmu, semua jadi beda. Kita seprti dua orang asing yang baru kenal dua detik lalu. Kita sibuk dengan urusan masing-masing, kamu dengan bahagiamu dan aku dengan kepura puraanku. 

Andai saja kamu tahu, orang-orang yang datang menggantikanmu tak satupun yang mampu menjadi kamu. Kamu itu sungguh beda, sampai hari ini dan kapanpun itu. Sekarang, aku harus melepasmu dengan ketidakrelaan, sungguh. 
Kisahku seperti yang dicurahkan Armada Band dalam lagu "Asal Kau Bahagia" miliknya. Ragaku bersama mereka, tapi hatiku masih pada kamu. Ah, aku cukup sulit menjelaskannya. Yang jelas sampai saat ini, aku menunggu kepulanganmu. 

Jika kamu penasaran dengan kabarku, bertanyalah pada orang-orang yang ditinggal oleh orang yang paling mereka cinta. Jika kamu penasaran dengan perasaanku, lihatlah rumah yang ambruk karena gempa. Persis, hancur berantakan. 

Sudahlah, aku pikir kamu tidak penasaran dengan semua itu. 
Aku tahu, banyak pria yang dengan perasaanya masing-masing mendekatimu. 
Yang aku percaya, cinta itu cuma satu. Seperti aku yang hanya tumbuh untukmu. Semoga begitu juga sebaliknya, jika tidak, aku juga sudah siap remuk melihatmu mencintai dan bahagia dengan orang lain, aku sudah terbiasa dengan pura-pura bahagia. 
Jika suatu saat kamu disakiti, pulanglah padaku. Akan kusediakan tempat paling nyaman untuk keteduhanmu. Bahagiamu hal terpenting bagiku, setelah masa depan kita. 

Oh iya, sudah dulu ya. 
Aku melanjutkan novel yang sudah terlanjur aku baca. Yang jelas, Harapku masih sama, semoga kamu baik-baik saja. Aku yakinkan itu dalam doa setiap hariku. Aku mencintaimu, sampai aku lupa caranya jatuh cinta lagi. 
Terimakasih sudah mengajariku caranya mencintai dengan benar, sampai aku benar-benar mencintaimu.
Sekali lagi, aku mencintaimu dan menunggumu pulang.*



PenaBiru