27 Negara Hadiri Pertemuan FARO Ke 3 di Bali, Bahas Penggunaan Alat Radiologi Canggih Terapi Kanker
Cari Berita

27 Negara Hadiri Pertemuan FARO Ke 3 di Bali, Bahas Penggunaan Alat Radiologi Canggih Terapi Kanker

MARJIN NEWS
7 September 2018

Foto: MarjinNews
Badung, Marjinnews.com -- Federation of Asian Organizations for Radiation Oncology (FARO) Annual Meeting yang ketiga, berlangsung di Nusa Dua Convention Centre, Badung, Bali, 6-8 September 2018. Pertemuan ini dibuka secara resmi oleh Ketua DPRD Provinsi Bali I Nyoman Adi Wiryatama, SSos, MSi, Kamis (6/9/2018).

Pertemuan FARO ini dikuti sekitar 600 peserta dari 27 negara. Pertemuan para ahli Onkologi Radiasi Asia ini membahas berbagai isu yang berkaitan dengan penggunaan alat radiologi canggih dalam terapi kanker dan mengurangi efek radiasi.

Dalam keterangannya di sela-sela pembukaan pertemuan tersebut, Presiden FARO Prof Dr Soehartati Argadikoesoema Gondhowiardjo, MD, PhD, mengatakan, mengingat terapi kanker itu memakai sinar, sementara sinar yang sifatnya tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa tetapi memiliki efek radiasi jangka panjang, maka penggunaannya diawasi secara ketat.

Itu sebabnya, pertemuan FARO kali ini sangat penting dalam upaya mencari solusi yang tepat dalam penanganan kanker dengan terapi sinar dengan efek radiasi yang minim.

Prof Soehartati menambahkan, peralatan dunia kedokteran saat ini semakin canggih dengan adanya radioterapi yang dapat mengurangi keluhan pasien yang menjalani kemoterapi.

“Peralatan kedokteran berunsur nuklir berupa radioterapi itu dapat mengurangi keluhan pasien saat menjalani kemoterapi dan kecanggihan alat tersebut dapat menyasar pada target pemulihan yang ditentukan,” ucapnya.

Dijelaskan, peralatan radioterapi saat ini sudah berkembang di negara-negara Eropa, termasuk juga di Asia. Oleh karena itu, perkembangan peralatan kedokteran tersebut hendaknya bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam upaya menolong penderita kanker.

“Kerja dari peralatan ini cukup canggih, karena sistemnya seperti menggunakan ‘scanner’ berputar, dan dapat mendeteksi dengan sinar sesuai dengan target sasaran,” ujar Prof Soehartati.

Ketua Program Penanggulangan Kanker Nasional ini juga menyebut, dengan peralatan teknologi yang canggih tersebut, mampu melakukan radioterapi sampai di tempat yang sangat sulit, dan tidak sampai merusak sel-sel yang lain.

“Walau peralatan kedokteran itu menggunakan sistem radioterapi yang berunsur nuklir, namun pengawasan juga tetap dilakukan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nasional (Bapetan) dan Kementerian kesehatan,” tuturnya.

Prof Soehartati juga menjelaskan, untuk kemoterapi bagi penderita kanker yang menggunakan peralatan kedokteran radioterapi canggih di Indonesia, baru ada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.(*)