Bambu Runcing, Kumpulan Puisi Heribertus Kandang
Cari Berita

Bambu Runcing, Kumpulan Puisi Heribertus Kandang

MARJIN NEWS
17 August 2018

Wahai para pemuda bangsa bakarlah semangat di jiwamu
perjuangan ini belum usai pertahankan dan isi kemerdekaan dengan kerja nyata demi bangsa dan negara Indonesia. (Foto: Ilustrasi)


Bambu Runcing

dunia menggeleng-geleng kepala
mata terbelalak terkesima nyata
bagaimana mungkin bambu Indonesia
menghadang meriam menyabung asa

bambu itu memang bambu biasa
namun penyandangnya luar biasa
adalah kesatria-kesatria Indonesia
pantang menyerah bela negara

bambu itu memang bambu biasa
namun, telah berlumur tirakat dan doa
atas kehendak Yang Maha Kuasa
bambu runcing jadi digdaya

bambu runcing memang pilih tanding
mendengar namanya bulu penjajah merinding
melihat bentuknya nyalinya keriting
melihat kridanya mereka lari terkencing-kencing

tak ada yang mustahil bagi Yang Kuasa
memenangkan bambu runcing dalam laga
atas berkat rahmat dan karuniaNya
Indonesia merdeka


Bulan di Atas Negeri

ini agustus, sayang
saat di mana anak bangsa merayakan kemenangan,
bukan kemerdekaan
saat di mana ada euforia dalam keterjajahan

inilah negeri kita, luar biasa
di mana kebenaran tak bisa bicara,
tertutup angkara
keadilan hanya angan belaka

ini agustus, sayang
inilah negeri kita
kapan kita merdeka?


Darah Juang

dari mata seorang awam
kami melihat
sebuah negeri yang terluka
negeri surga, katanya!

tapi kenapa penghuninya orang-orang dari neraka?
berkuasa
tidak mengatasnamakan cinta

bosan aku mendengar
cerita pribumi yang menindas rakyatnya sendiri
bosan aku melihat
congkak-congkak mereka
yang pura-pura buta dan pura-pura tuli

bertopengkan dewa
berlaku laksana raja
tapi hatinya entah di mana

negeriku sedang terluka
saat kemunafikan merajalela
keadilan hanya tinggal nama
semoga pahlawanku tidak menangis
melihat negeri yang diperjuangkannya
di ambang kehilangan nyawa

tuan !!!
kursimu nyaman ya?
itu dari kami!
kaum yang terbuang

istanamu megah ya?
itu persembahan dari kami!
orang-orang yang anda beri janji
tapi anda sumbat telinga ketika kami menyampaikan aspirasi

merah putihku, koyak
jahitannya robek, sisi demi sisi rusak
lusuh tak terurus
tangan kedengkian sudah mencabik-cabik

suci nurani mati!
dijunjunglah keserakahan hati!
ketika hukum runcing ke tanah
undang-undang hanya catatan si penegak keadilan, tidak lebih!

pantaskah kami nelangsa di negeri kaya?
layakah kami terluka di negeri surga?
kami menangis di bawah kaki mereka yang mengayomi tahta
hilang kesadaran
melayang tinggi hingga lupa daratan
kehilangan pijakan

aku rindu cerita ayah dan ibuku
tentang negeriku yang dulu
yang tidak terlalu bahagia tapi penghuninya sama rasa
berjuang untuk menang tanpa terpecah

mengabaikan derajat dan kasta
berisikan dalam damai
semoga dongeng itu kembali ada
tidak hanya dalam sejarah bertinta
biar pahlawanku tersenyum bangga
darah juangnya tidak tumpah sia-sia


Merah Putih di Tanah Gersang

lantang suara menggema
tinggi sang saka berkibar
semangat membara berkorbar
Pertiwi mengaum bergelegar

seiring para pemuda bersorak
merdeka..!
gejolak jiwa berubah damai
senyum haru merah mereka
ketika semua terbayarkan

tujuh pulu tiga tahun berlalu
suka duka datang dan pergi
satu satu kesatria bangsa berpulang
berganti cendikiawan munafik

bibir manis berhati kotor
menggerogoti tubuh bangsa
bersembunyi di balik kesucian
menyebut nama Tuhan sebagai tameng untuk membunuh

Pertiwi menangis dalam sakit
kebinekaan terus terancam
tak lagi sama bersatu dan berjuang
kebencian, curiga dan fitnah jadi fakta

siap mendepak yang jujur
dan mengangkat sang kotor
biar lumbung tetap tersedia
buat kemasyuran perut sendiri

inikah hasil dari perjuangan dulu
inikah harapan pejuang kita dulu
dan inikah cita cita pahlawan kita dulu

suara suara kecil kami masih lantang berucap
meski tak pernah teranggap
namun nurani ini akan terus berteriak
hingga menembus langit dan Tuhanpun mendengarnya

Semangat Sang Merah Putih

merah itu darah keberanian
memompa jantungku tetap berdetak
membakar semangat tetap berjuang
mempertahankan hak dan membela kebenaran

putih itu jiwa  nan suci
ikhlas berjuang tanpa mengharap imbalan
kutunaikan kewajiban
demi nilai - nilai yang harus dipertahankan

terik mentari yang membakar tubuh
angin yang mengguncang jiwa
tak jadi penghalang jalan
aku kan tetap tegar bergerak ke depan
kokoh menggenggam harapan bangsa

wahai para pemuda bangsa
bangunkanlah jiwa perjuangan
tegarlah menghadang rintangan
layaknya aku yang tetap berkibar setiap hari

wahai para pemuda bangsa
bakarlah semangat di jiwamu
perjuangan ini belum usai
pertahankan dan isi kemerdekaan dengan kerja nyata demi bangsa dan negara Indonesia

Oleh: Heribertus Kandang
Jurnalis Marjinnews.com Makassar