Upaya "Hambor" Dalam Kasus Rensi Ambang VS Eki Pada Kacamata Yustina Ndung
Cari Berita

Upaya "Hambor" Dalam Kasus Rensi Ambang VS Eki Pada Kacamata Yustina Ndung

MARJIN NEWS
30 August 2018

Foto: Istimewa
Editorial, Marjinnews.com -- Polemik berkepanjangan antara musisi Rensi Ambang dengan Pria asal Manggarai Barat terus menyedot perhatian publik Manggarai Raya.

Upaya untuk mendesak aparat penegak hukum untuk segera menangkap Rensi Ambang dan ditetapkan menjadi tersangka karena diduga melakukan tindakan Persekusi terhadap Eki (27) beberapa waktu lalu muncul dari praktisi hukum Edi Hardum.

Dalam berita MarjinNews, edisi Kamis (30/8) yang berjudul Polisi Segera tetapkan  Rensi Ambang dan Semua yang Terlibat Jadi Tersangka, muncul komentar yang menarik dari salah satu netizen.

Dalam berita tersebut, Edi Hardum mendesak Polres Manggarai untuk menangkap RA. Edi Hardum mengulas dari segi kronologis awal mula peristiwa persekusian itu. Mulai dari permintaan maaf yang dilakukan Eki, hingga merespons saling lapor melapor antara kedua belah pihak ke polisi serta sangkaan pasal yang akan dipidanakan.

Dalam pemberitaan tersebut Edi Hardum berharap agar Polres Manggarai serius dan profesional mengusut kasus persekusi ini. Bila perlu Polres Manggarai segera menetapkan RA dan keluarganya sebagai tersangka dan langsung ditahan. Hampir semua warganet menginginkan agar RA dan yang terlibat persekusian itu segera ditahan.

Menurut Edi Hardum, jikalau penyidikan kasus ini tidak tuntas maka akan menjadi preseden buruk ke depan. Bukan tidak mungkin banyak masyarakat Indonesia terutama Manggarai akan melakukan persekusi seperti yang dilakukan RA dan keluarga.

"Semua orang Manggarai tahu dan perlu menghargai adat Manggarai. Namun, ingat tidak semua kasus diselesaikan secara adat. Perdamaian secara adat boleh tapi, pertama harus dilakukan secara jujur dan ikhlas dari kedua belak pihak. Tanpa ada tekanan fisik dan psikis," papar Edi Hardum.

Tambah Edi, "Kedua, perdamaian secara adat tentu tidak menghentikan penyelidikan dan penyidikan serta pelimpahkan kasus persekusi ke pengadilan, tetapi hanya untuk meringankan hukuman. Mari, serva ordinem et ordo servabit te ! [Peliharalah peraturan (hukum), agar peraturan (hukum) memelihara Anda/kita!].

Namun komentar dari Netizen atas nama Yustina Ndung, tidak menampik ulasan yang disampaikan oleh Praktisi Hukum tersebut.

Pengajar di Malang, asal Bumi Congka Sae itu bahkan memuji pendapat Edi Hardum, katanya, beliau sangat suka dengan ulasan Edy Hardum. "saya bangga dengan keberimbangan dalamm berpendapat, runtut, humanis."

Yustina Ndung mengaku mencermati sejak awal persoalan  Rensi dan Eki yang dimuat di medsos. Memang seperti yg dijelaskan Edy bahwa persoalan "HAMBOR"  (Damai-red) sudah lewat/dilangkahi.

Menurut Yustina, artinya KÈPOK BARO SALA, PUJUT MUU SAKA CANGKEM (Menghadap dengan lapang dada-red) yang dilakukan Eki dengan mendatangi rumah nana Rensi itulah ESENSI DAMAI YANG ASLI dalam Adat Manggarai.

Lanjut Yustina,"Neka dolongs molor, ai molor ngai golod. Neka leors ndekok, ai ndekok ngai beod." (Jangan kejar kebenaran dan kesalahannya -red), dengan Kèpok baro sala (ucapan Permintaan maaf) ini maka,  boto cuku nunga ( tidak terulang lagi) sangged cancut taud muu agu nggasar pa, mpeong wejong, neka koe naas one nai,oke du waes laud du lesos sale ( semua kesalahan tutur kata, tindakan/perbuatan kita lupakan, seiring terbenamnya matahari dan hanyut terbawa arus)," ulas Yustina.

Menurut Yustina, yang dikatakan minta maaf adalah yang dilakukan Eky "Baro Sala, Pujut Muu Saka Cangkem" (Mengahadap RA-red)

Namun kata Yustina, Polemik ini muncul atas jawaban dari Kèpok Baro Sala (Permintaan maaf Eki-red) yaitu "wale le ongga" (Dijawab dengan Penganiayaan-red) dan itu salah secara adat.

"Karena itu, nana Rensi juga harusnya melakukan hal yang sama seperti yg Eky lakukan yaitu dengan melakukan "Kèpok Baro Sala" (Permintaan maaf balik).  Am sur le jing daat aku ka'em tara toe pinga reweng dite (Mungkin ada setan yang menyuruh sehingga permintaan maafnya tidak didengar-red)

Yustina berharap, agar upaya Hambor menurut  adat Manggarai ini berjalan dengan baik,  mari kita hentikan 2T yaitu, Tatang dan Tarak  melalui komen atau 'cica' yang bertendensi memanasi situasi.

"Tabe ase ka'en (salam semua buat Saudara-red) saya hanya menanggapi dari sisi Ruku d'Itet Manggarai (Adat istiadat Manggarai-red)" Tutup wanita yang pernah mencalonkan diri sebagai wakil bupati Manggarai tersebut.

Dari ulasan yang disampaikan oleh Yustina Ndung, hemat penulis bahwa RA sebaiknya melakukan tindakan serupa seperti yang dilakukan Eki.

RA harus berani menghadap Eki, dengan mengakui semua kesalahannya yakni dengan Kèpok Baro Sala" (Permintaan maaf balik).

Penulis Remigius Nahal.