Ke (Merdeka)an: Menyatunya Jiwa

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Ke (Merdeka)an: Menyatunya Jiwa

MARJIN NEWS
20 August 2018

Siapa yang mengobarkan “Semangat 45”? Tentu para pemimpin seperti Sukarno dengan corong publiknya waktu itu adalah Bung Tomo. Jiwa orang Indonesia bergetar   waktu Sukarno berpidato. Semangat orang Indonesia berkobar waktu mendengar Bung Tomo menyerukan slogan “Merdeka atau Mati”. (Foto: Dok.Pribadi)

Oleh Ben Senang Galus


Kemerdekaan Indonesia tidak turun dari langit, akan tetapi melalui suatu perjuangan yang melelahkan. Tidak sedikit jiwa telah dikorbankan para pendahulu kita hanya untuk sebuah kemerdekaan. Tidak sedikit pula harta benda yang mereka korbankan demi kemerdekaan bangsa kita ini.

Dalam memperjuangkan kemerdekaan itu ada satu semboyan yang telah diwariskan oleh para leluhur kita ialah “Neki Weki Pande Jepik, Becang Behas"(Bahasa Manggarai) yang artinya  “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Semobyan ini mengingatkan kembali bahwa kebersamaan tetap diperlukan di jaman modern ini. Nilai kehidupan Indonesia merumuskan kebersamaan haruslah  timbul dari kesatuan dalam jiwa anggota masyarakat.

Kebersamaan yang saya maksud digambarkan dengan ungkapan “ce ambong Ca Pande ce Nai"  yang artinya suatu kebersamaan dalam tindakan yang didasari oleh kesatuan dalam jiwa.  Perjuangan para pendahulu kita  benar-benar merupakan tindakan yang “Ce ambong Ca Pande ce Nai".

“Ce ambong Ca Pande ce Nai” atau menyatunya jiwa hanya mungkin tercipta kalau masyarakat mempunyai dan meyakini tujuan atau cita-cita yang sama. Tujuan perang kemerdekaan 1945 adalah mengusir penjajah dari Nusantara. Tujuan tersebut diyakini dan diperjuangkan sebagai kepentingan bersama. Hasilnya luar biasa. Indonesia sudah maju.

Siapa yang mengobarkan “Semangat 45”? Tentu para pemimpin seperti Sukarno dengan corong publiknya waktu itu adalah Bung Tomo. Jiwa orang Indonesia bergetar   waktu Sukarno berpidato. Semangat orang Indonesia berkobar waktu mendengar Bung Tomo menyerukan slogan “Merdeka atau Mati”.

Sejak Sukarno tiada, Indonesia tidak memiliki pemimpin yang mampu menyatukan jiwa bangsa ini. Tanpa “Ce Nai” maka tidak akan ada gerakan yang bersifat “Neki Weki Pande Jepik".

"Ce ambong Ca Pande ce Na" terkandung falsafah hidup Jawa yang dikenal dengan Nuk Morin, Salang de Morin, Ata (wera) Genap. Nuk Morin artinya orang harus selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Salang de Morin  berarti seluruh aktivitas dan gairah hidup harus disalurkan melalui jalan Tuhan. Ata (wera) Genap dimaknai sebagai harus merasa bangga ditakdirkan sebagai makhluk paling sempurna.

Falsafah Nuk Morin, Salang de Morin, Ata (wera) Genap dijadikan landasan pembentukan watak kesatriya yang pengabdiannya hanya ditujukan pada masyarakat. Watak luhur berdasar keadilan yang tinggi, integritas moral serta nurani yang bersih.

Semangat ksatrya kita bisa belajar dari para Pahlawan yang telah mendahului kita. Mereka rela berkorban demi kampung NKRI ini. Kita sebut saja mereka telah merelakan tanahnya untuk jalan yang sekarang  kita nikmati. Mereka telah merancang Indonesia ini bebas banjir, mereka telah menata kampung-kampung menjadi warga yang “Ce ambong Ca Pande ce Nai".  Nilai kepahlawan dalam kepeloporan mereka ialah Humer Campe (Rela berkorban), Humer Pati (rela membagi), humer teing (rela memberi),  humer nipi (rela bermimpi) Indonesia menjadi kampung yang “Neki Weki Pande Jepik, Becang Behas ". Mereka tidak memikirkan harta, tidak saling menyaingi, tidak saling Conga Bokak (sombong), Toto Gelu (Unjuk Lengan Besar) atau Wusa Ular. Bagaikan Kijang mengandalkan kecepatannya melompat dan gajah tubuhnya yang tinggi besar; Kemudian ular mengandalkan bisanya yang kuat.

Semangat para pahlawan ialah semangat Rame Raes, Rejek Leleng, Kelong Beo,  berarti watak dan perbuatan yang senantiasa mewujudkan dunia selamat, sejahtera dan bahagia. Seharusnya manusia berbuat untuk kepentingan sesamanya dan orang banyak bukan didorong oleh keinginan individual.

Semangat Rame Raes, Rejek Leleng, Kelong Beo tidak lepas dari aspek kewajiban luhur dan sikap hidup manusia. Hakekat hidup tidak akan lepas dari upaya berbuat baik terhadap sesama. Sikap semacam ini, tergolong perilaku yang terpuji karena mampu menghiasi dan memperindah dunia. Ketenteraman dan kedamaian adalah dasar kemuliaan hidup masyarakat Indonesia. Dunia sekitar manusia adalah ciptaan Tuhan yang patut dihiasi dengan perbuatan baik.

Nilai-nilai dalam falsafah Rame Raes, Rejek Leleng, Kelong Beo yang kita peroleh dari para pahlawan kita ialah rela berkorban demi orang lain tanpa pamrih, membangun persatuan dan kesatuan antara anggota masyarakat, menciptakan perdamaian dengan suku atau ras lain, tidak melakukan penghinaan terhadap sesama atau kelompok lain, menghargai perbedaan, musyawarah untuk mufakat, dsb. Apabila sikap tersebut dapat diciptakan di dalam kehidupan pribadi dan diterapkan di lingkungannya maka bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi kampung yang besar dan mempunyai masyarakat yang bermental kuat dan tahan banting dalam menghadapi cobaan bersama.***

Mardeka!!!!


Oleh: Ben S. Galus
Penulis Buku tinggal di Joyakarta