Perempuan, Ekologi dan Pigor di Warkop Petra

Ide pembangunan telah menggeser kedaulatan perempuan dalam mengelola sumber daya alam dan menentukan pangan telah membuat pandangan peremp...

Ide pembangunan telah menggeser kedaulatan perempuan dalam mengelola sumber daya alam dan menentukan pangan telah membuat pandangan perempuan tentang kehidupan menjadi kabur, bahkan oleh perempuan sendiri (Foto: Dok. Pribadi)
Beberapa waktu lalu saya tiba di Manggarai untuk berlibur sekaligus mengadakan kegiatan Tour Jurnalistik dengan beberapa orang kawan dari Komunitas Pecinta Literasi Indonesia (KOPERASI) dalam rangka mengisi waktu liburan panjang selama bulan Agustus. Setelah selang beberapa lama meluangkan waktu untuk melepas rindu dengan keluarga besar di kampung halaman, komunikasi persiapan kegiatan tour membuat saya harus beranjak ke ibu kota kabupaten Manggarai bertemu teman-teman yang lain.

Seperti lazimnya seorang yang baru bertemu dengan kawan-kawan lama, kami hampir menghabiskan waktu seharian untuk berdiskusi dan membicarakan beberapa hal terkait kegiatan yang akan kami lakukan untuk keesokan harinya. Jauh sebelum saya pulang kampung, beberapa orang kawan memberitahukan sebuah tempat cukup strategis di Kota Ruteng tempat bertemunya para aktivis dan mahasiswa.

Tempatnya itu terletak di kompleks Pasar Puni, tepat di depan sebuah minimarket yang konsepnya agak sangat jauh berbeda dengan toko-toko lain di Kota Ruteng. Lokasinya sangat strategis untuk dijadikan titik kumpul. Mudah ditemukan dan yang paling penting adalah modelnya sangat merakyat. Jika di Surabaya warkop-warkop itu berpenampilan semi cafe, tempat ini malah sebaliknya. Bahkan bagi sebagian orang itu bukanlah sebuah tempat yang bisa dikategorikan sebagai warung kopi atau warkop.

Hanya ada beberapa buah kursi dan dua meja tempat orang untuk duduk sekedar menyeduh kopi. Beratap terpal orange, segala proses produksi warkop ini berlangsung. Menariknya, meski sebelumnya saya nongkrong bersama teman-teman di kantin Puslat tepatnya di samping kampus STKIP St. Paulus Ruteng yang kondisinya jauh lebih nyaman dan bersih, tempat ini justeru menjadi tempat yang selalu memanggil saya terus menerus untuk datang.

Selain itu, satu hal yang membuat tempat bernama Warkop Petra ini istimewa menurut saya adalah penginisiasinya itu merupakan teman-teman aktivis mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng. Jadi segala bentuk sajian di warkop ini selalu bercita rasa aktivis. Tidak terlalu mewah dan tidak juga terlalu murah. Pas dan tepat. Apalagi untuk ukuran rasa pisang goreng atau bagi orang Manggarai biasa disebut pigor.

Waktu pertama kali saya datang ke tempat ini pigor menjadi sajian pengusir hawa dingin yang ampuh. Ia menjadi orang ketiga pelengkap kebahagiaan atas menyatunya kopi Manggarai dan rokok surya di tenggorokan. Sebuah sajian kebahagiaan tak terkira untuk ukuran orang Ruteng.

Dari pigor ini juga saya terinspirasi untuk menyelisik tentang keterkaitan perempuan dengan ekologi atau lingkungan hidup. Awalnya biasa-biasa saja, tetapi keuletan para perempuan tangguh PMKRI Ruteng dalam mengelola pisang mentah menjadi sebuah jajanan lezat di lidah ini membuat saya mencoba mencari literatur terkait hubungan dan keterkaitan pribadi mereka sebagai perempuan dan sumber utama panganan di tangan-tangan kreatif mereka.

Dari berbagai sumber yang coba saya gali ditemukanlah pandangan seorang Maria Mies (1986 dalam Shiva, 1988; 1998) yang menyebutkan bahwa kegiatan perempuan dalam menyediakan pangan sebagai produksi kehidupan dan memandangnya sebagai hubungan yang benar-benar produktif dengan alam, karena perempuan tidak hanya mengumpulkan dan mengkonsumsi apa yang tumbuh di alam, tetapi mereka membuat segala sesuatu menjadi tumbuh.

Proses pertumbuhan secara organis, yang di dalamnya perempuan dan alam bekerja sama sebagai mitra, telah menciptakan suatu hubungan khusus antara perempuan dan alam. Ada proses timbal balik karena kaum perempuan memahami bahwa tubuh mereka produktif, sebagaimana pemahaman mereka atas alam lingkungan luar.

Disamping itu, apa yang mereka ambil dari alam hanya untuk kebutuhan subsisten dan patut diketahui bahwa kaum perempuan adalah pelopor dalam membangun kehidupan. Mereka adalah produsen nafkah kehidupan yang pertama dan penemu ekonomi produktif yang pertama, yang selanjutnya menjadi awal produksi sosial dan penciptaan hubungan-hubungan sosial, yakni masyarakat dan sejarah (Maria Mies, 1986 dalam Shiva, 1988; 1988). Pada kepeloporannya, kaum perempuan adalah pelaku dalam membangun peradaban umat manusia selama ribuan tahun lamanya.

Di Indonesia, fakta mencengangkan menunjukkan ada sekitar 85 persen petani tidak memilik lahan dan perempuan adalah kelompok yang paling rentan dari berlangsungnya semua krisis ekologi. Dalam hal ini, pengetahuan perempuan dalam mengelola alam digantikan dengan cara baru yang mengabaikan keberlanjutan ekologi dan mata pencaharian mereka.

Berdasarkan laporan WALHI terdapat sekitar 82,5 persen kehancuran ekologi, perampasan lahan dan konflik sumberdaya alam disebabkan oleh korporasi, pemerintah dan aparat keamanan. Hal demikian tak lain dan tak bukan karena paradigma pembangunan yang sama sekali tidak sensitif ekologi bahkan kerap dijumpai bias gender.

Menurut Khalid, krisis lingkungan hidup dan sumber daya alam, tidak bisa dilepaskan dari ketidakadilan dan ketimpangan struktur penguasaan sumber daya alam, yang selama ini dikuasai oleh korporasi yang difasilitasi oleh negara melalui berbagai kebijakan. Ini semakin diperparah dengan sama sekali tidak merefleksikan sisi pandang perempuan.

Ide pembangunan telah menggeser kedaulatan perempuan dalam mengelola sumber daya alam dan menentukan pangan telah membuat pandangan perempuan tentang kehidupan menjadi kabur, bahkan oleh perempuan sendiri (Khalisah Khalid dalam Candraningrum [ed.], 2014).

Ditambahkan Khalid (2014) bahwa perempuan selalu ditempatkan sebagai kelompok yang tidak berdaya, tidak punya pengetahuan. Pengetahuan perempuan tentang tubuhnya dan hubungannya dengan kekayaan alam, pengetahuan bersama dalam pengurusan kekayaan alam dan sumber-sumber kehidupannya, dianggap tidak ada. Sehingga, perempuan tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan dalam hampir semua pengambilan kebijakan pembangunan.

Pengetahuan perempuan tentang tubuhnya, tentang relasi tubuh perempuan dengan kekayaan alam, serta pengetahuan perempuan, baik individu maupun kolektif dalam pengurusan kekayaan alam dan sumber-sumber kehidupan tidak masuk dalam agenda pembangunan.

Namun demikian, pengarusutamaan peran perempuan dalam memitigasi dan memulihkan krisis ekologi adalah modal sosial-ekologi yang penting untuk terus dilakukan dan ditumbuhkan. Inisiatif-inisiatif dan gerakan perempuan dalam memulihkan krisis sosial-ekologi hemat saya mampu untuk mengatasi kerentanan yang dialami perempuan.

Semisal, peran perempuan dalam konservasi alam, menjaga ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan yang berkeadilan gender, penguatan akses perempuan dalam pemanfaatan hutan, air, SDA, dsb. Dan tak kalah penting, mengembalikan peran aktif perempuan dalam membuat dan mengambil keputusan baik dalam pengelolaan pangan, lahan, air, SDA.

Dalam tataran praksis, pelibatan perempuan dalam merancang dan membuat kebijakan pembangunan, minimal ditingkatan desa, semisal melalui keterwakilan di Musrenbang. Tentunya, ini tidak selesai pada level inovasi teknokratis semata melainkan bagaimana kaum perempuan bisa kembali lagi ke peran produktifnya tanpa adanya bias androsentris dan dominasi patriarki.

Termasuk dapat membuat pisang gorang di warkop Petra milik teman-teman PMKRI Ruteng. Lezat di lidah, kenyang di perut. Atau mungkin pengaruh dibuat dan disajikan dengan cinta yang tulus? Entahlah, kadang kalau perempuan Manggarai datang menyeduh kopi sambil tersenyum pikiran semunya jadi buram. Hanya ada kata kagum saja yang keluar dari mulut. Atau? Eh...

Oleh: Andi Andur

COMMENTS

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Agraria,1,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,3,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,231,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,2,Berita,9,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,45,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,153,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,2,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,45,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,4,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,254,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,6,Kepemudaan,151,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,59,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,56,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,7,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,88,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,5,Novanto,1,Novel,15,NTT,117,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,351,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,22,Pariwisata,25,Partai Politik,24,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,PenaBiru,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,864,Peritiwa,2,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,PP PMKRI,1,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,67,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,25,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,7,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Perempuan, Ekologi dan Pigor di Warkop Petra
Perempuan, Ekologi dan Pigor di Warkop Petra
https://4.bp.blogspot.com/-hPVwDRFfM44/W2XhBiP2FlI/AAAAAAAAB0Q/uE5VZ5F6f9MMfjJxxnuhHEfTe4X9WM34QCLcBGAs/s320/unnamed%2B%25283%2529.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-hPVwDRFfM44/W2XhBiP2FlI/AAAAAAAAB0Q/uE5VZ5F6f9MMfjJxxnuhHEfTe4X9WM34QCLcBGAs/s72-c/unnamed%2B%25283%2529.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/08/perempuan-ekologi-dan-pigor-di-warkop.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/08/perempuan-ekologi-dan-pigor-di-warkop.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close