Gurauan Mata Darah, Antologi Puisi Berto Hardu
Cari Berita

Gurauan Mata Darah, Antologi Puisi Berto Hardu

6 August 2018

Foto: Dok. Pribadi


Sunyi di Keramaian Kota

Tak ada lagi hamparan padi yang menguning
Bukit-bukit seketika menghilang diselimuti gedung yang menjulang
Membungkam kicauan burung di sore nan ramai
Kumelangkah menelusuri setapak sepanjang trotoar menuju tepian jalan
Tak mengenal rindangnya pepohonan
Kerumunan orang membanjir setiap persimpangan
Seketika memori mengusik kampung halaman
Rindu akan kesunyian senja
Rindu akan tetesan embun yang menyapa dikala mentari muncul dari ufuk timur
Rindu akan orang tua yang meletakkan aku di keramaian kota
Aku ingin pulang
Hidup bagaikan binatang jalang yang terus menerjang
Ke sana ke mari disokong banyaknya badai penghalang
Jangan risau jika raga tinggal tulang
Mungkinkah goresan hidup ini memberi banyak arti ?
Menjadikan lukisan secercah harapan lebih bermakna
Hanya satu harapan sejuta warna
Hingga pelita bahagia bernyala indah menyapa harapan nyata

Makassar, Maret 2017

GURAUAN MATA DARAH

Pelita itu seketika menyala saat mentari condong ke tepi barat
Desiran angin pantai mengusik jiwa yang melarat
Sunyi bercampur remang pertanda hidup yang sesat
Ataukah ini bagian dari untaian kata para peramal, bahwa dunia segera kiamat
Segerombolan pemuda desa yang terus menjerit
Bukan karena raganya terserang sakit
Ataukah jiwanya di masuki setan berpenyakit
Namun karena beban hidup yang terus menggeligit
Mereka terbuai oleh mimpi , hingga lupa mawas diri
Mereka termakan ilusi, hingga rezeki tak kunjung menepi
Mereka sering disirami celoteh, hingga terbakar amarah
Bahkan jika hidup mereka di anggap sampah, tetesan air mata kini jadi darah
Ah . . .
Dasar payah
Dasar latah
Dasar susah
Dasar hidup tanpa arah
Gurauan itu terus berserakan dijiwa yang lelah
Pada setiap hinaan mereka memuja waktu untuk merebah
Menanti pelukan mimpi menyapa kisah
Dibalik kasur yang kini lusuh
Segudang cerita itu mereka sisipkan sebagai bekal sejarah

Lewur, Agustus 2018

Oleh: Berto Hardu