Kasus Penipuan Bisnis Material Bangunan, Anom Dituntut Jaksa 3 Tahun Penjara
Cari Berita

Kasus Penipuan Bisnis Material Bangunan, Anom Dituntut Jaksa 3 Tahun Penjara

MARJIN NEWS
8 August 2018

Dalam sidang pada senin (06/8) lalu itu, kakek Anom dituntut 3 tahun Penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Denpasar yang dibacakan oleh Nyoman Bela Atmaja. (Foto: MarjinNews)
Denpasar, Marjinnews.com -- Kakek Anom (73) yang menjadi terdakwa kasus penipuan bisnis perlengkapan toko  material bangunan hingga korbannya mengalami kerugian milyaran rupiah akhirnya disidangkan di PN Denpasar dengan agenda pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dalam sidang pada senin (06/8) lalu itu, kakek Anom dituntut 3 tahun Penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Denpasar yang dibacakan oleh Nyoman Bela Atmaja.

" Agar majelis Hakim menjatuhkan pidana tethadap terdakwa Anom dengan pidana penjara selama tiga tahun dipotong selama terdakwa berada di dalam tahanan sementara dengan perintah tetap ditahan," tegas JPU Nyoman Bela Atmaja dalam tuntuannya.

Dihadapan Hakim yang diketuai Ni Made Purnami, Jaksa menyatakan perbuatan terdakwa secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana.

Yakni, mata pencaharian atau kebiasaan membelikan barang-barang dengan maksud supaya tanpa pembayaran seluruhnya, memastikan penguasaan barang-barang itu untuk diri sendiri maupun orang lain.

Perbuatan terdakwa dijerat dengan Pasal 379b (a) KUHP sesuai surat dakwaan tunggal Penuntut umum.

Karena itu, jaksa meminta mejelis hakim untuk mengadili perkara ini dan menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa.

JPU dalam persidangan itu juga menyatakan ada dua hal yang menjadikan pertimbangan atas tuntutan hukuman itu. Pertama, hal yang memberatkan yaitu perbuatan terdakwa telah merugikan saksi korban. Kedua, terdakwa belum pernah dihukum dan bersikap sopan selama persidangan.

Mendengar tuntuan JPU Kejari Denpasar itu, Kakek Anom meminta pembelaan dihadapan mejelis hakim supaya hukumannya diringankan.

"Minta keringanan yang mulia, saya sudah berusia 73 tahun, sering mengalamai sakit-sakitan jantung, dan kolestrol. Saya juga masih punya tanggungan satu anak berusia 18 tahun," ujar terdakwa dalam pembelaan singkatnya secara lisan.

Untuk diketahui, akibat perbuatan terdakwa itu, korban yaitu PT Padi Mas Prima mengalami kerugian sebesar Rp 5,8 miliar, PT Catur Aditya Sentosa mengalami kerugian sebesar Rp 15 juta, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk. Cabang Denpasar mengalami kerugian Rp 696 juta, dan PT Surticon Buana Perkasa mengalami kerugian Rp 5,8 miliaran. (RN/MN)