Dari Muhammad Yamin Hingga Wiji Thukul: Imajinasi Indonesia dalam Puisi dan Musik
Cari Berita

Dari Muhammad Yamin Hingga Wiji Thukul: Imajinasi Indonesia dalam Puisi dan Musik

MARJIN NEWS
20 August 2018

Semestinya gairah imajinasi adalah gairah bertanggung jawab secara moral atas kenyataan konkret yang pahit lagi mendesak. (Foto: Ilustrasi)

Jauh sebelum 28 Oktober 1928, Mohammad Yamin telah lebih dulu bergelut di dunia sastra. Puisinya yang berjudul Tanah Air pada tahun 1922 membuat dirinya dinobatkan sebagai perintis puisi modern Indonesia. Bahkan, karena itu pula, beberapa ahli sastra menjadikan puisi Tanah Air sebagai acuan awal mula lahirnya sastra Indonesia. Begitu pun dengan teks Sumpah Pemuda yang ditulisnya, hingga kemudian menjadi acuan lahirnya Indonesia.

Mohammad Yamin dengan sadar telah memanifestasikan imajinasinya lewat teks sumpah pemuda. Sehingga lahirlah Indonesia dari spektrum sastra dan rahim puisi. Maka muncul istilah “Indonesia adalah ibu kandung puisi”. Sejatinya, Sumpah Pemuda adalah puisi, yang bait demi baitnya berirama dan penuh dengan makna. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda bukan sekadar mahakarya seorang penyair, melainkan sebuah gagasan agung yang dihasilkan pemuda dalam memimpikan masa depan keberagaman dan persatuan bangsanya.

Pada tanggal 28 Oktober 1928 pada saat Kongres Pemuda II di Batavia, sebelum kongres ditutup, diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Soepratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia. (http://sprialtajung.wordpres)

Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu ini pertama kali diperkenalkan oleh komponisnya, Wage Rudolf Soepratman, pada tanggal 28 Oktober 1928 pada saat Kongres Pemuda II di Batavia. Lagu ini menandakan kelahiran pergerakan nasionalisme seluruh nusantara di Indonesia yang mendukung ide satu "Indonesia. (http://wikipedia.org).

Begitulah Indonesia dilahirkan.
Penuh semangat dan rasa optimisme terhadap kemerdekaan. Bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu menjadi ikrar yang mesti diimplementasikan anak bangsa dalam bernegara. Inilah yang dikatakan karakter bangsa yang sesungguhnya. Berkat nasionalisme yang tinggi, dan rasa percaya diri yang kuat, pemuda saat itu telah berhasil memainkan peran sebagai agent of change dan pemberi solusi.

Dalam perkembangan selanjutnya, kelahiran Indonesia sebagai sebuah negara baru mengubah imajinasi Indonesia sepenuhnya. Indonesia lahir dengan sejumlah masalah yang mesti direspon dan dipecahkan. Maka sejak pertengahan abad ke-20, imajinasi Indonesia dalam puisi merupakan respon terhadap realitas dan isu-isu aktual, terutama di bidang sosial dan politik. Ia merupakan usaha mengawal Indonesia di tengah kuatnya fenomena penyimpangan dari imajinasi awal tentang Indonesia, yakni dari cita-cita berdirinya sebuah negara-bangsa baru. Juga dari cita-cita kemerdekaan.

Di zaman revolusi, imajinasi Indonesia merupakan respon dan dorongan terhadap perjuangan merebut kemerdekaan; di zaman Orde Lama respon terhadap pertarungan politik dan ideologi; di zaman Orde Baru respon terhadap cacat-cacat pembangunan; di zaman Reformasi respon terhadap masalah moral dan etik yang sangat parah. Sejak itu, imajinasi Indonesia kehilangan kegembiraannya, keriangannya, kegirangannya.

Semestinya gairah imajinasi adalah gairah bertanggung jawab secara moral atas kenyataan konkret yang pahit lagi mendesak. Di sini, puisi tidak lagi menyanyikan Indonesia dengan irama gembira, melainkan dengan irama kecewa, prihatin, murung, sedih, dan marah.

Siapa yang tidak mengenal sosok Wiji Thukul, terutama melalui puisinya yang berjudul Pesan Sang Ibu. Reformasi di berbagai bidang dan di berbagai negara termasuk di Indonesia diawali dari sastra. Salah satunya, Wiji Thukul merupakan aktivis '98 yang lantang menghembuskan angin perjuangan. Melalui puisinya, Wiji Thukul berjuang.

Wiji Thukul telah memberikan kontribusi reformasi untuk negeri ini. Reformasi harus dibayar mahal. Wiji Thukul masih hidup ataupun sudah mati. Sampai hari ini tidak ada yang mengerti, Inilah puisi-puisi Wiji Thukul sebagai bahan kajian bagi akademisi. Setajam apakah kata-kata yang dipilihnya sehingga mengebiri penguasa negeri ini.

Perubahan corak imajinasi ini menggambarkan perkembangan perasaan dan ide tentang Indonesia dalam puisi sebagai segi mikro dari perasaan dan ide tentang Indonesia secara makro. Puisi bagaimanapun merefleksikan perasaan umum, sekaligus mengekspresikan sikap umum terhadap kenyataan. Puisi tidak hanya mewakili dirinya sendiri. Dalam konteks itu, tentu saja dapat dipahami bahkan dengan rasa hormat bahwa puisi menjalankan tanggung jawab moral dan sosialnya dengan merespon kenyataan - kenyataan konkret yang tak diharapkan dan bahkan menjengkelkan. Tetapi di sisi lain, dengan perubahan tersebut, puisi tampak larut begitu jauh dalam merespon kenyataan - kenyataan yang tak diharapkan. Ia larut dalam kekecewaan, keprihatinan, kemurungan, kesedihan, dan kemarahan.
Berikut adalah puisi Pesan Sang Ibu Karya: Wiji Thukul

Tatkala aku menyarungkan pedang
Dan bersimpuh di atas pangkuannya
Tertumpah rasa kerinduanku pada sang ibu
Tangannya yang halus mulus
Membelai kepalaku...
Tergetarlah seluruh jiwa ragaku
Musnahlah seluruh api semangat juangku
Namun sang ibu berkata....
Anakku sayang, apabila kaki sudah melangkah
Di tengah padang........
Tancapkanlah kakimu dalam - dalam
Dan tetaplah terus bergumam
Sebab, gumam adalah mantra dari dewa - dewa
Gumam mengandung ribuan makna
Apabila, gumam sudah menyatu dengan jiwa raga
Maka gumam akan berubah menjadi teriakan - teriakan
Yang nantinya akan berubah menjadi gelombang salju yang besar
Yang nantinya akan mampu merobohkan istana yang penuh kepalsuan
Gedung-gedung yang dihuni kaum munafik
Tatanan negeri ini sudah hancur, Anakku...
Dihancurkan oleh sang penguasa negeri ini
Mereka hanya bisa bersolek di depan kaca
Tapi, membiarkan punggungnya penuh noda
Dan penuh lendir hitam yang baunya ke mana - mana
Mereka selalu menyemprot kemaluannya
Dengan parfum luar negeri
Di luar berbau wangi, di dalam penuh dengan bakteri
Dan HEBATnya....
Sang penguasa negeri ini, pandai bermain akrobatik
Tubuhnya mampu dilipat - lipat
Yang akhirnya pantat dan kemaluannya sendiri
Mampu dijilat-jilat....
Anakku....Apabila pedang sudah kaucabut
Janganlah surut, janganlah bicara soal menang dan kalah
Sebab, menang dan kalah hanyalah mimpi - mimpi
Mimpi - mimpi muncul dari sebuah keinginan
Keinginan hanyalah sebuah khayalan
Yang hanya akan melahirkan, harta dan kekuasaan
Harta dan kekuasaan hanyalah balon-balon sabun
Yang terbang di udara...
Anakku, asahlah pedang
Ajaklah mereka bertarung di tengah padang
Lalu....Tusukkan pedangmu di tengah-tengah selangkangan mereka
Biarkan darah tertumpah di negeri ini...
Satukan gumammu menjadi REVOLUSI.

Oleh: Yohanes Marto
Aktivis PMKRI Cabang Makassar.
Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Pancasakti Makassar