RIKUS

Ayam-ayam pedaging dengan bangga dipangku oleh bapa tua di dalam plastik hijau. Anak istrinya sudah pasti menunggu. Sesekali dia melirik kompiang sepuluh ribuan pada jaket besarnya. (Gambar: Ilustrasi)
Rikus masih mematung, diam tanpa reaksi. Walau kadang keningnya berkerut heran memandang lepas terminal yang dipenuhi kendaraan-kendaraan menggila.

Dia baru  lima kali ke kota membawa hasil cengkeh untuk diserahkan kepada koko Niko di samping emperan toko. Bocah berusia 10 tahun itu merasa sesak melihat jalanan. Baginya itu jauh berbeda dengan kampung halamannya.

'Konjak' tetap berteriak-teriak  "kosong! kosong!" Padahal penumpang kol sudah mirip ternak kambing di samping rumahnya. Ribut dan pengap.

Ayam-ayam pedaging dengan bangga dipangku oleh bapa tua di dalam plastik hijau. Anak istrinya sudah pasti menunggu. Sesekali dia melirik kompiang sepuluh ribuan pada jaket besarnya.

Tidak berhenti menatap heran Rinus akhirnya harus pasrah menaiki mobil kayu yang sama ketika konjak mengambil dengan paksa tas besarnya. Tas itu ditaruh  tepat di samping bapak tua yang dipandanginya sedari tadi.

Begitulah cara menarik penumpang, ambil tasnya dan dia akan mengikutimu. Tapi tidak ada yang perlu disesalkan, toh dua buah kol menuju kampungnya hampir sama. Padat dan sesak. 

Rikus meringkuk diantara dempetan orang-orang. Kol; mobil kayu itu akhirnya keluar juha dari kota setelah napas-napas bergetar dengan senyum yang masih sempat terselip di dalamnya. Kami pulang, pulang dari kota.

Pasang-pasang mata di dalam kol itu mengarah pada barang mereka sendiri, sambil sesekali tertawa ke sesama disampingnya saat oto kol itu memutar lagu "sebek" dan bersamaan bergoyang diantara jalanan aspal yang lebih mirip jalan batu beraspal. Sudah terkelupas di mana-mana lengkap dengan lubang yang bisa menampung air berliter-liter.

Tas berisi uang hasil jualan cengkeh 25 kiloan sudah mampu membuat bocah itu cengingisan sendiri sambil berdebar membayangkan reaksi ayahnya. Dia membeli baju baru dari toko sejati sebagai hadiah untuk pertama kali bagi ayahnya.

Berani memilih dalam kepulangannya kali ke lima baginya adalah sebuah kedewasaan. Dia melirik ke bapak tua disampingnya dan memeluk erat tas berwarna coklat tua pada dekapannya. Mungkin begini rasa memiliki ayam pedaging bapa tua itu. Kol melaju.

Seorang lelaki tua menghisap cerutu di depan rumah. Lelaki tua dengan garis wajah tegas menakutkan. Melihat Rikus turun dengan wajah letih dia melepas cerutu dan jari-jari panjang yang kuat melingkari pundak anak semata wayangnya.

Kulit laki-laki itu terasa panas menyentuh kulit Rikus. Tangannya keras dan kasar. Perlahan dipandangi Rikus dengan harap-harap cemas pria yang tingginya lebih beberapa inci itu saat masuk ke rumah.

"Bapa, ini tidak akan sedikit boros bukan?" Kata Rikus sambil mengeluarkan dengan hati-hati baju biru berkerah dari tasnya. Plastik bertuliskan 'Toko Sejati' telah dia pakai untuk membungkus beberapa lembar uang ratusan hasil penjualan.

Dengan gusar dia melihat ayahnya menanggalkan jaket dari tubuhnya dan mengenakan baju tersebut. Dia melirik tepat di bagian depan tubuhnya sambil sedikit merapikan kancing-kancing baju berlengan panjang itu.

Dia menatap Rikus santai.

"Bagus, bagus, bagus". Rikus tertawa lega diikuti ayahnya yang sumringah dan menuju cermin di regel dapur.

Sang ayah merapikan rambut setengah ubannya sambil tersenyum. Rikus tidak mengerti entah apa hubungan antara rambut dan baju baru. Tetapi wajah di cermin itu terlihat sudah merasa penuh.

***
Sepasang alis bocah itu menyatu, dia mengangkat wajah. Meniup seuntai rambut dari matanya dan melihat ke atas meja, dipenuhi buku-buku tipis merk sinar dunia. Soal-soal PR berisi angka-angka dan persamaan mengabur bersama-sama.

Menjelang Ujian Nasional 3 bulan lagi, hal pertama yang ingin dia susun adalah kosentrasi menyusun rencana memecahkan setidaknya tiga soal matematika dalam satu malam.

Mata pelajaran yang ingin dia taklukkan diantara kerumitan mata pelajaran lain yang dengan enteng sudah bisa Rikus atasi. Membuat ayahnya terkesan adalah misinya.

Dalam keremangan malam kambing di samping rumahnya terus menerus mengembik ribut. Dia tidak pernah berharap ayahnya yang pergi memeriksa. Baginya itu sudab menjadi tanggungjawab kecil yang bisa dia atasi.

Namun momen belajar adalah hal yang tidak ingin dia lewatkan. Ayahnya tau itu. Tapi sial, Rikus sadar ayahnya sedang pergi pesta kenduri di kampung tetangga. Lusa atau lain hari baru kembali.

Ketika baru saja hendak melangkah suara-suara itu meredup. Sambil menahan napas, Rikus memberi perintah dalam hatinya agar binatang-binatang itu tetap diam sepanjang malam. Tepat ketika dia mengambil pena melanjutkan perhitungan, kambing-kambing tersebut kembali membuat kegaduhan.

Dengan gusar dia melemparkan penanya kembali. Rikus meregangkan kedua tangannya diatas kepala sebelum bangkit dari kursi kayunya. Dia melangkah dengan lentera berayun sambil mengeratkan jaket wol yang dipakainya. Dingin menyengat di luar rumah.

Sebuah bayangan mengendap-endap dibalik jerami yang bertumpuk di bagian kiri kandang kambingnya. Kondisi kampung memang sudah gelap maka Rikus tidak bisa memastikan apa atau siapa dibalik jerami bekas makanan kambing-kambing gendutnya.

Rikus teringat film Batman, tokoh fiksi rekaan Bob Kane dan Bill Finger: manusia berjubah kelelawar yang gelayapan dalam kegelapan. Rikus merinding sendiri. Ranting-ranting bergesekan menimbulkan bunyi tak jelas. Rikus tersadar.

"Pencuri!! pencuri!!". Sesosok manusia itu berlari pontang-panting sampai Rikus tidak bisa melihat jelas dalam keremangan, yang Rikus tau dia bukan Batman dan bukan wanita.

Beberapa tetangga keluar mendekati kandang kambing miliknya. Bayangan maling yang selama inu suka mencuri ayam di belakang rumah Mian atau pencuri yang digunjing warga karna menyabet padi-padi di tempat penggilingan menjadi isu hangat malam itu.

"Babi milik pak Nadus hilang semalam." Berita geger yang datang siangnya membuat Rikus was-was sekaligus merasa perlu memperketat penjagaan terhadap kambing-kambingnya. Pencuri itu sudah menjadi-jadi.

 "Ini tidak bisa dibiarkan!" Geramnya.

Bocah ini memikirkan cara-cara lain seharian yang membuatnya tidak bisa menghasilkan apa-apa. Alasannya sederhana, dia sudah yakin telah menjadi penjaga ternak kambing terbaik di kampungnya. Sisi kandang dibangun gagah dari kayu-kayu jati. Kayu yang ditanam ayahnya sekitar 35 tahun lalu.

Kayu-kayu yang sama yang menopang rumahnya. Sambil menggelengkan kepala Rikus berusaha menyingkirkan pikiran negatif dari benaknya. Tetapi Rikus tidak pernah tidur dalam tugasnya. Malam ini dalam usaha menahan menguap satu dua kali, dia tahu tidak ada cara lain selain terus berjaga hingga pagi.

Rikus keluar rumah sesekali

"Seribut mungkinlah jika dia datang kembali. Aku akan membuatnya diam tak berdaya." Tegas Rikus kepada kambing-kambing sambi menepuk bangga dadanya. Dia berjalan tegap memasuki rumah.

"Arrrggghhhh" desahnya keras. Dia terantuk kerikil diantara bebatuan.

Rikus menoleh ke kiri, kanan, depan dan belakang.

"Aman." Tidak ada orang terlihat.

Dia kembali  berjalan membusung optimis sambil sesekali kakinya terlihat terpeot-peot. Kantuknya hilang.

Baru saja dia hendak menutup pintu rumah terdengar rusuh yang memekakkan  telinga. Suara itu terdengar dari tengah kampung.

Pusat ramai jika anak muda bermain bola hingga pergelaran perayaan acara adat besar-besaran. Akan tetapi itu bukan suara simpati, sorak-sorai sukacita apalagi tawa bahagia.

Samar-samar makian kasar, umpatab pedas dan caci maki yang tak pernah didengar Rikus sebelumnya terdengar menjadi-jadi.  Dia yakin ada yang tak  beres.

Dia mengambil paksa jaket ayahnya dari jemuran ketika dia berlari menuju tengah kampung. Tidak ada yang lebih  berarti daripada rasa penasarannya.

"Pencuri tidak tau diri!! pendatang sampah. Berani-beraninya kau!!."

"Hajar dia sampai mati saja sekalian!"

"Kau bahkan lebih bersih dari  babi yang kau curi!!"

Makian itu terdengar bertubi-tubi. Rupanya pencuri itu sudah tertangkap basah. Hal pertama yang Rikus rasakan adalah kelegaan. Kambing-kambing itu  adalah asetnya untuk masuk SMP sebentar lagi.

Sesuatu yang kecik tapi tidak bisa dia abaikan mengganggu nuraninya. Simpatiknya berpindah pada laki-laki umur 40-an tahun ditengah kerumunan pria-pria besar dengan muka garang sambil bergantian mengeroyokinya.

Mama-mama tua tidak ketinggalan mengumpat tak peduli pada kain yang tak beraturan. Panas hati lebih berkuasa. Mereka memandang bangga suami-suami yang memukuli laki-laki itu dengan beringas.

Raut malu menguncup dibingkai pembawaannya yang lugu. Raut itu tertutup darah yang sudah mengucur deras dari dahinya. Rikus tahu dia menahan sakit, tak berani memohon ampun apalagi melakukan sesuatu. Dia pasrah.

Dicaci, dipukuli hingga sebelum telanjang pun harga dirinya sudah pasti telanjang di depan orang-orang  banyak. 

Rikus tidak mungkin melerai pria itu dari kerumunan orang.  Pria yang dia tahu baru beberapa minggu datang di kampung ini dengan tampang yang bahkan kali lihat pertama membuat orang akan merasa simpatik. Lugu dengan senyum hanya setipis silet ketika disapa Rikus di gang jalan.

Rikus berlari. Pikirnya langsung tertuju pada rumah pak lurah yang memiliki telepon umum. Dia ingin menyelamatkan pria itu dengan menghubungi polisi. Masyarakat tidak boleh main hakim sendiri. Dia berlari kencang.

Napasnya ngos-ngosan melihat pintu rumah pak lurah terbuka, tidak jauh dari tempatnya berdiri pak lurah berlari ke tengah kampung dengan kosakata makian yang baru, tak karuan.

Rikus memasuki rumah dan mendapati Sedis gadis kecil dengan tatapan takut melihat ayahnya mengamuk pergi. Gadis kecil itu teman kelasnya.

Rikus tidak paham tapi seolah-olah seorang seniman yang bersemangat dan liar dilepaskan untuk melukis mata dan rambut gadis itu, sementara seorang seniman lain bekerja membentuk lengkung bibirnya yang tanpa cela.

Namun mata Rikus cepat-cepat beralih pada telepon di sudut rumah. Rikus berapi-api menjelaskan simpatinya kepada laki-laki  tadi,  Sedis kelihatan menyepakati hal yang sama.

"Nah, ini nomor yang sama waktu pak polisi sosialisasi di sekolah sebulan lalu." Katanya meyakinkan diri melihat nomor polisi di buku telepon.

Rikus mengingat persis ekor nomor polisi itu, 373. Dengan semangat dan tak sabaran dia menghubungi polisi,

"Terimakasih nak. Tunggu 20 menit lagi." Kata polisi di seberang sana.

Polisi datang lebih cepat dari perkiraan Rikus, dengan bunyi sirene yang meriung-riung penduduk kampung menatap laki-laki itu geram. Pria yang sudah tidak sadarkan diri  dalam genggaman warga masih belum memuaskan hati.

Dia sudah setengah telanjang ; pakaiannya dikoyak-koyak, celananya melorot. Dengan kasar pak lurah menyeretnya, kesempatan terakhir melampiaskan amarah sebelum polisi turun dari mobil. Tokoh-tokoh masyarakat dan beberapa anak muda duduk melingkar mendengar arahan polisi.

"Kita tidak boleh main hakim sendiri. Kalau memang dia harus membusuk, biarkan pasal-pasal yang menghukumnya." Kata polisi sambil mereguk minum yang dihidangkan. Dia terlihat emosi pula mendengar cerita masyarakat.

Tatapan-tatapan tidak puas tetapi sedikit kelegaan terpancar juga takut kalau-kalau pria itu meninggal di tangan mereka. Maka pasal-pasal itu balik menghukum mereka. Diangkatlah pria itu menuju mobil polisi. Malam itu berakhir.

***
"Kamu hebat..." Aku Sedis malu-malu. Dia muncul di sebelah meja Rikus dengan buku di tangannya.

"Ini ada hadiah buat kamu. Buku itu kisi-kisi UN matematika lengkap dengan kunci jawaban." Entah mengapa Rikus terenyuh, merasa dipahami.

Musik bervolume keras dari radio dengan pemandangan ayah Rikus mengunyah sirih pinang sambil sesekali mengangguk mengikuti irama musik, kalah menakjubkan dengan bocah kecil yang akhir-akhir ini belajar di dekat jendela di senja hari.

Rikus merasa siap menghadapi UN. Sudah ada dua alasan yang dia tahu jadi pemenang atas usaha belajarnya.

Ada ayahnya yang sesekali mengajak Rikus bernyanyi menendangkan simponi lama dari tikar sana juga Sedis yang tepat berada di bola matanya.

Gadis itu bersandar dengan buku pada jendela di seberang sana juga.

"Kita lihat lima tahun lagi untuk tahu ini apa."

Rikus dan Sedis saling melambaikan tangan. Tersipu.

Anak-anak ini.

Oleh: Tini Pasrin
marjinnews.com Malang

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,162,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,181,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,570,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,37,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,61,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,277,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,52,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,117,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,62,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,291,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,257,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,416,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,19,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1136,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,37,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,87,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,24,seleb,1,Selebritas,19,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,67,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,46,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: RIKUS
RIKUS
https://3.bp.blogspot.com/-rdwcN5aKKqE/W2JsZRWbQNI/AAAAAAAAB0A/lin2FzlqDEIATgKeXMHAd8xzQXVf73qfQCLcBGAs/s320/OTO%2BBIS%2BKAYU.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-rdwcN5aKKqE/W2JsZRWbQNI/AAAAAAAAB0A/lin2FzlqDEIATgKeXMHAd8xzQXVf73qfQCLcBGAs/s72-c/OTO%2BBIS%2BKAYU.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/08/rikus.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/08/rikus.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close