Dugaan Mahar Politik, Nasib Sandiaga Uno di Ujung Tanduk

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Dugaan Mahar Politik, Nasib Sandiaga Uno di Ujung Tanduk

MARJIN NEWS
14 August 2018

Hal itu bisa terjadi, jika saja lontaran yang disampaikan oleh wakil Sekjen Demokrat terbukti di pengadilan yang menyebut ada dugaan aliran dana sebesar Rp 500 miliar dari Sandiaga Uno ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS). (Foto: Ist)
Jakarta, Marjinnews.com - - Dugaan mahar politik yang dilakukan Sandiaga Uno Calon Wakil Presiden Prabowo diujung tanduk. 

Hal itu bisa terjadi, jika saja lontaran yang disampaikan oleh wakil Sekjen Demokrat terbukti di pengadilan yang menyebut ada dugaan aliran dana sebesar Rp 500 miliar dari Sandiaga Uno ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Menurut Andi Arief, uang itu demi memuluskan langkah Sandi duduk sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto di Pilpres 2019.

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) angkat bicara terkait cuitan Wakil Sekjen Partai Demokrat (PD) Andi Arief.

Anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar mengatakan, Pasal 228 Undang-Undang Nomor 7/2017 tentang Pemilu melarang seseorang memberikan uang atau imbalan kepada parpol untuk dapat menjadi calon presiden atau calon wakil presiden.

"Apabila setelah putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap terbukti seseorang tersebut menyerahkan imbalan ke partai politik untuk menjadi calon presiden, maka pencalonan dapat dibatalkan," ujar Fritz di Jakarta, Kamis (9/8).

Selain sanksi bagi pemberi, Fritz mengatakan, undang-undang juga mengatur sanksi bagi partai politik penerima imbalan.

"Partai politik yang menerima dana tidak dapat mencalonkan lagi calon presiden untuk pemilihan berikutnya. Itu yang kami dapatkan terkait ketentuan di Pasal 228," ucapnya.

Fritz menyatakan, pihaknya akan menelusuri kebenaran cuitan Andi Arief. Menurutnya, dibutuhkan klarifikasi untuk membuktikannya dari pihak-pihak terkait.

"Ini membutuhkan proses klarifikasi dan apabila terindikasi maka membutuhkan putusan pengadilan untuk membatalkan pencalonan. Tapi tidak menghilangkan hukuman terhadap pemberian uang tersebut," pungkas Fritz.

Sebelumnya, politikus PD Andi Arief menulis sejumlah kicauan di Twitter mengkritik Prabowo, terkait sikap mantan Danjen Kopassus tersebut jelang pendaftaran capres-cawapres di Pilpres 2019.

“Operasi pertama adalah Jokowi calon tunggal. Jika tidak berhasil maka operasi selanjutnya menunjuk wakil Prabowo yang lemah dengan memanfaatkan kesulitan logistik Prabowo. Kalau sepak bola namanya pengaturan skor,” ujar Andi.

Mantan staf khusus kepresidenan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu juga menyatakan, sejak dulu ragu apakah gelegar suara Prabowo sama dengan mentalnya.

"Dia bukan strong leader, dia chicken. Jenderal kardus punya kualitas buruk, kemarin sore bertemu Ketum Demokrat dengan janji manis perjuangan. Belum dua puluh empat jam mentalnya jatuh ditubruk uang Sandi Uno untuk mengentertain PAN dan PKS,” sambung Andi. (*)