"Kumpul Kebo" Merusak Moralitas Bangsa

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

"Kumpul Kebo" Merusak Moralitas Bangsa

MARJIN NEWS
16 August 2018

Pemenuhan naluri biologis hanya dibenarkan ikatan suami istri. Jika tidak, berarti salah dan haram hukumnya. Itu sebabnya masyarakat memberikan penilain yang sama atau bahkan jauh lebih buruk bagi pelaku kumpul kebo. (Foto: Ilistrasi)

Orang Indonesia menyebut pasangan yang tinggal bersama sebelum menikah dengan istilah “kumpul kebo”.

Secara sederhana, kumpul kebo adalah perilaku yang ditunjukkan oleh laki-laki dan perempuan yang memutuskan hidup bersama dalam satu rumah tanpa ikatan pernikahan.

Sama halnya dengan binatang (yang diidentifikasikan dengan kerbau), yang tinggal dalam satu atap tanpa ikatan resmi. 

Istilah yang menganalogikan perilaku hubungan manusia dengan binatang menunjukkan bagaimana masyarakat memberikan penilaian miring terhadap keputusan untuk hidup bersama tanpa adanya ikatan yang sah.

Istilah kumpul kebo berasal dari masyarakat Jawa generasi tua. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya perbuatan/perilaku hidup dalam satu rumah tanpa ikatan pernikahan bukanlah barang baru.

Di masa lalu, perilaku ini telah menjadi fenomena yang dianggap melanggar konvensi sosial masyarakat (budaya/adat istiadat) Pelakunya dikucilkan, sedangkan perilakunya mendapat predikat negatif seanalog dengan binatang.

Dengan demikian, kumpul kebo senantiasa ditolak dan dilarang karna akan merusak perilaku moral dan budaya yang di cita citakan bangsa indonesia.

Akan tetapi tak bisa dipungkiri bahwa perilaku itu tak pernah hilang dari khasanah perilaku individual di kalangan orang Jawa sendiri sehingga menghasilkan terminologi perilaku negatif yang kita kenal dengan “kumpul kebo”.

Di Indonesia, seks masih dikategorikan sebagai sesuatu hal yang  tabu. Adanya stigma yang berlaku umum di masyarakat bahwa pasangan kumpul kebo tentu melakukan aktivitas/perilaku seksual ditambah perilaku pacaran yang identik dengan seks membuat derajat penerimaan sosial masyarakat terhadap perilaku kumpul kebo sangat kecil.

Meski kasus hamil di luar nikah akhir-akhir ini merebak, namun tidak menunjukkan adanya kelonggaran masyarakat terhadap konvensi sosial yang membatasi hubungan seksual dalam lembaga pernikahan.

Pemenuhan naluri biologis hanya dibenarkan ikatan suami istri. Jika tidak, berarti salah dan haram hukumnya.

Itu sebabnya masyarakat memberikan penilain yang sama atau bahkan jauh lebih buruk bagi pelaku kumpul kebo.

Pada kasus milenial di Indonesia sekarang ini, tontonan baik televisi maupun sosial media seperti youtube dan lainnya, banyak memberikan pengaruh  negatif untuk membentuk cara pandang terhadap tindakan kumpul kebo.

Film Holywood, Bollybood bahkan drama Asia seperti Korea, Jepang, Filipina, dan Thailand memberikan gambaran tentang bagaimana remaja-remaja di masing-masing wilayah itu dalam menjalani  kehidupan sehari-hari, termasuk dalam urusan percintaan.

Terlepas dari gambaran apakah jenis film di atas menggambarkan realita yang sesungguhnya atau dilebih-lebihkan, harus diakui bahwa remaja Indonesia mendapatkan gambaran tentang bagaimana remaja di “seberang lautan” sana menjalani pola berpacaran, termasuk keputusan hidup bersama dalam satu rumah tanpa ikatan pernikahan.

Keputusan hidup bersama sering kali dituding tidak menghormati lembaga perkawinan, baik agama maupun budaya bangsa. 

Selama ini lembaga perkawian dianggap sakral sehingga harus diperlakukan dengan baik dan benar.

Hidup bersama dianggap sebagai sebuah sikap yang mengadopsi pola-pola perilaku yang seharusnya  dilakukan hanya jika pasangan tersebut telah menikah.

Dengan demikian, fenomena hidup bersama tanpa ikatan perkawinan/pernikahan menunjukan adanya pergeseran pandangan tentang perkawinan di kalangan anak muda.

Berbeda dengan generasi tua yang memandangnya sebagai sebuah pergeseran ke arah negatif, generasi muda kita cenderung menganggap pola hidup bersama justru menunjukkan pandangan mereka tentang perkawinan/pernikahan sebagai sesuatu yang sakral dan serius.

Perkawinan dua orang dangan latar belakang dan kebiasaan yang berbeda bukanlah sesuatu yang mudah karena harus ada proses sebelumnya yang membuat mereka berdua bisa saling memahami dan mengerti satu sama lain.

Hidup bersama memungkinkan mereka mengenal pasangan lebih dalam sehingga ketika mereka menikah tidak terlalu sulit untuk melakukan adaptasi.

Ada kecenderungan bahwa keputusan hidup bersama dianggap sebagai “latihan awal” sebelum memasuki jenjang pernikahan. 

Bagi generasi milenial, pernikahan bukan sebatas tanda tangan di akte perkawinan/pernikahan, namun lebih dari itu adalah komitmen hidup bersama sampai akhir hayat.

Bisa jadi maraknya kasus kawin cerai menjadi pertimbangan generasi milenial untuk tidak menikah muda, mengingat bahwa perkawinan bukan sesuatu yang hal sepele sehingga ada banyak hal yang harus dipertimbangkan.

Seorang kawan lama yang saya temui di warung kopi menuturkan bahwa, ia justru menjadikan keputusan hidup bersama dengan pacar sebagai bagian dari “belajar menikah”.

Dalam masa hidup bersama itu, Ia dan sang pacar bersepakat melakukan pembagian tugas dalam “rumah tangga” yang dibayangkan di masa depan.

Mencuci, menanak nasi, menyiram, menyetrika adalah aktivitas rumahan yang dilakukan secara bersama-sama. Menurut saya, kesadaran ini menarik karena secara tidak langsung merupakan pemikiran yang transformatif sekaligus anti tesis terhadap adat dan tradisi di masa lalu.

Belajar menikah yang dibayangkan oleh kawan saya di atas bisa jadi adalah latihan berbasis gender untuk mempersiapkan diri ketika telah berumah tangga.

Artinya, tidak ada pembeda peran antara tugas laki-laki dan perempuan di dalam rumah tangga. Semua serba cair dan situasional serta saling mendukung satu dengan lainnya.

Pada sisi yang lain, praktik pernikahan di masa lalu nampaknya hanya memberikan pelatihan kesiapan seksual untuk memperoleh keturunan semata.

Faktor–faktor lain seperti kesiapan rohani, pengaturan sumber ekonomi atau kerjasama suami-istri absen dan seolah dianggap tidak penting.

Pada kesempatan yang lain, bagi generasi milenial ada kecenderungan menjadikan keputusan hidup bersama untuk menemukenali sekaligus membiasakan diri terhadap pola perilaku seksual pasangannya.

Tetapi jika kita kembali kepada pandangan budaya serta adat istiadat bangsa kita,perilaku tersebut justru akan merusak sikap dan moral pada generasi/penerus karena tidak sesuai dengan norma agama dan adat istiadat bangsa kita.

Penulis: Edho Padjoe
Jurnalis MarjinNews Jakarta.
Editor: Remigius Nahal