Pria dan Kopi Campur Garam
Cari Berita

Pria dan Kopi Campur Garam

Marjin News
6 August 2018

Kau tinggalkan kopi campur garam yang melekat pada bibir cangkirku. Asin, dan perih.(foto : Ilda Wahyu)

Aidin, 
minggu ini kurasa semakin buram. Kau membuatku bertanya hingga ke pangkal yang semakin sesat. Kadang sesal yang sebelumnya menggelayuti hati, kini makin tercabik oleh kepastian yang tak kunjung kau jawab. Salahkah aku yang selalu menantimu hingga cangkir ini menyisakan ampas?
Ataukah memang aku yang terlalu berharap atas kata  yang terucap dari bibir beningmu?

Ah..Aidin
Aku semakin merasa kau mencampakkan aku. Bongkahan air mata sedikit demi sedikit kering tanpa kau bendungkan. Kau membuatku terlihat bodoh. Kau membuatku asing dengan duniaku sendiri.

Aidin,
Akhir pekan pertama di Agustus ini, cuaca buruk seperti keadaanku. Kopi yang kuseruputi juga terasa asin. Kau menabur garam pada bibir cangkir yang kuseruputi. Ini pertama kali Kopi asin yang kucicipi atas penantianku.

Aidin,
Minggu pertama di Agustus ini mendung tapi tak meneteskan air hujan, sama pula dengan aku yang mendung karena gelisah yang tak ada ujung. Rumah kaca milikmu di pinggir kota ini juga tampak diselimuti kabut pekat. Bagiku, itu mengartikan kau yang bersembunyi tanpa ingin ditemui.
Haruskah aku mengakhiri penantian ini?
Meski kutahu jejak langkah kita akan terus menguasai pikiranku. 
Siluet wajahmu, mungkinkah aku menghapusnya dengan senyum tawar menutupi harapanku?

Akh....Aidin
Semakin kumencari, semakin pula kau menyembunyikan diri. 
Kau tinggalkan kopi campur garam yang melekat pada bibir cangkirku. Asin, dan perih.
Kau biarkan waktuku larut atas kepastian tanpa jawab.

Aidin,.
Waktu memang tak pernah membatasi penantian. Namun bagiku,penantian itu ternyata sulit.
Waktu yang tak pernah berjalan mundur membuatku semakin tampak kecewa. Aku yang datang, dan kau yang menghilang, menyeret kita pada kehidupan masing-masing.
Aku yang datang menanti, dan kau yang menghilang tanpa mau dinanti kembali.

Aidin, 
pria dan kopi campur garam.




Oleh : ilda wahyu.
(Penulis adalah siswi kelas tiga di SMAK Setia Bakti Ruteng. Suka kopi, dan suka berdiskusi.
Cita-cita ingin menjadi seorang Jurnalis.)