$type=carousel$cols=3

STKIP Citra Bakti Sebagai Istana Intelektualitas

Teknologi serta fasilitas istana intelektual ini menjadi media dalam pembelajaran serta menjadi penopang dalam melancarkan proses mendidik ataupun belajar bagi mahasiswa sebagai prajurit dalam istana intelektual.

Teknologi serta fasilitas istana intelektual ini menjadi media dalam pembelajaran serta menjadi penopang dalam melancarkan proses mendidik ataupun belajar bagi mahasiswa  sebagai prajurit dalam istana intelektual. (Foto: Dok. Pribadi)
Perguruan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dann profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian (UU No 2 tahun 1989, pasal 16 ayat 1).

Dalam pengertian perguruan tinggi diatas, perguruan tinggi mampu menciptakan calon pendidik yang akan siap menjadi bagian dari anggota masyarakat yang memiliki kapasitas, kapabilitas yang dapat mengimplementasikan serta menciptakan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Menurut Prof. Dr. John Dewey, Pendidikan adalah suatu proses pengalaman. Karena kehidupan adalah pertumbuhan, pendidikan berarti membantu pertumbuhan batin tanpa di batasi oleh usia. Proses pertumbuhan adalah proses menyesuaikan pada tiap-tiap fase serta menambahkan kecakapan di dalam perkembangan seseorang.

Sesuai dengan julukan istana intelektual,STKIP CITRA BAKTI adalah kampus pendidikan yang akan selalu dikenang oleh nusa dan bangsa, karena mahasiswa lulusan STKIP CITRA BAKTI Ngada nantinya akan menjadi seorang pendidik. Kampus yang berkualitas akan melahirkan mahasiswa yang berkualitas pula. Semua tidak luput dari apa yang menjadi buah hasil dari perjuangan mahasiswa/calon pendidik di istana intelektual ini.

Teknologi serta fasilitas istana intelektual ini menjadi media dalam pembelajaran serta menjadi penopang dalam melancarkan proses mendidik ataupun belajar bagi mahasiswa  sebagai prajurit dalam istana intelektual. Perpustakaan sebagai kamar sumber ilmu untuk menghancurkan musuh kebodohan, dalam hal ini perpustakan adalah sebuah kamar khusus dalam istana intelektual sebagai pusatnya senjata ilmu pengetahuan yang akan menjadi bekal dalam medan pertempuran atau gelanggang yang ada ditempat pengabdian nanti.

Kampus STKIP CITRA BAKTI selalu membuka ruang maupun momentum dalam bentuk kegiatan kampus seperti : kegiatan Live In (hidup berlangsung dengan masyarakat) serta berbagai  jenis kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang siap membina dalam mengembangkan setiap potensi mahasiswa dan kegiatan yang di gelar oleh ormawa STKIP CITRA BAKTI. Dalam kampus intelektual  ini juga terdiri enam program studi diantaranya: Prodi PJKR, prodi Matematika, prodi PGSD, prodi PG-PAUD, prodi pendidikan Musik dan prodi pendidikan IPA.

Mentri Riset,Teknologi dan pendidikan Tinggi (Menristekditi) Mohamad Nazir menekankan, tugas utama kampus adalah menciptakan intelektual masa depan untuk meningkatkan daya saing bangsa, Jadi kampus harus dibangun dengan baik untuk bersaing dikelas dunia.

Kampus tempat melahirkan beragam ide,pemikiran, pengembangan wawasan yang kemudian akan diwujudkan dalam bentuk peranan sosial individu mahasiswa di masyarakat. Ia menjadi agen perubahan sosial, budaya, paradigma, ekonomi dan politik secara luas.

Dengan demikian, kepentingan masyarakat menjadi barometer utama sebagai keberhasilan suatau perubahan sosial yang dilakukan oleh mahasiswa. Sebagai peserta didik, mahasiswa dituntut tidak hanya berhasil membawah ijazah, tetapi juga diharuskan membawah perubahan dari ilmu dan pengalamannya selama berada dalam laboratorium kampus.

Pandangan konservatif tentang kampus selalu menempatkan kampus sebagai “ istana intelektual “ dengan karakteristik utama liberasi pemikiran, bergagasan, kreativitas, argumentatif, dan melihat jauh kedepan sembari mencari manfaat praktis dari suatu ide ataupun penemuan. Gambaran klasik ini mewakili kehidupan kampus di negara berkembang khususnya di Indonesia yang sangat bertumpuh pada kehidupan akademik.

Dengan sifat keintelektual dan idealismenya mahasiswa lahir dan tumbuh menjadi enititas (model) yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan. Sedangkan ciri dan skill mahasiswa terletak pada ide atau gagasan yang luhur dalam menawarkan solusi atau persoalan-persoalan yang ada. Pijakan ini menjadi sangat relevan dengan nuansa kampus yang mengutamakan ilmu dalam memahami substansi dan pokok persoalan apapun.

Mahasiswa juga sebagai miniatur masyarakat intelektual yang memiliki corak keberagaman pemikiran, gagasan dan ide-ide yang penuh dengan kreativitas dalam rangka mewujudkan TRI DARMA PERGURUAN TINGGI yaitu : pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Sungguh menarik jika kita kembali memperbincangkan persoalan kampus dan dinamikanya yang sangat dinamis.

Kampus merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran, sikap, dan pencerahan tempat mahasiswa lahir menjadi kaum pemikir bebas yang tercerah. Konsekuensinya, semua pihak harus mengakui peran politik mahasiswa dan para akademikus. Terlebih politik kampus adalah politik moral yang sangat berbedah dengan kekuatan politik praktis lainnya.

Arief Budiman mempersonifikasikan peran itu dengan sosok “resi”, yakni sebagai pihak yang selalu mengabarkan kepada masyarakat banyak adanya ketidak adilan, kesewenang-wenangan serta meng-influence rakyat untuk bergerak bersama melakukan pengatasan, maka segenap elemen kampus tersebut kembali ke pertapaanya (kampus) untuk melanjutkan tugas utamanya menuntut ilmu dan memproduksi agen-agen perubahan yang siap bertarung di tengah arus gelobal.

Meskipun mewujudkan lembaga yang ideal tidak mudah dan membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Tapi langkah-langkah yang realistis ke arah itu dapat ditempuh menjadikan kampus sebagai “indigo society”, dimana proses belajar mengajar dan bermain menjadi satu. Seperti dalam kehidupan sosial anak-anak, mereka belajar melalui bermain dan bermain lewat belajar.

Dalam bermain ini, mereka melakukan eksplorasi  terhadap berbagai hal dan berbagai pengalaman dengan teman-temannya. Di dalam kampus, indigo society dapat terwujud melalui keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kegiatan di unit-unit penelitian, unit-unit kegiatan mahasiswa, dan unit-unit pemberdayaan masyarakat. Ini memberikan momentum kepada mahasiswa untuk banyak berlatih, bereksplorasi, dan berinteraksi lebih dekat dengan para dosen.

Dalam konteks ini, institusional pendidikan perlu mampu mencapai academic excellence yang terus menerus memotivasi, baik para mahasiswa, para dosen, maupun segenap tenaga pendukung pendidikan. Posisi dan peran strategis kampus inilah yang oleh mahasiswa mesti tidak boleh sia-siakan. Mahasiswa dengan idealisme dan agen perubahan yang dimiliki harus bisa menjadi nafas kehidupan kampus dimanapun ia bereeksistensi.

Peran utama mahasiswa dalam membangun kampus yang maju
Pada dasarnya sebagai mahasiswa harus sadar bahwa, kita merupakan generasi penerus  yang eksistensinya sangat menentukan  langkah kehidupan masyarakat, bangsa dan negara kedepannya, bahwasannya peran kita sebagai kaum muda untuk membangun bangsa ini supaya sangat besar kontribusi yang kita berikan kepada bangsa ini.

Bahwa tinta sejarah telah mengajarkan kita untuk bagaimana sis-sisa perjuangan kita sebagai generasi muda atau mahasiswa pada era reformasi ini, untuk bagaiman kita bisa meruntuhkan kediktatoran para penguasa bangsa yang saat itu sedang memuncak, yang pada akhirnya kekuasaan otoriter dan penguasa dapat ditimbangkan dengan semangat kolektif yang dibangun oleh para generasi muda bangsa.

Sehingga manusia dapat bertindak bebas (sesuai norma) dan sampai sekarang tanpa ada halangan dan rintangan karena kebebasan itu sudah di jamin oleh undang-undang.

Kisah diatas merupakan serangkaian cerita perjalanan panjang bangsa kita tercinta ini agar bagaimana kita bisa bangkit dari keterpurukan yang selalu menindas masyarakat pada saat itu. Itu hanya seuntaian cerita dan bagaimana peran kita dan eksistensi kita sebagai kaum muda khususnya mahasiswa untuk bisa membangun bangsa kita tercinta ini untuk membangun kebersamaan (kolektif) agama, suku, budaya serta serta identitas masing-masing. Ini sebagai bentuk semangat kita dan sejatinya kita tidak boleh mengedepankan perbedaan itu sendiri.

Kita sebagai mahasiswa sudah dimandatkan oleh kondisi realitas bahwa mahasiswa sebagai agen of change (perubahan) dan agen of sosial control (pengontrol), dan kita harus sadar bahwa suatu pernyataan populer ditengah kehidupan mahasiswa yang menyandang kedua gelar utama itu.

Pertanyaan sederhana yang muncul dipikiran kita semua bahwa, kenapa mahasiswa diberi gelar yang mulia, kenapa tidak diberikan saja kepada pemimpin negara (presiden), para mentri, pimpinan partai politik yang lebih sejathera kehidupannya baik moral maupun materil (finansial) supaya mereka bisa mengontrol dan merubah dengan ketokohan yang dimiliki.

Pertanyaan sederhana teman-teman semua sebenarnya mampu kita jawab pertanyaan itu dengan sederhana pula, karena mahasiswa adalah kaum terpelajar, terdidik, terlatih, terbimbing dll, di dalam situasi dan kondisi yang formal (lembaga pendidikan). Pendidikan adalah sebuah proses untuk mengubah jati diri seorang peserta didik untuk lebih maju.

Dan secara nasional, pendidikan, pendidikan itu merupakan sarana yang dapat mempersatukan setiap warga negara menjadi suatu bangsa yang lebih maju yaitu melalui pendidikan, setiap peserta didik difasilitasi, dibimbing dan dibina untuk menjadi warga negara yang menyadari dan merealisasi hak-hak dan kewajibannya. Bahwa pendidikan itu juga merupakan alat yang ampuh bagi kita untuk menjadi peserta didik dapat duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi di negara itu sendiri.

Dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,  pasal 1, Pendidikan adalah usaha sadar untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, serta pengendalian diri, dan kecerdasannya, untuk bisa berakhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, untuk bangsa dan negara.

Pada dasarnya pengertian pendidikan  (UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik seara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pengertian yang disampaikan oleh KI Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasioanal) pendidikan adalah tuntutan dalam hidup dan tumbuhnya anak-anak itu, dan adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada diri anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat untuk bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Itulah berbagai defenisi pendidikan tetapi hal yang paling substansi dalam pendidikan adalah upaya atau proses pencerdasan manusia dari tidak tau menjadi tau, atau dari bodoh menjadi pintar atau arti yang sederhana adalah Humanisasi  ( memanusiakan manusia). Humanisasi itu merupakan simbol berbagai pencerdasan yang dilakukan untuk bisa mengupaya pencerdasan manusia.

Kembali ke topik awal terkait mahasiswa untuk bisa melakukan suatu perubahan terhadap suatu kampus (perguruan tinggi). Terlebih dahulu kita sebagai mahasiswa harus bisa membaca diri atau mengenali dirinya sebagai mahasiswa yang notabenenya sebagai perubahan.

Satu hal yang sederhana kita  harus memahami itu semua adalah perubahan dan pengontrol dan kita harus bisa memaknai dulu untuk kata mengontrol dan merubah diri sebagai mahasiswa, baru itu kita melangkah dan mengambil sikap untuk merubah realitas kehidupan sosial. Saya mengatakan hal demikian? Jadi hal analogi sederhananya adalah bagaimana mungkin kita merubah realitas seandainya kita mahasiswa belum merubah diri sesuai dengan perubahan yang kita inginkan.

Maka dari itu didalam segala aspek kehidupan idealnya kita sebagai mahasiswa dan kita harus menjadi garda yang terdepan untuk bagaimana kita bisa mengambil peran untuk melakukan perubahan itu sendiri. Semangat perjuangan kita tidak bisa kita raih tanpa harus menjaga jiwa idealitas dan komitmen yang tinggi terhadap nilai-nilai luhur yang diemban mahasiswa tanpa ada misi-misi tertentu yang dibalik perjuangan mulia kita misalnya, sepert ada politik kepentingan, politik penguasaan serta politik untuk mencari sensasi atau popularitas bagi diri pribadi kita maupun golongan tertentu.

Dan selayaknya peran mulia kita sebagai mahasiswa harus bisa mengambil peran untuk bisa menyelamatkan orang banyak yaitu realitas sosoial, sehingga dengan misi-misi itu kita dapat menjadi pelaku sejarah yang besar untuk bisa merealisasikan amanah itu dan kita akan dikenang sepanjang oleh sejarah terhadap tinta emas perjuangan yang kita perolehkan didalam perjuangan itu.

Oleh: Gregardus Adeputra Moses 
Ketua BEM STKIP Citra Bakti Ngada

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,2,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,216,Asmat,4,Asusila,5,Badung,7,Bali,95,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,12,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,1,Berita,2,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,40,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Camilian,1,Cerpen,136,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,434,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,21,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,E-KTP,4,Editorial,38,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,5,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,3,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,20,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,29,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,14,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,2,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,2,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,223,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,1,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,65,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,4,Kepemudaan,130,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,13,KNPI,2,Komodo,5,Komunikasi,1,Komunitas,5,Korban,1,Korupsi,57,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,47,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,40,Lakalantas,8,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,1,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,14,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,35,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,79,Manggarai Barat,1,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,Narkoba,5,Nasional,222,Natal,19,Ngada,1,Novanto,1,Novel,15,NTT,105,Nyepi,2,Olahraga,10,Opini,331,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,20,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,1,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,80,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,22,Peristiwa,791,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,2,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,59,Politikus,4,POLRI,6,Pristiwa,18,Prosa,1,PSK,1,Puisi,51,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,7,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,21,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,Somasi,1,Sosial,1,Sosok,3,Sospol,35,Start Up,1,Sumba,11,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: STKIP Citra Bakti Sebagai Istana Intelektualitas
STKIP Citra Bakti Sebagai Istana Intelektualitas
Teknologi serta fasilitas istana intelektual ini menjadi media dalam pembelajaran serta menjadi penopang dalam melancarkan proses mendidik ataupun belajar bagi mahasiswa sebagai prajurit dalam istana intelektual.
https://2.bp.blogspot.com/-9KhH8LbQJPI/W0iMs04mNKI/AAAAAAAABrM/P1a9MMKElUkeiykF6U-gCQ6UNUKvtAYgwCLcBGAs/s320/20180712_182057.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-9KhH8LbQJPI/W0iMs04mNKI/AAAAAAAABrM/P1a9MMKElUkeiykF6U-gCQ6UNUKvtAYgwCLcBGAs/s72-c/20180712_182057.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/07/stkip-citra-bakti-sebagai-istana.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/07/stkip-citra-bakti-sebagai-istana.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy