Catatan Kecil Tentang Kamilius, Si Pemenang Hati Masyarakat Pocoleok
Cari Berita

Catatan Kecil Tentang Kamilius, Si Pemenang Hati Masyarakat Pocoleok

27 August 2018

Tidak semua orang mengenal beliau dengan segala perjuangan dan torehan prestasinya bagi orang lain (Foto: dok. pribadi)
Kehilangan merupakan sesuatu yang tidak diinginkan oleh setiap orang, apalagi jika yang dimaksud adalah orang paling berharga dalam kehidupan kita. Namun, meski demikian kehilangan membuat kita semakin sadar bahwa milik kitalah orang tersebut.

Catatan kecil ini adalah secuil kenangan paling berharga atas sosok paling istimewa bernama Kamilius Pambut. Pria yang selalu tampil dengan kepala plontos ini adalah seorang maestro perubahan kelahiran Kampung Mesir, Desa Lungar, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai pada 14 Juli 1983 silam.

Tidak semua orang mengenal beliau dengan segala perjuangan dan torehan prestasinya bagi orang lain. Dia terlalu rendah hati untuk dilupakan. Dia merupakan garam dan terang bagi masyarakat di kampung halamannya.

Terlahir dari sebuah keluarga yang sangat sederhana, putra tunggal pasangan Blasius Kebabu dan Elisabeth Lumut ini menempuh pendidikan di kampung halamannya. Seusai menyelesaikan pendidikan menengah, dia kemudian melanjutkan studinya ke STKIP St. Paulus Ruteng mengambil jurusan Bahasa Inggris.

Bermodal kemampuan yang luar biasa  dalam penguasaan bahasa asing, Kamilius kemudian menemukan jalan kehidupannya di dunia pariwisata. Dalam perjalanannya, banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi dengan susah payah. Jatuh bangun dia meniti karir, bangkit dari keterpurukan membuat jejak langkah pada setiap tapak kakinya kokoh.
Banyak pelajaran tentang kehidupan yang dia dapat dalam masa jelajahnya. Dia seperti seorang Gembala yang menyusuri gurun Sahara menuju Oasis dalam cerita The Alchemist karya Paulo Coelho. Baginya hidup itu merupakan sebuah pencarian tentang makna cinta yang sesungguhnya.

Cinta yang sungguh dan kepedulian yang sangat dalam membuat Putra Pocoleok ini luluh untuk mengabdi bagi masyarakat di kampung halamannya. Kampung Mesir yang tampil begitu polos menyajikan setiap detail realita kehidupan masyarakatnya membuat Kamilius keluar dari zona nyaman.

Dengan sedikit kemapanan, keluarga bagi Kamilius bukan hanya mereka yang melahirkan dan membesarkan dirinya. Sejak beberapa tahun lalu, ia menjadikan seluruh masyarakat di kampung halamannya menjadi keluarga yang cukup berarti baginya. Berbagai macam hal coba dibuatnya untuk mendedikasikan hidup serta pengetahuannya untuk banyak orang.
Pelan tapi pasti, Kamilius membuat beberapa program seperti penyuluhan tentang pentingnya pendidikan bagi semua keluarga di Pocoleok. Tidak hanya itu, semua sekolah di wilayah itu juga turut andil mendapat berkat dari dirinya berupa buku bacaan bagi anak-anak sekolah untuk membantu mereka keluar dari keterbatasan. Dia bahkan membantu merenovasi salah satu sekolah disana.

Buku bagi Kamilius bukan hanya sebagai jendela dunia, tetapi juga sebagai jembatan untuk membuat berbagai macam gebrak perubahan yang dimulai dari anak-anak usia sekolah. Pengalaman masa kecil yang serba kekurangan literatur untuk menambah wawasan membuat Kamilius menaruh empati dengan adik-adik di kampung halamannya. Dia merajut mimpi, membuat cerita baru tentang perjalanannya sebagai seorang anak manusia yang terberkati. Dia membuat anak-anak berani mengutarakan mimpi mereka. Dari sekian banyak anak-anak itu tidak sedikit yang hendak menjadi presiden untuk Indonesia lebih baik.

Jalan panjang perjuangan Kamilius menuai berkah. Keseringan bersua sapa dengan realitas masyarakat di kampung halamannya membuat mata hatinya terbuka. Sedikit demi sedikit, pria yang selalu mengajak tamu asingnya singgah dan menginap di rumahnya untuk berinteraksi dengan warga masyarakat disana ini kemudian menumbuhkan asah untuk membuat perubahan.

Dengan berbagai macam pertimbangan, beberapa waktu lalu dia mengutarakan niatnya untuk menjadi seorang legislatif dengan partai GERINDRA sebagai alatnya menuju mimpi itu. Dengan mewakili tiga wilayah pemilihan seperti Satar Mese, Satar Mese Utara dan Satar Mese Barat, pria dari kampung Mesir yang pandai berbahasa Inggris ini mengajak banyak anak muda untuk berjalan bersama-sama dengan dirinya.

Tidak ada waktu tanpa diskusi. Tidak ada waktu untuk sekedar berbicara tidak jelas selain konsep pembangunan merata di wilayah mereka. Baginya, hidup harus berguna bagi orang lain. Kita tidak boleh hanya tahu bergantung pada orang lain. Kita harus hadir dalam setiap celah-celah sempit keluh kesah mereka. Dia berkomitmen untuk menjadi pelayan bagi orang-orang kecil. Mungkin ini berlebihan, label politisi yang melekat dalam dirinya mungkin membentengi setiap niat baiknya untuk perubahan. Tetapi ia tidak mau menyerah. Dia keras kepala untuk mewujudkan mimpinya itu. Dia mau semuanya terwujud.

Namun, nasib memang selalu tidak pernah kita ketahui. Tuhan selalu punya rencana lain untuk masa depan anak-anak yang dikasihiNya. Atas kuasa Sang Ilahi, cinta Tuhan ternyata lebih besar atas dirinya. Kamilius pergi tanpa tahu kapan harus kembali. Dia meninggalkan begitu banyak cerita dan kenangan indah bukan hanya bagi keluarga yang dicintainya, tetapi juga bagi masyarakat Pocoleok.

Lembar demi lembar catatan kecil tentang dirinya kini mulai dibuka lagi. 20 Agustus 2018, akan menjadi hari dimana raganya akan dikenang sebagai sebuah perpisahan terpahit dalam diri siapa pun yang mengenal sosok Kamilius dengan sungguh. Terlalu cepat, dan bahkan Tuhan mesti memberikan sedikit colekan untuk istrinya yang sedang mengandung anak kedua sang maestro kehidupan itu.

George Pambut, jagoan dalam keluarga kecil itu bahkan belum sepenuhnya paham artinya ditinggal sosok paling berharga dalam hidupnya. Namun, dua tahun bersama kasih sayang ayahnya akan membuat dia mampu mewarisi kebaikan dari jiwa penuh sari kehidupan itu. Dia akan menjadi pencerita bagi adik kesayangannya tentang sosok Kamilius yang istimewa. Dia akan menjadi pelindung terbaik bagi sang ibunda, Marelina Diana Tuti.
Meski Kamilius telah pergi tanpa tahu kapan dia akan kembali, dia tetaplah hidup. Jiwanya akan terus merasuki jiwa-jiwa anak muda di seluruh pelosok negeri ini. Bahwa hidup harus direnungkan. Jika tidak, janganlah layakkan hidup itu untuk dihidupi. Kami merindukanmu kakanda.

Surat kecil untuk George Pambut

Dik, saya minta maaf. Kalimat-kalimat sederhana dalam tulisan ini sebenarnya tidaklah layak untuk menggambarkan betapa sempurnanya sosok ayahmu, Kamilius.
Jika nanti engkau sudah bisa membaca, ingatlah bahwa saat ini, yang pada waktunya nanti engkau akan menyebutnya dahulu ada begitu banyak orang yang kagum dengan dirinya. Termasuk saya, si pecundang yang diam-diam kagum dengannya.

Jika nanti engkau sudah bisa menulis, pakailah kemampuanmu itu untuk menggoreskan lebih banyak kisah tentang dia menurut ibumu. Beri tahu adikmu, bahwa jiwa ayahmu tidak pernah mati. Dia akan tetap hidup abadi.

Adikku George Pambut, sampaikan salamku untuk ayahmu lewat doa-doa kecil yang engkau lantunkan itu meski masih terbata-bata. Katakanlah, kami merindukan dia. Kami begitu sangat mencintainya. Kami akan selalu ada untuk perjuangan-perjuangannya. (AA/TP/BJ/MN)