Wow, Dugaan Mahar Politik Sandiaga Disebut Masuk Ranah Korupsi
Cari Berita

Wow, Dugaan Mahar Politik Sandiaga Disebut Masuk Ranah Korupsi

MARJIN NEWS
14 August 2018

Hal itu diungkap berdasarkan laporan yang dilakukan oleh Koordinator Masyarakat Bersih dan Pemuda Lisman Hasibuan. (Foto: Ist)
Jakarta, Marjinnews.com --Dugaan mahar politik yang dilakukan oleh calon Wakil Presiden (Wapres) Sandiaga Uno seperti yang disebutkan oleh Wasekjen Partai Demokrat Andi Arif masuk dalam ranah Tindak Pidana Korupsi.

Hal itu diungkap berdasarkan laporan yang dilakukan oleh Koordinator Masyarakat Bersih dan Pemuda Lisman Hasibuan.

Dari laporannya itu, Koordinator Masyarakat Bersih dan Pemuda Lisman Hasibuan mengklaim laporannya masuk ranah tindak pidana korupsi (tipikor).

"Bukti kami sudah siapkan tergantung nanti dari kepolisian, ya, kita akan konsultasi kembali. Buktinya salah satunya, ya, Tweet-nya Andi Arief," ujar Lisman di Polda Metro Jaya pada Senin (13/8).

Sandi dilaporkan atas dugaan korupsi karena diduga membawa dan memberikan uang dengan total Rp1 triliun untuk dua partai pengusung Prabowo Subianto agar dirinya diterima sebagai cawapres.

Lisman mengungkap bahwa barang bukti yang disodorkan salah satunya adalah cuitan Andi Arief pada Rabu (8/8). Menurut Lisman, cuitan itu bukan opini pribadi, tetapi fakta yang harus ditelusuri. Seharusnya, kata dia, kasus ini diproses oleh KPK.

Sebab, uang itu tidak bisa disebut sebagai uang untuk dana kampanye Pilpres 2019 karena Sandi saat itu belum dipastikan akan mendampingi Prabowo sebagai cawapres.

"Kenapa KPK diam saja melihat ini? Seharusnya kan KPK bisa bertindak dengan cepat sesuai dengan perkembangan informasi yang ada di publik. Mahar Rp500 miliar itu kan kalau ditotal jadi Rp1 triliun. Buktinya ada di salah satu tweet Andi Arief," tuturnya.

Jenderal Kardus punya kualitas buruk, kemarin sore bertemu Ketum Demokrat dengan janji manis perjuangan. Belum dua puluh empat jam mentalnya jatuh ditubruk uang sandi uno untuk mengentertain PAN dan PKS.

"Jadi ngapain KPK OTT terus, sementara kasus yang ini jelas-jelas Rp1 triliun. KPK harusnya proaktif dong, jangan hanya diam-diam saja melihat hal ini," imbuh dia.

Usai melapor, Lisman mengaku delik yang dikenakan dalam kasus itu ialah korupsi. Pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait diklaim akan mulai dilakukan pada pekan depan.

"Alhamdulillah kita disambut baik oleh Polda Metro Jaya ini akan masuk ke ranah tipikor. Insyaallah minggu depan sudah ada yang dipanggil," ujar dia, tanpa menunjukkan bukti laporannya.

Lisman berharap penyelidikan kasus ini oleh kepolisian bisa memperjelas asal-usul uang Rp1 triliun itu. Tujuannya, agar tak ada fitnah yang beredar di masyarakat mengenai mahar politik.

"Kami berharap Polri bisa menyelesaikan kasus ini supaya tidak menimbulkan fitnah atau berita hoaks. Kalau ini hoaks berarti Andi siap dipenjara," kata dia.

"Kalau bukan hoaks berarti kita kembalikan pada penegak hukum Tipikor untuk menghukum pejabat publik maupun penerima anggaran Rp500 M," pungkasnya.

Polda Metro Jaya sendiri belum berkomentar terkait laporan soal mahar politik itu.

Sebelumnya, politikus Partai Demokrat Andi Arief mencuitkan ejekan 'Jenderal Kardus' kepada Prabowo Subianto. Sebab, ia lebih memilih Sandi sebagai cawapres karena mampu membeli suara PAN dan PKS dengan nilai mahar masing-masing Rp500 miliar.

Sandi sebelumnya telah merespons isu ini dengan menyebutnya sebagai bagian dari dinamika kampanye. Sandi mengatakan yang terpenting setelah deklarasi pencapresan Prabowo dan dirinya adalah menyatukan seluruh kekuatan partai pendukung.

"Itu dinamika yang harus kita syukuri, sekarang Demokrat sudah bergabung dan kita sama-sama ingin united we stand," kata Sandi di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (11/8). (*)