Ketahanan Nasional Dan Perannya Dari Perspektif Pendidikan
Cari Berita

Ketahanan Nasional Dan Perannya Dari Perspektif Pendidikan

24 August 2018

Gejala berkembangnya dua ideologi asing, yakni neoliberalisme dan radikalisme agama, merupakan tanda kegagalan ketahanan nasional kita sebagai bangsa. Kedua ideologi itu bahkan merasuki dunia pendidikan. (Foto: Dok. Pribadi)

Tidak bisa dipungkiri, bangsa Indonesia sedang dihantam dari berbagai penjuru. Di satu sisi, ideologi neoliberalisme merasuk ke dalam sendi-sendi politik, ekonomi, hukum dan budaya Indonesia. Di dalam ideologi ini, uang menjadi raja, dan segalanya tunduk pada kekuatan uang. Politik bisa dibeli dengan uang. Bahkan hukum dan budaya, yang menjaga kelestarian hidup bersama, juga bisa dibeli dengan uang.

Kursi politik bisa diperoleh oleh penawar tertinggi. Hukuman bisa dikurangi dengan suap menyuap. Gaya hidup masyarakat pun dipenuhi dengan berbagai upaya untuk memperoleh uang, dan membelanjakannya untuk kesenangan pribadi. Nilai-nilai kesederhanaan hidup dan solidaritas terkikis habis.

Di sisi lain, radikalisme agama pun juga merasuki dunia politik, ekonomi, hukum dan budaya kita. Radikalisme agama adalah kerinduan akan kemurnian ajaran suatu agama di dunia yang majemuk dan kompleks. Ini jelas adalah gejala sakit jiwa. Tidak hanya itu, kaum radikal bersedia melakukan kekerasan untuk mewujudkan “mimpi sakit jiwa” mereka.

Di Indonesia, kita sudah melihat pergeseran beberapa partai politik ke arah radikalisme agama. Pilkada Jakarta 2017 menjadi pembelajaran bersama tentang ini. Apakah peristiwa serupa akan terjadi pada 2019 nanti? Jawabannya tergantung pada ketahanan nasional bangsa Indonesia itu sendiri.

Kegagalan Ketahanan Nasional

Gejala berkembangnya dua ideologi asing, yakni neoliberalisme dan radikalisme agama, merupakan tanda kegagalan ketahanan nasional kita sebagai bangsa. Kedua ideologi itu bahkan merasuki dunia pendidikan. Pendidikan pun berubah menjadi ajang cuci otak, entah menjadi ladang penghasil koruptor, atau ladang penghasil kelompok radikal agamis. Diperlukan sebuah perubahan mendasar di dalam strategi ketahanan nasional bangsa kita.

Ketahanan nasional adalah kemampuan suatu bangsa untuk menghadapi beragam tantangan yang muncul, baik tantangan dari dalam negeri, maupun luar negeri. Ketahanan nasional membantu suatu bangsa untuk mempertahankan identitas maupun integritasnya sebagai bangsa. Ketahanan nasional memiliki beberapa unsur, yakni ketahanan ideologi, ketahanan ekonomi, ketahanan politik, ketahanan budaya dan ketahanan keamanan.

Bangsa yang memiliki ketahanan sosial tinggi hidup dalam keadilan dan kemakmuran. Hukum bisa diandalkan untuk menghukum para pelanggar hukum, lepas dari status ekonomi ataupun sosialnya. Pertumbuhan ekonomi juga merata, sehingga bisa memberikan hidup yang bermartabat secara ekonomis bagi pihak yang paling miskin di masyarakat. Ini semua bisa dicapai, jika ada perubahan cara berpikir yang mendasar.

Peran Pendidikan

Dari sudut pandang ini, unsur ketahanan nasional terpenting adalah pendidikan. Sudah terlalu lama pendidikan Indonesia diisi dengan beragam kebodohan, mulai dari kepatuhan buta, soal ujian yang menumpulkan kreativitas, sampai dengan pembiaran terhadap ideologi asing, yakni neoliberalisme dan radikalisme agama.     Tak heran, dengan pola pendidikan semacam ini, dunia pendidikan Indonesia terpuruk di mata dunia internasional. Sumber daya manusia yang dihasilkan pun bermutu rendah.

Filsafat, terutama unsur kritis dan bernalar sehat, harus masuk menjadi unsur inti pendidikan nasional. Ini dimulai dengan memberikan pendidikan filsafat yang bermutu tinggi terhadap para guru dan praktisi ketahanan nasional. Filsafat disini bukanlah filsafat yang mengabdi pada agama atau budaya tertentu, melainkan filsafat dalam arti yang sebenarnya, yakni filsafat sebagai upaya dengan akal sehat dan sikap kritis untuk memahami dunia sebagai keseluruhan. Langkah berikutnya adalah memberikan pendidikan filsafat yang bermutu tinggi kepada masyarakat luas.

Pada akhirnya, ketahanan nasional bangsa Indonesia adalah urusan kita semua. Maka dari itu, kita memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan sikap kritis dan akal sehat yang kita punya. Filsafat jelas berperan besar dalam hal ini. Sikap kritis, akal sehat dan strategi jitu terkait ketahanan nasional akan membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa besar yang tak mudah goyang oleh beragam tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri.



Oleh: Imanuel Turot, PHPT PMKRI Cabang Yogyakarta, St.Thomas Aquinas.