Perempuan, Lukisan dan Kematian, Kumpulan Puisi Gusti Ginta
Cari Berita

Perempuan, Lukisan dan Kematian, Kumpulan Puisi Gusti Ginta

MARJIN NEWS
13 August 2018

Sungai mati, pasar sepi, jalan-jalan sunyi
Ramai terhenti, tanpa nyanyi, segala mati. (Foto: Dok.Pribadi)

Perempuan, lukisan dan kematian

Seorang  gadis melukis dunia  sedang meringis
Mengais ke dalam- terlihat banyak tangis
Seolah kematian terus minta tagih mengemis

Lukisannya menangkap miris
Antara bahagia dan surga  ia mengiris

Nirwana itu  dilukisnya jauh
Diraih oleh lengan- tangan insan

Beribu bidari meniup gemuruh
Bunga-bunga layu, kerontang segala buahan

Yang disebut bumi tiada lagi
Anak-anak berlari- lari

Sungai mati, pasar sepi, jalan-jalan sunyi
Ramai terhenti, tanpa nyanyi, segala mati

Gadis tadi berdiri
Terlihat judul lukisan ia beri : “hening dan genting yang abadi”
Surga semakin bersembunyi.
                                                                          (Waso 09 Juni 2018)

Kemungkinan

Tak usah takut, kekasihku
Lahir adalah kemungkinan kesedihan yang tersembunyi

Diantara tawa yang datang menjemputmu
Begitu pula kematian, adalah kemungkinan gembira

Tersembunyi diantara tangis berduka
Bukankah, orang-orang mati meledakan diri

Mati suci untuk sebuah tempat yang tentu tak pasti?
Maka marilah! Menarilah dengan puisi-puisiku

Sebab itu yang akan tertinggal, kaupun mengenal
Puisi-puisi yang ku cipta adalah tempat doa untukmu

Kepada jiwaku yang entah dimana, siapa tahu
Ini juga kutulis saat dingin angin menikam tubuh tak asing
                                                                            (Waso 09 Juni 2018)

Rumah Sakit

Akan ada yang  datang diam-diam
Juga yang akan pergi diam-diam
Dan di sisi mereka ada wajah-wajah resah

(Ruteng, 18 Juli 2018)

Tempat Sampah

Disitu muara dari cinta
Terbaring kaku tak bernyawa
Datang dari rahim  sia-sia
Pulang tanpa sentuhan payudara

(Ruteng, 18 Juli 2 018)

Tentang penulis: Pria ini akrab dipanggil Gusti Ginta,  lahir di Waso Ruteng –Manggarai pada 17 agustus 1995 dan saat ini masih letih- tertatih menyelesaikan studi S1 Hukum di Universitas Nusa Cendana Kupang.  Baginya ‘’Kepuitisan lahir dari  refleksi atas kehidupan”.