Siti Sapurah dan Benyamin Beri Bantuan Hukum Pro Bono Kepada Seorang Warga Diaspora Flobamora di Bali Korban Kekerasan Seksual

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Siti Sapurah dan Benyamin Beri Bantuan Hukum Pro Bono Kepada Seorang Warga Diaspora Flobamora di Bali Korban Kekerasan Seksual

MARJIN NEWS
30 August 2018

Siti Sapurah dan Benyamin Seran saat mendampingi korban di Polrestabes Denpasar (Foto: Ist)
Denpasar, Marjinnews.com-- Informasi diketemukan korban asal Atambua oleh warga dan pengunjung pantai Kuta pada Rabu, 29/08/2018 petang tersiar cepat di media sosial.

Berawal dari postingan akun facebook bernama Shanti Shanti di grup Canggu Comunity, informasi tersebut sampai juga di telinga Ketua Ikatan Keluarga Besar Belu (IKABBE) Bali, Bapak Hilarius Mali Asa, SH.

Begitu mendengar kabar ada warga Atambua nyasar dan lupa tempat tinggal sendiri, langsung seketika pengurus Paguyuban ini meresponnya dengan membagikan informasi di grup WhatsApp.

Koordinasi pun segera dilakukan, dan dalam hitungan jam korban kemudian dapat dijemput di pantai Kuta oleh beberapa anggota Satgas FPN dibawah koordinasi Sekretaris IKABBE Arnold Bele Bau.

Menurut Arnold, korban sebut saja Bunga pada saat dijemput terlihat linglung seperti orang yang kurang waras.

"Beruntungnya pada saat kami ajak bicara dengan bahasa daerah korban masih bisa menjawab dengan baik, sehingga kami memutuskan untuk membawa korban ke tempat yang lebih aman," ujar Arnol kepada MarjinNews.

Selanjutnya korban diamankan di salah satu kediaman pengurus IKABBE Belu untuk sekedar mendapatkan pertolongan pertama dan beristirahat.

"Selama di tempat tersebut, korban perlahan mulai sadar dan menceritakan kalau sebelumnya korban diajak jalan-jalan oleh seorang pria berinisial “P”," terang Arnold.

Nasib naas menimpa Bunga (korban-red), ternyata keduanya  baru berkenalan pada hari itu. Setelah diajak jalan-jalan korban dibawa ke sebuah hotel kemudian korban dipaksa berhubungan layaknya suami istri.

Korban mulai  mengingat kembali alamat yayasan penyalur tenaga kerja tempat dimana korban bertemu pelaku.

Bahkan diceritakan kalau pelaku sempat meminta izin kepada pihak yayasan inisial “E” untuk membawa korban jalan-jalan.

Korban mulai menceritakan kalau selama 3 malam nginap di hotel bersama pelaku, sempat diberi minum sprite oleh pelaku. Korban pun kemudian tidak lagi dalam keadaan sadar.

Setelah sempat sadar, korban berusaha lari dari laki-laki yang telah memaksanya berhubungan badan tersebut.

Pelarian korban berakhir di pantai Kuta dalam keadaan stress, wajah penuh pasir dan setengah sadar.

Dari postingan akun Facebook Shanti Shanti menuturkan bahwa kondisi korban saat diketemukan sangat memprihatinkan. Ia lupa akan alamat tempat tinggalnya sendiri.

Hari ini, Kamis 30/08/2018 korban didampingi oleh pengacara sekaligus aktifis perlindungan perempuan dan anak, Siti Sapurah melapor ke Polresta Denpasar atas dugaan tindak pidana pemerkosaan dan penipuan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 juncto Pasal 378 KUHP.

Polisi yang menerima laporan pun langsung bergerak cepat menerima laporan dan membawa korban untuk divisum.

Siti Sapurah setelah mendampingi korban menegaskan bahwa setiap perbuatan kekerasan seksual terhadap perempuan harus diungkap, tidak boleh dibiarkan karena apabila dibiarkan maka akan menjadi ancaman serius bagi kaum perempuan.

"Kami bukan saja melihat permasalahan ini dari kaca mata hukum pidana, namun lebih dari pada itu merupakan tanggungjawab moral kami dalam membela kaum perempuan yang tertindas. Korban diketahui dari kaum lemah, secara ekonomi dan kehidupan sosial masuk dalam kategori tidak mampu. Sehingga, kami memberikan bantuan hukum pun semuanya secara probono," terang mantan pengacara kasus Engeline tersebut.

Sementara itu, salah satu tim pengacara yang ikut mendampingi korban saat melapor ke Polresta Denpasar, Yulius Benyamin Seran menegaskan bahwa diduga pelaku berinisial P ini kenal dengan pihak yayasan penyalur tenaga kerja.

"Kami juga telah memberikan masukan kepada pihak kepolisian untuk mendalami juga apakah ada korban lain mengingat terduga pelaku diduga kuat ada hubungan kerja dengan pihak yayasan. Karena apabila pelaku sering berada di sana maka pekerja wanita disana berada dalam situasi beresiko." Tegas, pengacara muda asal NTT ini.  (*)