Aci Maria

Ini adalah kisahku. Kisah tentang seorang anak laki-laki yang berasal dari kampung. (Foto: Dok.Pribadi)

“Ternyata masih ada orang yang baik di dunia ini ” ujarku dalam hati.


Sejak hari ini saya percaya bahwa orang Cina tidaklah kikir seperti yang orang-orang katakan.

Ini adalah kisahku.
Kisah tentang seorang anak laki-laki yang berasal dari kampung.
‘’Nak...  Nak... Bangun nak” Ujar bapak dengan suaranya yang lirih.

"Bapak, kenapa pak?" Tanyaku sambil mengusap mataku.

‘’Hari ini kamu bisa bantu bapa kah? Pergi ke kota untuk menjual cengkeh’’. Pinta bapak padaku.

‘’Iya bapa saya bisa". Jawabku sembari mempercepat langkahku ke kamar mandi.

Setelah semunya beres, aku pun memulai perjalanan dengan angkutan umum.

Oto yang aku tumpangi masuk terminal kota ketika matahari hampir mencapai puncak langit atau waktu sudah menunjukan pukul 11.00 siang.

Terik matahari yang menyengat, ditambah dengan panasnya mesin mobil yang sudah tua, memanggang mobil yang kami tumpangi beserta isinya.

Untung saja mobil yang saya tumpangi tidak terisi penuh sehingga para penumpang tidak bersentuhan badan karena padat. Maklum, hari ini adalah hari Senin di mana orang-orang di kampung sedang sibuk bekerja di kebun. 

"Andai saja aku berangkat ke kota hari Minggu kemarin, ahh sesaknya pasti minta ampun" gumanku dalam hati.

Namun, ada suatu hal yang membuatku tak nyaman selama perjalanan karena di sebelah kananku bertiup bau keringat melalui udara yang dialirkan dengan kipas koran. Dan juga dari belakang terus-menerus mengepul asap rokok Djitoe dari mulut seorang bapak tua. Sesekali aku mencoba menutupi mulut serta hidungku dan mencoba mengipas asap rokok yang mengepul itu, berharap si bapak tua tadi peka agar rokoknya segera dimatikan, tetapi usahaku sia-sia.

Begitu mobil berhenti di terminal, puluhan pedagang asongan serta kondektur angkutan kota dan tukang ojek menyerbu masuk. Beberapa di antara mereka bahkan sudah loncat untuk masuk ke dalam mobil ketika mobil masih berada di pintu masuk terminal.

Sang sopir meninggalkan mobil yang kami tumpangi begitu saja. Membiarkan para pedagang, kondektur, serta tukang ojek menawarkan dagangan dan juga jasa  mereka dengan suara yang melengking memekik gendang telingaku agar bisa mengatasi suara deru mesin mobil.

Para pedagang menyodorkan dagangannya, sampai-sampai dekat sekali ke mata para penumpang. Para kondektur dan tukang ojek adakalanya mencoba tawar-menawar sewa ongkos dengan penumpang. Kemudian, mereka mengeluh ketika mendapati tak seorangpun yang  mau berbelanja. Wajar saja kami tak mau membeli. Lantas, yang mereka jajakan berupa pisang, mangga, salak serta buah - buahan lainnya.

"Toh, semuanya sudah sangat banyak di kampungku, gratis lagi". Gumamku sekali lagi.

Seorang di antara mereka malah mengutuk dan mengeluarkan kata kasar dengan mengatakan para penumpang adalah manusia kikir atau manusia-manusia tak punya uang.
Suasana sungguh gerah, sangat bising dan para penumpang tak berdaya melawan kondisi seperti ini. Dalam keadaan seperti itu, harapanku serta harapan penumpang lainnya hanya satu, ialah berharap agar sang bapak sopir cepat datang dan mobil segera berjalan kembali untuk melanjutkan perjalanan ke pusat kota Ruteng.

Namun sang bapak sopir yang menjadi tumpuan harapan para penumpang itu kelihatan sibuk dengan kesenangannya sendiri. Sopir itu malah enak-enakan menggoda seorang perempuan penjual buah samping terminal.
Sementara para penumpang lain kelihatan sangat jengkel, aku mencoba bersikap lain.

Perjalanan seperti ini sudah puluhan kali aku alami. 
‘’Ini terbilang masih sangat baik karena masih bisa duduk di bangku panjang empuk beralaskan spon tebal‘’. 

Perjalananku kali lalu lebih ekstrem, bagaimana tidak puluhan penumpang laki-laki duduk di bagian atas mobil yang hanya bermodal sepotong tali rafia yang telah diikat melintang.

Maklumlah, kendaraan umum yang kami tumpangi jika hendak ke kota hanya itu saja. Kendaraan ini biasa kami sebut dengan nama OTO KOL. 

OTO KOL ini dimodifikasi berbentuk persis seperti rumah berjalan.
Jika mengingat dengan kondisi medan yang kami lalui, perjalanan seperti itu terbilang sangat berbahaya karena jika salah sedikit saja, maka penumpang akan jatuh. Tetapi mau bagaimana lagi, alat transportasi yang tersedia hanya itu saja. Dan dari pengalaman seperti itu, aku mengerti bahwa ketidaknyamanan dalam perjalanan seperti itu tak perlu mengeluh karena sama sekali tidak mengatasi keadaan.

Supaya tetap tenang, aku selalu mencoba berdamai dengan keadaan. Hal yang terus membuatku gelisah adalah toko langganan tempat aku dan ayahku menjual cengkeh akan segera tutup karena hari sudah mulai siang. Plakkk...!! Suara pintu mobil ditutup, terdengar sangat keras dan itu tandanya sang sopir akan segera melanjutkan perjalanan.

Roda dua dan roda empat terlihat lalu lalang di depanku, gedung tinggi pencakar langit, rumah-rumah mewah milik pejabat yang katanya jujur dan bebas dari korupsi, anak - anak sekolahan yang dihukum gurunya karena bolos jam pelajaran, semuanya kutemui di sini, di kota yang kehidupannya yang hiruk pikuk.

Aku mondar-mandir ke sana kemari mencari toko milik Aci Maria sembari memikul satu karung besar di pundakku berisikan cengkeh. Hingga akhirnya kutemukan seorang wanita paruh baya bermata sipit dan berkulit putih.

‘’Hallo, selamat pagi e Aci"
‘’Iya selamat pagi. Anaknya bapak Rikus ya?’’ Tanya Aci Maria dengan nada lemah lembut.

‘’Iya e aci.’’
‘’Bapak kamu mana? Tumben tidak datang’’.
“Sa punya bapa lagi sakit e aci, jadinya dia tidak bisa datang ni hari,” jawabku sambil menurunkan karung cengkeh dari pundakku.

‘’Ole, iya kah (aduh, begitu)? Sakit apa?’’ tanya sang aci.
‘’Dia sesak napas, jadinya tidak bisa datang’’.
Aci Maria pun menyuruh anak buahnya untuk segera menimbang cengkeh yang saya bawa.

"Markus tolong timbang dulu cengkehnya anak Bapa Rikus ini" Ujar Aci Maria.

‘’Iya aci‘’ jawab si Markus sambil mematikan rokoknya.
‘’Berapa kilo Markus?“
‘’100 kilo aci“.

“ Nana, ini uangnya hasil penjualan cengkehnya ite e (ini uang hasil penjualan cengkeh kamu)” kata Aci Maria sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas seratus ribu rupiah.

‘’Terima kasih banyak e aci“ ujarku sembari meninggalkan toko.

Belum sampai  di luar toko, Aci Maria tiba-tiba memanggilku untuk segera kembali. Detak jantungku langsung berdegub kencang. Dag dig dug. Ada apa ini? Mengapa aci memanggilku kembali? Langkah kakiku terasa kaku saat menghadap meja sang aci karena tatapan mata anak buahnya terlihat sangat garang.

‘’Ada apa aci?’’ Tanyaku was-was.
‘’Sebentar, kamu duduk saja dulu“. Kulihat Aci Maria kembali membuka laci mejanya dan membuka bungkusan uang seratus ribuan.

‘’Satu, dua, tiga, empat, lima, enam’’. Aci Maria kembali menghitung uangnya.

Ini uang enam ratus ribu rupiah untuk beli obat di apotek supaya bapak kamu cepat sembuh. Sampaikan salamku untuk bapakmu.

Hatiku sangat terharu. Aku ingin meneteskan air mata tetapi sebagai laki-laki saya harus kuat. Akupun mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Aci Maria.

“Ternyata masih ada orang yang baik di dunia ini” Ujarku dalam hati. Sejak hari ini saya percaya bahwa orang Cina tidaklah kikir seperti yang orang-orang katakan.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung mencari apotek untuk membeli obat untuk ayah, kemudian pergi ke kios-kios kecil membeli oleh-oleh  untuk adik, ayah, dan bundaku di rumah.

Oleh: Oktavianus Bolong

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,111,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,146,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,532,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,62,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1026,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,44,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,4,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Aci Maria
Aci Maria
https://2.bp.blogspot.com/-8AsM2ACjIL8/W3foc2HFpFI/AAAAAAAAB9Q/_xEhzFsUFAgM-tx0uBF0Pd5jHs8dKzQUgCLcBGAs/s320/IMG-20180818-WA0014.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-8AsM2ACjIL8/W3foc2HFpFI/AAAAAAAAB9Q/_xEhzFsUFAgM-tx0uBF0Pd5jHs8dKzQUgCLcBGAs/s72-c/IMG-20180818-WA0014.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/08/aci-maria.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/08/aci-maria.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy