Awal dari Sebuah Rasa, Cerpen Ica Jetia

Foto: Dok.Pribadi
Cinta yang ku dambakan sangat berharga untuk ku pupuk. Kelak terwujud di lain kesempatan. Jika Tuhan mengkehendakinya. Benih-benih cinta perlahan berkobar seiring berjalannya waktu. 

Hatiku berdebar tak karuan…Cinta yang terpendam menuntutku untuk membuka rahasia di balik rasa yang aku simpan. Mudah namun terasa sulit ketika tuntutan membuat semuanya hancur 

 ***

Pagi itu aku terbangun dari tidurku. Kupandangi mentari sedang tersenyum menyambut awal yang baru. Tak sadar aku terbuai dalam genggaman sang surya. Hingga ragaku terperangkap oleh sinar manja mengelabuhi malam yang telah lewat.

“Selamat pagi ica”. Sejenak aku kaget mendengar suara samar yang memanggil namaku. Caranya menyapaku sangatlah lembut.

“Darimanakah suara itu berasal”? Kataku dalam hati. Kian detik aku menjadi semakin penasaran dengan nada yang terus menghantuiku. Terus dan terus berbisik tanpa bosan.

Langkahku perlahan mulai mencari tahu sumber suara yang ada. Aku pun berbalik dan mencoba melirik ke seluruh arah misterius itu. Sempatku tertegun setelah melihat sang mentari menari-nari berusaha mencari perhatian kepadaku dan menginginkan balasan dari sapaan yang ia gaungkan. apakah aku sudah benar-benar terbangun dari tidurku? Apakah ini hanyalah mimpi dan halusinasiku?

Menyaksikan matahari pagi santai berbicara denganku? Sahutku lagi. kuambil penaku dengan secarik kertas lalu kulukiskan. Sebagai bukti bahwa semua yang terjadi hanyalah kisah fiksi. Fiksi yang diselimuti imajinasi. Lukisan itu menyerupai sesosok pria berkacamata hitam tengah asyik merangkai kata sambil berpikir ditemani segelas kopi pahit di atas mejanya.

Kelihatannya dia sangat konsentrasi menuangkan ide dalam sebuah lembar kosong. “Apakah yang sedang dituliskannya? Awhh…sudahlah," kataku dalam hati. 

Aku pun menjadi acuh tak acuh dan tidak mau tau tentang semua yang kusaksiskan. Pria berparas sederhana itu membuatku tergelincir dalam lamunan rasa.

Rasa yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Seakan-akan setiap kata yang kuukir di kertasku mengalir begitu saja. Hingga Imajinasiku kian tergoncang dicekik deretan abjad.

Suatu pagi, aku dan temanku Feli sedang berjalan menuju ke kampus. STKIP St. Paulus Ruteng. Itulah nama kampusku. Kampus dimana kami belajar. Ketika kami masuk ke ruangan kelas, tiba-tiba Feli menarik tanganku dan menghentikan jejakku sesaat. Aku merasa aneh dengan tingkah Fel yang membuatku amat bingung. “Lihat ada dosen baru," sahut Feli kepadaku.

Wajah itu tidak asing bagiku. Dia benar-benar mirip dengan sosok pria yang ada di dunia fantasiku. Setelah moment itu terjadi, aku selalu mencaritau semua hal yang berkaitan dengan dia. Mencoba membongkar misteri di balik ilusiku. Misteri tentang keistimewaan dari pria yang selalu terbayang di memoriku.

Hari berganti hari, aku semakin diliputi rasa ingin tahu sampai-sampai tiap malam aku sering memimpikan B.F.H, bahkan dalam mimpi itu dia hadir sebagai cinta sejati titipan Tuhan. Mustahil memang, karena apa yang ada dalam mimpi tidak sesuai dengan harapan manusia pada umumnya. Tetapi di sisi lain, mimpi juga bisa menjadi petunjuk bahwa jodoh sudah dekat dengan kita.

Keduanya memiliki arti yang bertentangan. Aku percaya dengan hal itu, lewat mimpiku aku menemukan sosok yang nyata dalam kehidupan sesungguhnya. Walapun sebenarnya saya tidak bisa menafsir kalau dia fakta adalah jodohku. Soal jodoh hanya sang penguasa yang tahu. Kita hanyalah manusia biasa yang hidup dalam sebuah drama disertai harapan.

Keesokan harinya, aku kembali berjumpa dengan si dia. Namun tak berani kusapa. Matanya tearah lurus ke depan. Tak berani untuk menengok ke samping. Bisa dibilang dia orang yang sedikit cuek. Meski demikian, Aku suka pembawaannya. Penyemangat, berkomitmen, cerdas, kritis, kalem, juga pekerja keras. Kala yang sama, muncul perasaan yang tidak lazim dalam diriku tanpa aku sadari. 

"Mungkinkah aku jatuh cinta? Entahlah, biarlah waktu yang menjawab. Mungkinkah waktu berpihak kepadaku tuk mengatakan rasa suka ini kepadanya (B.F.H). Ataukah aku membiarkan semuanya terpendam"? Gumamku dalam hati.


Beberapa menit kemudian, aku membuka gedgedku, mencari alamat facebooknya B.F.H. Kudapati alamatnya lalu ku-add. Mulai dari situ, sikap penasaranku terbongkar dengan kepo berbagai status di berandanya. Aku tersentuh membaca semua kalimat puitis yang ada dipostingannya. Begitu indah dan penuh inspirasi. Aku bukan saja jatuh cinta kepadanya melainkan jatuh cinta juga terhadap syair-syair puisi yang ia lantunkan. Syair menyimpan banyak makna tersembunyi.

Komunikasi yang terjalin antara kami pun semakin hari semakin bersahabat. Aku selalu sms menanyakan kabarnyalah, sudah makanlah dan sebagainya. namun seperti biasa dia selalu cuek, lama balas chatku. Itu pun kalau dibalas apalagi dia orang yang super sibuk. Tapi saya tulus menanti balasan dari dia. Hingga suatu ketika saya termotivasi untuk menuliskan puisi yang mengekspresikan ketulusanku pada sang inspirator. Puisi sebagai simbol pengharapan. Berharap ada jawaban dari kasih yang aku miliki.

Kasih yang tak pernah berpura-pura. Kasih yang setia dalam penantian. Setia bertahan di waktu yang cukup lama. Sekitar 2 tahun. Setiap coretanku tertuju hanya untuk dia. Do’aku slalu mengiringi perjuangannya. Bagiku dia adalah cinta pertama dan terakhir dalam hidupku. Cinta yang kudambakan sangat berharga untuk kupupuk. Kelak terwujud di lain kesempatan. Jika Tuhan mengkehendakinya. Benih-benih cinta perlahan berkobar seiring berjalannya waktu. Hatiku berdebar tak karuan. Cinta yang terpendam menuntutku untuk membuka rahasia di balik rasa yang aku simpan. Mudah namun terasa sulit ketika tuntutan membuat semuanya hancur.

Aku takut situasi tak berpihak pada rasa. Aku khawatir bila air mata kembali menetes di pipiku. Lebih sakitnya lagi saat orang yang kita sukai tidak mencintai kita sama sekali. Harga diri menjadi ternoda oleh keinginan haram. Keinginan untuk memiliki dan dimiliki. Jujur, raganya seperti sudah tergambar sejak begitu mendalam. Pesona yang ia pancarkan tiap hari menyusup dalam dinding-dinding relungku. Labil sihhh. Tapi masih dalam tahap wajar-wajar saja. Aku suka ketika kami jedah kuliah, aku meluangkan waktuku untuk keluar ruangan merefresh otak sekaligus memperhatikan si dia.

Dia sering sekali pergi ke ruangan salah satu dosen mata kuliah karya tulis ilmiah di kampusku. Kebetulan kedua ruangan kami saling berhadapan. Jadi, mudah jika aku mau menatapnya berlama-lama. Hehehehhehehe.

Tiba-tiba Feli mengagetkanku.” Woehhhh, liat siapa sich? Serius amat," tukas Feli. 

“Aku lagi lihat inspirator misterius, Fel," ia terngangah, heran dengan ucapanku barusan. 

“Haaa? Kok aku baru tahu kamu ada inspirator tersendiri. Sehebat itukah dia sampai kamu menyebutnya inspirator”?

Detik itu aku mencurahkan semua isi hatiku kepada Feli tentang B.F.H. Pria dengan berjuta sajak ramah. Feli adalah teman yang setia mendengarkan curhatanku. Dia penghibur sejatiku saat duka, memberikan saran terbaiknya pada setiap masalah yang aku hadapi termasuk masalah rasaku yang belum sempat kuungkap.

Bersambung………….

Penulis Icha Jetia, tinggal di Ruteng, mahasiswi PGSD STKIP Santu Paulus Ruteng, Semester VI

Cerita ini hanyalah Fiktif Belaka, apabila ada kesamaan nama, tokoh, dan latar itu hanyalah sebuah kebetulan.

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,111,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,149,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,540,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,62,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,201,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,90,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1034,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,24,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,91,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,6,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Awal dari Sebuah Rasa, Cerpen Ica Jetia
Awal dari Sebuah Rasa, Cerpen Ica Jetia
https://3.bp.blogspot.com/-MajjkuVuvWk/W4BAxl7HvVI/AAAAAAAACIw/qL2ejbM0czg9ucQnhIS0w51K4NefBZfRgCLcBGAs/s320/20180825_013034.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-MajjkuVuvWk/W4BAxl7HvVI/AAAAAAAACIw/qL2ejbM0czg9ucQnhIS0w51K4NefBZfRgCLcBGAs/s72-c/20180825_013034.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/08/awal-dari-sebuah-rasa-cerpen-ica-jetia.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/08/awal-dari-sebuah-rasa-cerpen-ica-jetia.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy