Aku Memilih Persatuan
Cari Berita

Aku Memilih Persatuan

MARJIN NEWS
25 September 2018

Anggota Muda Pmkri Cabang Kupang. (Foto: Istimewa)
Tanganku telah memilih
Memberi acungan paling tulus perihal persaudaraan paling satu

Dalam judul yang kita kibarkan lewat Merah putih kebanggaan
Dengan beribu pikir yang menyulam ukir

Kita mengikrarkan setia pada negeri lewat Sumpah pemuda
Meski jurang biru membentang piatu antar aku

Kau dan aku kita tak mengeluh
 Sebab peluh yang kita tumpahkan tak malu untuk berbagi

Lolongan beribu antar di pagi tangkas di hari terik

Dan di senja yang amat lindap adalah bukti

Bahwa satu selimut yang kita bentang
Tak akan pernah kusut apalagi terpotong oleh tangan-tangan pemisa

 Jika Bhineka Tunggal Ika yang kita miliki

Adalah benang persaudaraan yang paling tulus

Maka kita juga akan menyulam itu menjadi selimut

Bermotif asli dengan sulaman silaturahmi yang tak rapuh Sebab kita tak malu-malu untuk membentangkannya.

Di bawah dopi-dopi kerukunan
Kita memilih untuk tidak berkemas

Sebab kita adalah NKRI yang tidak akan pernah goyah
Dari Sabang sampai Merauke

 IBU
(Sebuah Perihal pengorbanan)

Kau memberikan apa yang bagiku berarti

Mampumu adalah tungku harapan bagi dunia

Yang tak pernah mengerti tentang artimu hadir dari Khalik.

Kupanggil namamu pertiwiku tentang apa yang sesungguhnya kami butuhkan

Apa yang murni kami perlukan
Apa yang sejati kami dambakan
Pertiwiku

Pada sayup jalan tak berpenghabisan
Aku merindukan piatumu menjadi tak tumpul lagi

Kumau manusia tak lagi menjarahmu
Sampai kau tak bermampu
Kami memang begini

Tahu menjarah
tak tahu merawat

Aku mempiatukan  harapan kami
Sebab anak yang akan kau lahirkan pastilah prematur sebab ayah tak pernah tahu

Bagaimana menaklukan sendu pada ziarah kami bersamamu.

Pertiwiku

Aku mau hidup bersama kehangatan dan naungan sejuk darimu
Kami masih begini dan kau tetap begitu

Memberikan kesejukan nyaman pada alas keramaian

PERAMU MASA DEPAN

Kami mengikat pikir pada tabirmu
Meletakan keluh tak tahu pada jendela kusam kusut

Kau temukan waktu berjalan di pematang tualang

Kami ini hitam pada rindu,sulaman pada fajar dan temu pada hari.

Kami tak punya sulaman arti untuk mengeringkan basah Pada wajah berharap bintang

Bila wajah banyak keluh
Kami tetap beri sesal

Kita telah berpetualang bersama
Di bilik santun dengan segala hiruk pikuk akal

Keluhmu tak kenal sesal
Pilumu tak kenal malu sebab kau memberi bintang ke langit

Menciptakan fajar pada pagi hari dan akhirnya meletakan kasut pada gantung.

"Berilah kasutmu. Biar kami dapat berjalan pada kerikil dunia paling piatu. "
"Pergilah, aku telah memberi sutera untukmu

Sebab kasut  adalah aku dan sutera adalah tuju."

Kupang, 25 September 2018