Mama, Antologi Puisi Melita Encik
Cari Berita

Mama, Antologi Puisi Melita Encik

MARJIN NEWS
13 August 2018


Sepimu suci
Sunyimu syahdu
Marahmu adalah berkat. (Foto: Dok.Pribadi)
Kokok jantan di petang itu membuat kecemasan didadamu kian membelukar
Sambil menepis peluh disamping hidungmu yang berguyur bak musim hujan dibulan januari

Basah, lebat dan tak henti bergelayut diambang kantung mata
Sepanjang matahari meredam tenggelam
Doa-doa keselamatan tak henti kau rapal

Pecah amarah membuncah dalam dada
Sebab anak-anakmu yang nakal tak jemu jahitkan hatimu sembilu

Sepimu suci
Sunyimu syahdu
Marahmu adalah berkat

Sebab cara mencintai seorang ibu kepada penghuni detak jantungnya seperti pelangi
Untukmu, nafas hidupku.

Yang Kupanggil Masa Lalu

Kau pernah menjumpaiku disebuah ruang yang terjauh dari matamu

Dalamnya tak ada bunga juga aroma tubuh yang menyengat

Sebab tak pernah kau jelajahi berandanya sekalipun itu milikmu .

Seperti Pagi

Seperti pagi, memecahkan bibir-bibir bisu suarakan syukur

Barangkali waktu semalam tidur, mimpi mendahului hasrat doa

Merebut kuasa hati pimpinkan pelupuk pada bantal yang empuk
Seperti pagi, selalu ada dan akan selalu ada

Dan mencintaimu aku seperti pagi yang dihadiahkan olehNya

Seperti pagi yang selalu datang tepat waktu meski tak pernah berjanji untuk menunggumu disini

Lelaki yang selalu kusanding dalam puisi namun tak pernah kumainkan dengan bibir

Barangkali Diantara Kabut

Tercipta sebuah perjumpaan
Yang telah dikekalkan oleh semesta,
Pesona gereja tua dan semarak lilin bernyala
Terpendarlah kau diantara cahaya-cahaya
Matamu kau buka, suaramu kau gaungkan.

Rupamu tak kulihat

Namun darimanakah hatiku berkata matamu kau buka dan memandangku?
Tanyaku tak kau jawab,
Kabut itu kau jubahi pandanganku,
Ya, dalamnya ada kau dan rupaku .
Bibirku yang kusut kau tarik jadikan sebutir senyum suci pada pintu yang terbuka dua.

(Lembor, 07 Agustus 2018)

Oleh: Melita Encik 
Mahasiswa Semester III Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undana, Kupang