Abdul Ganir S.H, Sang Pejuang dari Nanga Bere
Cari Berita

Abdul Ganir S.H, Sang Pejuang dari Nanga Bere

MARJIN NEWS
2 August 2018

Hampir satu periode jabatan sebagai anggota DPRD telah selesai. Perjuangan untuk membuktikan mimpi besarnya dirasa belum tuntas. Ganir pun kembali maju mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Mabar pada Pemilu 2019 mendatang.  (Foto: MarjinNews)
Nama Abdul Ganir bagi publik Manggarai Barat mungkin sudah tak asing lagi bahkan sudah familier. Namanya dikenal karena pria berambut keriting dan gondrong ini adalah salah seorang anggota DPRD Kabupaten Manggarai Barat. 

Namun di balik familiernya pria asal Desa Nanga Bere, Kecamatan Lembor Selatan ini tak ada yang mengetahui lika liku hidupnya hingga menjadi seorang anggota dewan.

Dalam sebuah kesempatan, penulis berkesempatan menggali lika liku hidup pria kelahiran 12 Januari 1969 ini. Pria kalem dan bersahaja ini mengisahkan, sejak kecil dirinya punya mimpi untuk merantau dan kuliah di kota besar. Ingin ke kota besar karena kampung halamanya jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.

Tamat Sekolah Dasar (SD) di Sekolah Dasar Katolik Nisar pada 1986, pria yang akrab disapa Ganir ini melanjutkan pendidikan di SMP Gaya Baru, Nanga Lili. 

Saat itulah, Ganir kecil mulai memiliki tekat yang kuat untuk dapat mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi dan mendapat gelar sarjana. Saat itu dia bercita-cita ingin mendapat gelar Sarjana Hukum (S.H). 

Perjuangan Ganir mengenyam pendidikan SMP ini selesai dan mendapatkan ijazah tahun 1989. Meski tekatnya untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) membara, namun tak didukung oleh ekonomi orang tua. Kedua orang tuanya yang hanya bekerja sebagai petani tak sanggup membiayainya melanjutkan sekolah. 

Ganir kecil tak patah arang menghadapi keadaan itu. Untuk dapat melanjutkan pendidikan, dia berani pergi merantau ke Makassar. 

Selain untuk memenuhi keinginanya merantau ke kota besar, juga untuk melanjutkan pendidikan menengah atas.
Tahun 1989, Ganir muda menginjakan kaki di Makassar. 

Guna mewujudkan cita-citanya melanjutkan pendidikan, pria yang beranjak remaja ini mencari pekerjaan. Diapun mendapat pekerjaan tukang antar koran (loper koran). Perjuanganyapun berhasil dan mendapatkan ijazah SMA pada tahun 1991. 

Setamatnya SMA tahun 1991, Ganir tak langsung kuliah. Penghasilanya sebagai pengantar koran tak cukup untuk membiayainya kuliah. Ganir mencari pekerjaan lain. 

Akhirnya dia melepaskan pekerjaan sebagai loper koran dan bekerja pada toko bangunan hingga 1995. Saat itu di Makassar sedang merajalelanya judi togel (SDSB). Para mahasiswa berdemo menuntut pembubaran SDSB di Makassar. 

Pada saat demo berlangsung sering kali terjadi bentrok dengan pihak keamanan. Suatu saat para mahasiswa pendemo dikejar polisi dan tentara. Banyak mahasiswa yang berlari ke toko bangunan tempat dia bekerja. 

Melihat para mahasiswa dikejar polisi dan tentara, Ganir tampil sebagai pahlawan. Dia menyembunyikan para mahasiswa pendemo di dalam gudang tempat kerjanya dari kejaran aparat. Pada saat itulah dia merenunungkan betapa hebatnya jadi mahasiswa. 

"Sejak saat itulah saya memompa semangat untuk kuliah. Ternyata jadi mahasiswa itu adalah pejuang. Saya juga harus bisa menjadi pejuang," ungkap pria berkumis tebal ini. 

Tahun 1995 Ganir masuk kuliah di Universitas Satria Makassar pada Fakultas Hukum. Di sinilah tekat kuatnya untuk menjadi pejuang semakin diasah. Apalagi saat itu kondisi Indonesia sedang hangat diujung runtuhnya Orba. Saat kuliah, berbagai organisasi penting diikutinya. Baik di dalam maupun di luar kampus. 

"Saat masuk pertama kuliah saya langsung ikut demo Walikota Makassar. Kami demo karena tingginya tarif angkutan umum saat itu," ungkap ayah yang kini memiliki 4 orang anak ini.

Dalam organisasi kampus, berbagai jabatan pernah diembanya. Misalnya Sekjen SMPT Universitas Satria Makassar, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum, dan Presidium Persatuan Aksi Mahasiswa Makassar Indonesia (PAMMI) pada revormasi 1998 yang terdiri dari 48 Perguruan Tinggi di Makassar. 

"Setelah reformasi berhasil baru saya selesaikan perkuliahan saya," ungkapnya polos.

Selesai kuliah, Ganir yang telah menyandang gelar Sarjana Hukum terus mengasah kemampuanya di kota Daeng. 

Berkat pengaruhnya dalam berbagai organisasi yang diikutinya, jaringan diskusinyapun makin melebar ke berbagai tokoh reformasi. Hingga akhirnya pada 2004 dia pulang kampung sebagai relawan Amien Rais saat Pilpres 2004. 

"Pada 2004 itu saya pulang kampung sebagai relawan Amien Rais," tuturnya.

Nah, selama menjadi ralawan di desanya, Ganir diajak oleh keluarga untuk ikut calon kepala desa. Tawaran itu baginya adalah sebuah beban berat. 

Saat itu dalam benaknya belum terpikirkan untuk pulang membangun desa. Selain itu, kemampuanya dalam bidang hukum membuatnya berpikir panjang untuk menerima tawaran untuk menjadi kepala desa di desa terpencil seperti kampungnya.

Untuk menjawab tawaran itu Ganir membutuhkan waktu 6 bulan lamanya untuk merenung hingga akhirnya menerima tawaran itu. 

"Sejarah reformasih ikut membuka pikiran saya untuk kembali ke Desa. Saat itu saya bertanya dalam hati mengapa desa saya lebih terpencil dari desa lain ? Saya harus kembali dan berbuat hal hebat untuk desa saya yang tercinta," ungkapnya.

Singkat cerita, dalam pemilihan kepala desa tahun 2009, Ganir terpilih menjadi Kepala Desa Nanga Bere ke-5. Saat itulah Ganir dengan totalitas membangun desa. Selama menjabat sebagai kepala desa banyak program yang dilakukanya. 

Program paling populer adalah program kesehatan. Dimana dengan berbagai cara, Ganir merebut dana PAMSIMA dan PNPM. Ganir pun mampu menyediakan air minum bersih dan gedung puskesmas pembatu (Pustu). 

Pengadaan air minum bersih adalah salah satu prestasi terbesarnya. Banyak orang pesimis dengan usahnya untuk memuat jaringan air minum. 

Dimana sumber mata air yang diambil berjarak 23 km dari kampung dengan menggunakan dana seadanya. Berkat kegigihanya, tahun 2010 air bersih bisa disalurkan ke tiga kampung di desanya. 

“Saya fokus memperjuangkan itu, karena banyak warga desa saat itu jatuh sakit dan meninggal dunia karena mengonsumsi air kotor. Kolera dan muntaber merajalela. Selain itu juga tak ada petugas kesehatan,” ungkapnya.

Rasanya pencapaian yang telah dilakukanya belum tuntas. Mimpi terbesar Ganir adalah bagaimana agar desanya terlepas dari isolasi dengan desa lain. 

Salah satu caranya adalah membangun jalan dan jaringan telepon. Namun, mimpi mulianya itu terhambat karena perjuangan untuk membuka jalan ke kampung halamanya tak sanggup dilakukan hanya dengn menjadi kepala desa. 

"Setiap saya jalan kaki dari kampung (Nisar) memakan waktu 3-4 jam menuju Nanga Lili. Saya selalu berpikir bagaimana caranya agar desa saya memiliki akses jalan," ungkapnya.

Akhirnya tahun 2014, Ganir mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Manggarai Barat. Berkat kegigihanya, perjuanganyapun berhasil menjadi anggota DPRD. Kesempatan ini dimanfaatkanya dengan baik. 

Dengan berbagai upaya akhirnya sedikit demi sedikit akses jalan rayapun mulai dibuka dari berbagai sudut menuju desanya. Selain itu jaringan telepon juga sudah tersedia. Tak hanya itu berbagai hal lainya seperti sekolah juga terus diperjuangkanya.

"Satu hal yang perlu saya tekankan kepada masyarakat Nanga Bere, bahwa saya duduk di DPRD tak hanya untuk Nanga Bere. Makanya jargon saya adalah berpikir untuk banyak orang. Saya jadi DPR bukan karena apa dan siapa selain untuk memperjuangkan hak-hak rakyat," tuturnya.

Hampir satu periode jabatan sebagai anggota DPRD telah selesai. Perjuangan untuk membuktikan mimpi besarnya dirasa belum tuntas. Ganir pun kembali maju mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Mabar pada Pemilu 2019 mendatang. 

"Berangkat dari membangun desa yang terpuruk memotivasi saya untuk masuk politik. Memang perjuangan saya belum benar-benar berhasil, namun pelan-pelan Nanga Bere kini sudah punya nama," pungkasnya.


Penulis: Pollikarpus Willigis