PMKRI Cabang Makassar Gelar Ngopi dan Diskusi Sastra

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

PMKRI Cabang Makassar Gelar Ngopi dan Diskusi Sastra

MARJIN NEWS
27 August 2018

Foto: Ist
Makassar, Marjinnews.com -- Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) menggelar Ngopi dan Diskusi Sastra bertajuk Imajinasi Indonesia dalam Musik dan Puisi, Minggu (26/8/2018), di Warkop Ramos (RMS) Jl. Perintis Kemerdekaan, Makassar.
Pada diskusi tersebut hadir narasumber Dr. Imran, S.S., M.Hum dan Dr. Amal Akbar, S.Pd., M.Pd menjadi pembicara kunci.

Imran mengatakan bahwa pamor puisi saat ini terlihat sangat menurun, berbeda dengan tahun 1945-1998 yang benar-benar menceritakan perjuangan seperti puis-puisinya Wiji Thukul.

"Saat ini puisi turun pamor karena seolah-olah dipakai untuk gombal. Contohnya di acara Opera Van Java. Bapak kamu arsitek ya? Begitu". Ujarnya.

Selain itu, ia mengatakan bahwa berbicara imajinasi, itu tidak terlepas dari sastra.

"Sastra itu dunia imajinasi. Dunia imajinasi adalah dunia tanpa batas. Coba bayangkan kalau imajinasi itu dibatasi. Seperti dunia hukum". Tutur Imran.

Diskusi yang berlangsung sekitar kurang lebih tiga jam tersebut tidak hanya membicarakan bagaimana Indonesia dalam imajinasi dilihat dari ilmu sastra, tetapi juga bagaimana memproduksi generasi milenial dalam berkarya. Karena berbicara tentang Indonesia adalah sesuatu yang tak pernah selesai.

"Indonesia itu sesuatu yang tak pernah terselesaikan. Indonesia itu rantai yang membuar kita satu.
Aktivis itu tidak harus di jalan melulu, tetapi harus bisa membangun gerakan literasi. Karena semua orang sekarang membaca. Sastra mendekatkan dengan realitas. Sastra itu tidak mesti orang bahasa yang belajar, tapi semua orang." Tutur Imran.

Senada dengan hal tersebut Dr. Amal Akbar, S.Pd., M.Pd berkata bahwa mahasiswa yang sebagai agen of change harus produktif sesuai dengan label yang disematkan pada mahasiswa itu sendiri.

"Mahasiswa itu harus kritis dan berpola pikir ilmiah. Ketika menyandang label mahasiswa tapi pola pikir tidak ilmiah, maka di situ kita merancang bunuh diri yang indah." Pungkas Amal.

Kegiatan itupun berjalan dengan lancar hingga selesai. (HK/MN)