$type=carousel$cols=3

Sinopsis Film Sarjana Kambing, Menyoal Idealisme Seorang Sarjana

Ia memilih tetap hidup dikampung tidak lain untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari bangku perkuliahan. Dimana hidup harus bermanfa...

Ia memilih tetap hidup dikampung tidak lain untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari bangku perkuliahan. Dimana hidup harus bermanfaat bagi orang lain (Foto: Screenshoot)
Pola pikir masyarakat yang berkembang saat ini cenderung menuntut setiap sarjana harus menjadi seorang pekerja. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula tuntutan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Dan sering kali pemikiran ini menjadi salah kaprah dimana pekerjaan yang dianggap paling baik adalah bekerja di sebuah kantor, entah itu kantor pemerintahan atau swasta. Yang jelas bekerja di kantor dengan memakai seragam atau baju necis dan berdasi. Pekerjaan sebagai petani tentu tidak layak bagi seorang sarjana. Sosok seorang tokoh bernama Irul.

Ia seorang sarjana pertanian yang memilih bekerja sebagai petani, yang kemudian menepis pemikiran Masyarakat yang berkembang saat ini yang melulu berorientasi pekerjaan, dan juga mengingatkan kembali kepada idealisme kita bahwasannya tujuan sekolah atau pendidikan untuk mencari ilmu, yang kemudian di implementasikan dalam kehidupan nyata, bukan mencari pekerjaan.

Sebagaimana yang digambarkan dalam Sinema Sarjana Kambing, berlatar belakang di daerah Indramayu. Sinema ini diperankan oleh Alfy Alfandy sebagai Irul, dan kedua sahabatnya yakni Rohman SBY sebagai Torang, Kukuh Prasetyo sebagai Kukuh. Irul adalah seorang pemuda yang cerdas dan mempunyai mimpi besar, yakni menjadi seorang petani.

Bagi kebanyakan orang pekerjaan sebagai seorang petani  adalah sebuah pekerjaan yang memalukan dan tidak mempunyai prospek yang baik ke depannya, termasuk menurut ayah Irul. Mimpi Irul menjadi seorang petani ditentang habis-habisan oleh ayahnya, bahkan ayahnya merasa sangat kecewa karena telah menjual sebagian besar sawahnya untuk menyekolahkan Irul yang ujung-ujungnya hanya ingin menjadi seorang petani.

Bagi ayahnya kerja kantoran adalah pekerjaan yang terbaik, tak apa meski kerja di Kantor Urusan Agama (KUA) yang jelas-jelas bukan bidangnya. Asal kerja kantoran. Berangkat pagi-pagi pakai seragam dan kalau sudah diangkat jadi PNS kan gajinya lumayan. Sejahtera. Sehingga ayahnya memaksa Irul untuk kerja di KUA, sampai-sampai ayahnya meminta bantuan kepada salah satu anggota di KUA untuk menerima Irul bekerja disana.

Namun Irul tetap saja menolaknya, karena tidak sesuai dengan ilmu yang ia diperoleh diperguruan tinggi, adapun jurusannya pertanian, sedangkan KUA persoalan keagamaan, sangatlah bersebrangan, otomatis diluar bidang Irul dalam persoalan keagamaan.

Adapun keseharian Irul yang selalu bertani, dan juga berternak kambing bersama kawannya bernama kukuh. ditertawai banyak orang, “Sarjana kok jadi petani, sarjana kok angon kambing.” Cemoohan orang tesebut lama-lama menjadi julukan baru bagi Irul, yakni Sarjana Kambing. Namun, hal tersebut tak membuat Irul kecil hati, ia tetap bersikukuh ingin menjadi seorang petani.

Ia berpikir bahwa dengan menjadi seorang petani ia bisa mengaplikasikan ilmu yang telah diperolehnya selama di perguruan tinggi, selain itu ia juga punya cita-cita yang mulia untuk menyejahterakan para petani.

Hingga suatu hari datanglah kawan lama Irul, kawan kuliahnya yang bernama Torang. Awalnya Torang megatakan bahwa maksud kedatangannya ke rumah Irul adalah dalam rangka urusan bisnis. Ia ingin mencari kayu jati terbaik sebagai bahan untuk membuat meubel yang akan diekspor ke luar negeri.

Namun, ke esokannya, pada akhirnya Torang mengaku bahwa kedatangannya tidak lain adalah untuk menenangkan diri pasca ia membuat usaha keluarganya rugi milyaran rupiah. Sehingga Torang minta tolong kepada Irul numpang nginap dirumahnya untuk sementara waktu.

Kedatangan Torang itu pada akhirnya memunculkan kembali ide brilian sekaligus gila dari Irul. Irul mengajak Torang dan Kukuh (Sahabat Irul yang lain) untuk melakukan bisnis dalam bidang pertanian (Agribisnis).

Melalui website Petarung.com Irul ingin mempertemukan petani dengan pembeli secara langsung sebagai usaha untuk memutus mata rantai para tengkulak yang mempermainkan harga dan juga mempertemukan petani  dengan para ahli pertanian baik sarjana ataupun professor, agar dapat berkonsultasi secara langsung. Tujuan dari bisnis ini tak lain adalah untuk membuat para petani sejahtera.

Usaha tersebut baru mulai bertumbuh, Irul mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan besar di Jakarta yang tentu sangat membuat hati ayah Irul senang. Di satu sisi ia tetap ingin menjadi seorang petani dan di sisi yang lain ia tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya yang terlanjur bahagia karena panggilan kerja tersebut. Namun, pada akhirnya Irul tetap memutuskan untuk tidak bekerja dan melanjutkan perjuangannya untukmembangun Petarung.com.

Ayahnya saat itu sangat murka pada Irul. Tapi sekali lagi hal itu tidak membuat hati Irul gentar. Irul tetap berusaha mengembangkan Petarung.com sampai lambat laun usahanya tersebut menjadi cukup besar dan diakui kemanfaatannya baik oleh masyarakat maupun pemeritah. Sampai pada akhirnya orang tua Irul pun ikut bangga pada anaknya.

Sarjana sebagai agen perubahan

Ketika Irul tengah berdiskusi dengan kawannya, ia menjelaskan alasan mengapa ia memilih tetap hidup dikampung. Ia memilih tetap hidup dikampung tidak lain untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari bangku perkuliahan. Dimana hidup harus bermanfaat bagi orang lain. Ia menganggap jika hidup mencari karier sangatlah mudah, tapi itu bukan tujuannya. Justru ia merasa bermanfaat hidupnya jika tinggal dikampungnya bersama para petani.

Tugas seorang petani sangat sulit, dimana prosesnya berawal dari tahap demi tahap, dimulai dari mengolah tanah, menyemai benih, dan menunggu masa panen, itupun menunggu waktu yang lama. Mereka harus taat pada hukum alam, karena sekali gagal, mereka harus memulai dari awal lagi. Dan mereka tidak mempunyai dana asuransi ketika ada bencana alam, dan juga mereka tidak bisa mematok harga ketika masa panen raya. Pekerjaan mereka sangat mulia, tapi sayang mereka tidak mendapatkan balasan yang sepantasnya.

Terlalu banyak sarjana yang memikirkan keluaganya sendiri, yang kemudian apatis terhadap keadaan masyarakat sekitar. Di negeri ini membuthkan sarjana petarung, bukan sarjana abal atau cemen, yang kerjanya hanya mengandalkan ijazahnya saja. Sarjana merupakan agen perubahan, dimana mampu bertarung dengan kehidupan nyata yang melahirkan lapangan pekerjaan, bukan sibuk mencari lowongan pekerjaan.

Internet dan Marketers

Sektor pertanian kita yang masih tradisional membutuhkan input sains dan teknologi. Karena dengan internet orang yang ada di pelosok timur bisa bertemu secara mudah dengan orang yang di pelosok barat. Tidak ada batasan Daerah maupun Negara yang menghalangi komunikasi mereka. Tetapi para Petani, Peternak yang ada didesa masih merasakan adanya batasan-batasan itu. Masih ada tembok pemisah antara Petani, Peternak dan para pembeli.

Dikota-kota harga komoditas sangat tinggi, tapi mengapa para Petani, Peternak masih saja mendapatkan penghasilan yang sangat rendah, karena terlalu panjang rantai redistribusinya. Dan juga para Petani juga memiliki keterbatasan ilmu pengetahuan, nyatanya petani belum mempunyai Standar Operasional Prosedur (SOP), dan juga belum mempunyai konsistensi produksi.

Maka dari itu kita harus membuat platform sebagai wadah untuk memberantas keterbatasan itu melalui teknologi yang mampu mempertemukan langsung dengan para ahli pertanian, yakni Mahasiswa, Sarjana, maupun Profesor, agar dapat berkonsultasi secara langsung, dan juga mempertemukan petani dengan pembeli secara langsung sebagai usaha untuk memutus mata rantai para tengkulak yang mempermainkan harga.

Idealisme sebagai Sarjana

Adapun pola pikir Masyarakat saat ini terkait Sarjana, dimana Sarjana dianggap sebagai tingkat pendidikan yang paling tinggi dimata Masyarakat Awam. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula tuntutan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Dan juga pekerjaan yang dianggap paling baik adalah pekerjaan kantoran. Pemikiran tersebut tentu tidak terlepas dari kondisi ekonomi dan budaya masyarakat Indonesia itu sendiri.

Dari segi ekonomi, dimana kemampuan ekonomi masyarakat Indonesia yang masih cukup rendah mendorong mereka untuk berpikir bahwa mereka harus mempunyai pekerjaan yang lebih baik, sehingga mereka akan mendapatkan pendapatan yang lebih banyak lagi. Bagaimana cara mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Yaitu dengan pendidikan yang tinggi. Sehingga pola pikir “Sekolah untuk mencari pekerjaan” sudah tertanam dengan sendirinya dalam pikiran mereka.

Dari segi budaya sendiri kita tidak dapat memungkiri bahwa sejak zaman dulu pikiran mengenai orang yang dianggap “priyayi” atau terpandang di masyarakat adalah orang yang mempunyai kedudukan atau jabatan. Sehingga, setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi seorang yang terpandang dengan menduduki suatu kedudukan tertentu. Dan petani tentu bukanlah kedudukan yang dimaksud.

Selain itu, sinema ini juga mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya membutuhkan suatu implementasi dalam kehidupan nyata melalui salah satu sikap Irul yang lebih memilih untuk menggunakan pupuk kompos dibandingkan dengan pupuk kimia karena pupuk kompos lebih ramah lingkungan. Dan juga diingatkan bahwa tujuan dari pendidikan seseorang adalah untuk kemanfaatan banyak orang, bukan hanya untuk kemanfaatan dirinya sendiri.

Dengan ilmu yang dimilikinya Irul berusaha untuk membagikan pengetahuannya kepada para petani lain di desanya, juga mencoba mencari cara untuk bisa lebih menyejahterakan para petani dengan memutus mata rantai para tengkulak yang banyak mempengaruhi harga. Title Sarjana merupakan sebagai formalitas semata, akan tetapi yang lebih penting adalah pengaplikasian ilmunya dalam kehidupan seharai-hari.

Judul Film : SARJANA KAMBING
Sutradara : Agus Elias
Penulis : M. Haris Suhud
Pemain : Alfi Alfandy, Kukuh Prasetyo, Rohman SBY, H.Nurul Qomar, Raslina Rasidin.

Durasi : 1 Jam 14 Menit 50 Detik

*Tulisan ini pernah di muat Slilit Lpm Arena 

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,2,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,227,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,3,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,42,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,141,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,22,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,44,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,241,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,2,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,139,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,55,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,41,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,36,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,86,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,6,Nasional,238,Natal,19,Ngada,4,Novanto,1,Novel,15,NTT,116,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,341,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,87,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,859,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,21,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,80,Politikus,6,POLRI,6,Pristiwa,25,Prosa,1,PSK,1,Puisi,63,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,9,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Sinopsis Film Sarjana Kambing, Menyoal Idealisme Seorang Sarjana
Sinopsis Film Sarjana Kambing, Menyoal Idealisme Seorang Sarjana
https://1.bp.blogspot.com/-XKKy9ARBcEw/W2AAgcY-EQI/AAAAAAAABzY/NwXACUaRSso4H4ZnHyLIACvqPvyLssMXgCLcBGAs/s320/sarjana%2Bkambing%2Bmarjinnews.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-XKKy9ARBcEw/W2AAgcY-EQI/AAAAAAAABzY/NwXACUaRSso4H4ZnHyLIACvqPvyLssMXgCLcBGAs/s72-c/sarjana%2Bkambing%2Bmarjinnews.jpeg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/07/sinopsis-film-sarjana-kambing-menyoal.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/07/sinopsis-film-sarjana-kambing-menyoal.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy