Rensi Ambang di Antara Kerumunan Terakhir

Foto: Ist
Sejak kecil, pengenalan  saya akan sosok Rensi Ambang (RA) dibangun dengan suara dan sorot mata cerdasnya dalam video lagu-lagunya. Lagu bisa menerobos masuk sampai tulang. Menggoyangmu, merobek kesadaran, melegakkan hati, merasa 'ini lagu kah, saya sekali oo' atau sekedar lagu yang cukup dinikmati tanpa perlu dicerna hingga lagu yang tak membutuhkan analisis. Itu hanya lagu.

Begitulah, layaknya penulis. Mereka menulis banyak kisah pilu, geram, peringatan, berbunga-bunga. Bisa menimbulkan efek baper bagi penikmat tulisan. Ada yang menggeram, ada yang suka, tak lebih ada juga yg bilang "akh, yang satu  ini sok bijak."

Mereka lupa, penulis hanya melakukan satu hal. Menulis. Begitupun menyanyi. Mereka hanya menyanyi. Menyuguhkan sesuatu. Untuk siapa? Untuk kita. Untuk tidak membuat kita bosan. Terobosan baru, pesan-pesan baru, dan banyak hal dalam lagu. Itu hanya  salah satu bentuk sikap mereka: berinovasi. Menginspirasi dan mengajak kita semua untuk terlibat di dalam setiap nada-nada mereka.


Tidak berhenti pada satu pencapaian saja. Sebab video yang akhir-akhir ini tersebar juga memiliki kekuatan yang sama. Kuat. Tetapi terasa asing dan kering. Lalu dengan video itu saya tentu diseret dan dihadapkan pada kerumumanan kita sekarang.

Kerumunan yang tak mengharuskan kita menghormati pada yang lebih tua dan membungkuk pada mereka yang punya wibawa.

Tidak heran ketika kudatangi setiap ruang-ruang itu aku mendengar cerita, kesimpulan, teriakan-teriakan, hingga banyak orang berlalu-lalang membawa berbagai macam kabar dari video itu. Lucu juga rasanya bisa menonton kehidupan orang dan mengetahui banyak tentang dia tanpa sekali pun pernah bertatap muka.

Di beberapa tempat orang meninggalkan jejak. Bermain dengan kata-kata, dengan tafsir dan imajinasi. Diantara kerumunan orang aku melihat sebuah nama berjalan sendirian, ketakutan. Ia bukan nama baru diantara kerumunan itu. Dia RA.

Dia yang selalu disambut dengan tepuk tangan meriah, dinanti-nantikan dengan karya baru dan segenap pujian,  sekarang  sendirian, dimaki semua orang.

Sepanjang jalan di antara kerumunan itu orang menghujat, mengacung-acungkan batu, kaleng kosong atau pentungan. Sesekali ia bersuara membela diri, tapi dengan cepat batu makian dilemparkan padanya. Berulang-ulang. Bertubi-tubi.

Aku jadi ingat pada Mario Teguh, pria gagah yang menyejukkan hati. Melegakan. Dia lalu tersandung kasus yang menjijikkan itu.

Kenapa tidak jujur? Kenapa tidak minta maaf? Akh, percuma.

Memang manusia hanya pandai berbicara saja. Semua orang perlahan meninggalkan dia. Sendiri.

Diantara kerumunan kita sekarang ini  lebih sedikit yang berani mengambil sisi positif. Semua dilihat dari pantas dan tidak.

Mario Teguh melintas di depanku. Bajunya compang-camping, tubuhnya penuh luka akibat lemparan batu makian di sepanjang jalan, sepanjang hari. Ada seseorang yang menghampirinya. Memberinya baju baru, memeluknya dan berbisik, "jangan takut. Aku tetap temanmu."

Temannya itu berbalik ke satu kerumunan di antara kerumunan lain,
"Persetan dia memiliki masalah dalam hidupnya, jika dia terlalu bodoh untuk menyikapi dirinya sendiri ya sudah, kita buang sisi itu.  Kalau kata-kata dan karyanya selama ini bisa menghidupkanmu kenapa tidak engkau ambil yang itu saja? Ambil manfaat dari orang lain." Akunya tegas. Dia bercerita. Dia tidak sedang mau membatasi kerumunan itu untuk berpikir dan juga menaruh kasih ke dalam diri Mario.

Baru saja aku hendak terharu, air mataku tiba di pelupuk mata, tetapi gemuruh datang. Ratusan suara yang terus berlipat karena berulang diucapkan dan dipantulkan kini melindas dua orang yang berpelukan itu.

Suara itu terlalu lemah untuk tidak segera diredam emosi yang katanya menyangkut sisi lain kemanusiaan,

 "Dia pantas mendapatkan makian ini. Jangan membela-bela kesalahan.",

"Sekali kita biarkan orang-orang  akan menganggap kelakuan bejat ini wajar."

"Apa jadinya kalau generasi penerus kita meniru hal yang sama? Mereka bebas melihat dan meniru sekarang!!"

"Ternyata kita semua tertipu. Ah, bodohnya kita bisa ditipu sekian lama."

Lalu, Mario Teguh perlahan mengabur, kata-katanya yang baik dan benar dulu kini dipakai sebagai alas kaki. Banyak yang menggunakan.

Untuk menggosokkan kotoran-kotoran, menghentakkan kaki, dan membiarkannya sekali-sekali. Dekil. Hanya sedikit orang yang tidak jijik untuk membersihkannya. Meresap dan memaknainya kembali.

Begitulah kejamnya kerumumunan kita sekarang.

Kerumunan sekarang dipenuhi dengan hal-hal baru. Kata "tamal laos" tidak segan-segan dilihat sebagai peluang, menaikkan tinggi sisi sensasi dari kata-kata, mau menyabet dunia usaha dengan berencana menyablon dan melebarluaskan kata-kata itu dalam pakaian,  meramu cerita, mencari popularitas dan membawanya kemana-mana sebagai pengenal.

Mengabarkan, 'Saya ada diantara kerumunan-kerumunan ini. Saya tau persis apa itu 'tamal laos'. Semuanya saling berebut tempat dan perhatian. Tak ada tempat bagi mereka yang diam di tempat. Semua orang diharuskan ribut.

Lalu semua ini akan berjalan terus. Sebelum kita disuguhi sensasi baru yang lebih kepada gejolak-gejolak dari dalam diri kita sendiri di masa mendatang,  kita sama-sama harus tahu; foto-foto dan video yang diunggah, percakapan-percakapan yang tidak bisa diingkari, berita-berita geger hari ini dan hal-hal kecil yang terlihat besar diantara kerumunan kita akan seperti ketombe.

Mungkin hilang sewaktu-waktu. Tapi dia tetap akan kembali. Menyeruak di permukaan, diceritakan kembali, menjadi sejarah.

Jejak dari perbincangan diantara kerumunan kita hari ini akan selalu menghantui RA. Kerumunan kita berpeluang besar menciptakan RA lain. Seumur hidup.

Siapkah sekali-kali kita menjadi topik di antara kerumunan kita sendiri? Ditinggal menjadi pengecut setelah semua hal baik yang coba kita lakukan?

Dipenggal sebelah ketika orang lain hanya mendefinisikanmu sebagai muka berminyak, rambut tak diminyaki, mulut pengap dan kuku-kukumu tak terawat. Sementara itu hanyalah kau yang belum mandi.
Sanggupkah definisi itu diterima baik oleh dirimu yang menyadari bahwa kau sebenarnya adalah dia yang akan mandi? Yang akan menjadi bersih dan wangi dalam waktu jika diberi kesempatan?

Itu tidak adil.

Mari kembali. Di antara kegagapan di tengah kerumunan yang membuat orang bisa menjadi apa saja, mari memberi ruang untuk diri sendiri. Diam dan mengenang. Berhenti dan kembali ke belakang.

***
Siang ini saya bermimpi sepulang misa hari minggu. Pulas. Dalam tidur itu saya bermimpi RA menepi ke kampung saya dengan keluarganya setelah semua ini terjadi. Menjadi orang biasa. Melepas diri dari semua hal. Dia letih. Sibuk menyibukkan diri agar tak selalu terpasung dengan label-label yang menempel pada dirinya.

Saya melihatnya dengan tatapan penuh kasih. Bukan kasihan. Tapi bahkan untuk menghibur diri sendiri saja saya tak mampu temukan kata yang tepat.

Saya bingung berkata apa.

Tiba-tiba dia dan istrinya bertamu ke rumah saya dengan anak kecil baru berusia berapa bulan. Anak mereka.
 
Terlihat istri RA sangat akrab dengan saya. Dia membaringkan anaknya tepat di samping saya dengan lembut. Dia sesekali  mengawasi dari sebelah sambil berbincang ringan dengan saya.

Sementara RA bercengkrama dengan bapa mama di sudut dapur.

Tetapi RA akhirnya kembali ke tikar yang lusuh. Berbaring di samping kami. Tetapi dia agak menjauh. Matanya tak bisa sembunyikan kegelisahan yang sama.

Entah ada kekuatan apa, tiba-tiba saya merasa yakin untuk bilang,
 "saya tahu caranya mengembalikan apa yang telah direnggut darimu."

Dia menatap saya. Dia penasaran. Penuh harap. Tetapi saya seperti pecundang disitu, saya menatap hp. Melihat kerumunan-kerumunan itu lagi lalu lalang. Tidak tahan dengan sensasi baru yang ditampilkan. Lagi.

"Apa yang harus saya lakukan?!" Tegasnya penasaran dan meminta setelah menunggu saya menggubrisnya.

Saya baru tersadar. Kembali menatapnya. Di dalam mimpi itu saya siap melontarkan kata-kata.

Saya penasaran saran apa yang akan keluar dari mulut saya dalam mimpi itu untuk menenangkannya. Menenangkan juga hidup saya yang terganggu melihatnya terganggu. Memenangkan hidup.

Tapi dasar sial, adik bungsuku yang lebih dulu tidur bangun lebih awal. Sibakkan selimutnya membuat aku yang gampang peka dengan bahkan bisikkan kecil saja turut membangunkanku.

Malang juga ternyata sudah terlalu sore untuk dilewatkan. Aku naik ke lantai 3. Membaca buku "KERUMUNAN TERAKHIR" sambil sesekali sibakkan rambutku menutupi mata, aku meniupnya. Perlahan meninggalkan buku dan melahap senja yang hendak beranjak. Malang indah sore ini. Selalu...

Aku bersimbah di atas kursi tua.

Akh, padahal aku bisa saja berkesempatan mengubah seseorang dalam dunia tidak nyataku itu tadi. Andai aku bisa kembali kesana...
***
(Kata bahkan beberapa kalimat disadur dari buku "KERUMUNAN TERAKHIR" karangan Okky Madasari, penulis yang konsisten mempertanyakan hal-hal kekinian, pertarungan manusia dengan diri sendiri dan lingkungannya, yang menjadi kegelisahan utama generasi zaman ini.

Oleh: Tini Pasrin
Jurnalis marjinnews.com

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,111,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,149,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,540,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,62,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,201,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,90,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1034,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,24,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,91,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,6,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Rensi Ambang di Antara Kerumunan Terakhir
Rensi Ambang di Antara Kerumunan Terakhir
https://4.bp.blogspot.com/-iIkkihcxxE4/W4N_aQFPNAI/AAAAAAAACLQ/GEj_nRCzTKkDMuTnqpPcgIhuDjEPWwTuwCLcBGAs/s320/FB_IMG_15353444115528304.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-iIkkihcxxE4/W4N_aQFPNAI/AAAAAAAACLQ/GEj_nRCzTKkDMuTnqpPcgIhuDjEPWwTuwCLcBGAs/s72-c/FB_IMG_15353444115528304.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/08/rensi-ambang-di-antara-kerumunan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/08/rensi-ambang-di-antara-kerumunan.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy