Penduduk Rampasasa Manggarai Bukan Keturunan Orang Pendek Gua Liang Bua
Cari Berita

Penduduk Rampasasa Manggarai Bukan Keturunan Orang Pendek Gua Liang Bua

MARJIN NEWS
5 August 2018

Sebagai informasi, para peneliti tidak menemukan adanya bukti unsur genetik yang mungkin berasal dari Homo floresiensis pada manusia kerdil Flores. (Foto: Ist)

Ruteng, Marjinnews.com –  Flores merupakan pulau yang dikenal dunia sebagai tempat ditemukannya Homo floresiensis atau dikenal sebagai Hobbit.

Manusia kerdil purba ini ditemukan di gua Liang Bua.

Uniknya, di sekitar gua tersebut juga tinggal manusia kerdil Flores, yaitu penduduk dusun Rampassasa.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, jika bukan keturunan Hobbit, lalu apa alasan orang pigmi punya ukuran tubuh kerdil?

Lebih dari satu dekade lalu, fosil manusia purba Homo Floresiensis yang telah punah ditemukan di Flores. Dikarenakan tubuhnya yang lebih kecil dari manusia pada umumnya, fosil ini dijuluki "The Hobbit".

Menariknya, di sebuah desa bernama Rampasasa, Flores, tinggal pula penduduk bertubuh kerdil yang diasumsikan memiliki hubungan dengan H Floresiensis.

Apakah keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain?

Untuk mengungkap hal ini, Serena Tucci, peneliti postdoctoral di laboratorium Akey, Princeton University, membandingkan genom dari manusia kerdil yang masih eksis dengan sekuen DNA dari manusia modern, Neanderthal, Denisovans.

Idenya adalah menemukan kumpulan genom yang tidak dikenali, yang mungkin berasal dari H Floresiensis.

Mereka menggunakan 32 genom manusia kerdil modern yang saat ini tinggal desa Rampasasa, dekat goa Liang Bua, tempat fosil H floresiensis pertama ditemukan pada tahun 2004.

Hasilnya, mereka menemukan DNA Neanderthal dan Denisovan di dalam genom manusia kerdil Rampasasa, tetapi tidak ditemukan kemungkinan yang mengarah ke H.floresiensis.

“Jika ada kemungkinan untuk mengetahui hobbit secara genetis dari genom manusia yang masih eksis, harusnya ada kecocokan. Tapi kami tidak melihatnya. Tidak ada indikasi aliran gen dari hobbit ke orang-orang yang ada saat ini,” kata Richard "Ed" Green, seorang profesor teknik biomolekuler di University California -Santa Cruz (UCSC).

Fosil H. floresiensis sendiri menunjukkan tubuh yang lebih pendek secara signifikan dibandingkan dengan manusia kerdil di Rampasasa (H. floresiensis memiliki tinggi sekitar 106 cm, dan manusia kerdil Rampasasa memiliki tinggi badan rata-rata 145 cm).

Menurut Tucci, Floresiensis juga memiliki perbedaan dengan Homo sapiens dan Homoerectus pada pergelangan tangan dan kaki mereka.

Ini mungkin karena kebutuhan mereka memanjat pohon untuk menghindari komodo.

Selain itu, terisolasi di sebuah pulau dengan sumber makanan yang terbatas juga berpengaruh pada perubahan ukuran tubuh.

Pengaruh Alam dan Pola Makan Hingga ada orang Pendek itu

Dalam laporan Kompas.com, analisis mengungkapkan bahwa perubahan evolusioner berasosiasi dengan pola makan dan perawakan pendek pada populasi pigmi (manusia kerdil Flores).

Untuk mendapatkan temuan tersebut, Richard E. Green, associate professor bidang rekayasa biomolekuler dari Universitas California Santa Cruz dan para peneliti lainnya sebelumnya menemukan dan mensekuens DNA dari fosil manusia purba selain "Hobbit".

Kedua manusia purba yang dimaksud adalah Neanderthal dan Denisovans.

Mereka kemudian menetapkan bahwa genom dari beberapa manusia modern saat ini mengandung sekuens DNA kedua manusia purba tersebut.

Artinya, telah terjadi beberapa perkawinan silang di masa lalu.

Hasil serupa juga terlihat pada genom penduduk Rampassasa. Mereka mempunyai sejumlah kecil DNA Neanderthal dan Denisovans, seperti populasi lain di Asia Tenggara dan Melanesia.

"Secara genetik, mereka tidak begitu berbeda dari populasi lain di bagian dunia itu," kata
Green.

Herawati Sudoyo, peneliti senior dari Lembaga Eijkman yang turut terlibat dalam penelitian ini mengatakan, temuan itu serupa dengan penelitian sebelumnya yang diterbitkan dalam majalah Science tahun 2009.

Penelitian tersebut memeriksa gen dari dua kelompok populasi di Flores, yaitu penduduk Rampassasa dan warga Soa.

Para peneliti menggunakan marka DNA inti 50.000 Single Nucleotide Polymorphism (SNP) dalam studi tersebut.

Hasilnya, pola pembauran dan jejak migrasi yang kurang lebih sama.

Perbedaannya ada dalam gen yang berhubungan dengan tinggi badan dan asupan makanan.

Para peneliti kemudian menganalisis genom manusia kerdil Flores sehubungan dengan gen terkait tinggi yang diidentifikasi di Eropa.

Mereka menemukan, frekuensi varian genetik yang tinggi yang berasosiasi dengan penurunan tinggi badan.

Dengan kata lain, evolusi perawakan pendek pada orang pigmi merupakan hasil seleksi alam yang berpengaruh pada variasi genetik sebelumnya.

"Ini berarti bahwa varian gen ini ada pada nenek moyang yang sama dari orang Eropa dan pigmi Flores," ujar Green.

"Mereka menjadi pendek karena adanya proses seleksi terhadap variasi genetik yang sudah ada dalam populasi," imbuhnya.

Para peneliti mengatakan, genom pigmi juga menunjukkan adanya bukti seleksi pada gen yang memberi informasi untuk enzim yang terlibat dalam metabolisme asam lemak, yaitu asam lemak desaturase (FADS ).

Gen-gen tersebut telah dikaitkan dengan adaptasi pola makan pada populasi lain, termasuk suku Inuit di Greenland.

Ini menunjukkan bahwa ada sesuatu di masa lalu yang menyebabkan pola makan mereka (orang pigmi) berubah secara dramatis. Hal tersebut kemudian diadaptasi oleh seleksi alam yang mendukung varian tertentu dari gen-gen itu.

Selain itu, evolusi ukuran tubuh sebenarnya bukan hal baru. Hal ini merupakan fenomena umum yang terjadi pada mamalia besar yang terisolasi di pulau-pulau.

Keadaan ini sering dikaitkan dengan sumber makanan yang terbatas atau predator yang mengintai.

"Banyak peristiwa aneh terjadi di pulau-pulau," kata Green.

"Dengan lungkang gen (seluruh materi genetik yang terkumpul dalam satu populasi) yang terputus dari populasi yang besar, populasi pulau menjadi bebas berevolusi berdasarkan tuntutan ekosistem yang kecil," tambahnya.

Ini berarti, bagi negara kepulauan seperti Indonesia, hal ini sangat umum terjadi.

"Suatu fenomena yang memang diperkirakan akan banyak kita temui, apalagi di negara kepulauan seperti Indonesia," Hera menambahkan.

Bukan Gen Hobbit

Sebagai informasi, para peneliti tidak menemukan adanya bukti unsur genetik yang mungkin berasal dari Homo floresiensis pada manusia kerdil Flores.

"Jika ada kesempatan untuk mengetahui genetik “hobbit” dari genom manusia modern,
inilah saatnya," kata Green.

"Tapi, kami tidak melihatnya. Tidak ada petunjuk adanya aliran gen dari 'hobbit' ke manusia yang hidup saat ini," tegasnya. (RN/MN)