Senyum Takkan Pudar Dimakan Letih

Anak-anak yang berseragam putih biru itu jalan beriringan menuju kelasnya masing-masing. Terlihat jelas saat mereka menaiki anak tangga, dengan telaten mereka berjalan di sisi kiri tangga.(Foto: Dok. pribadi)
Suara dentuman itu semakin dekat, semain terdengar nyaring dan membawa pemilik sepatu pantofel itu mengarah ke halaman sekolah. Sesampainya di depan pintu masuk sekolah, anak-anak osis sudah berbaris rapih untuk menyapa dan menyambut guru dan teman-temannya.Tanpa pikir panjang Nina pun menyalami setiap anak yang berdiri di depan pintu masuk, dibarengi dengan senyum dan sapa yang ceria. Setelah meletakkan tasnya pada meja yang selama tiga tahun lebih menjadi meja pribadinya. Guru muda yang sering disapa ibu Nani itu meninggalkan mejanya dan samperin anak-anak osis untuk ikut menyambut setiap orang yang masuk ke dalam halaman sekolah.

Teng... Teng... alarm tanda jam pertama pelajaran akan segera dimulai pun berbunyi. “Selamat pagi ibu, kami pamit duluan ya bu,” pamit anak-anak osis yang sedari tadi ikut memberikan salam pada setiap orang yang masuk halaman sekolah.
“Selamat pagi juga, silahkan,” jawab ibu Nani.
Anak-anak yang berseragam putih biru itu jalan beriringan menuju kelasnya masing-masing. Terlihat jelas saat mereka menaiki anak tangga, dengan telaten mereka berjalan di sisi kiri tangga.

“Siap gerak! Beri salam!” ucap ketua kelas VIII B
“Selamat pagi ibu Nani...” ucap anak berbarengan
“Selamat pagi juga anak-anak, apa kabar kalian hari ini?” sambut ibu Nina

Situasi kelas mulai tenang kembali, setiap anak mulai sibuk membuka bukunya masing-masing. Ada yang sibuk memperhatikan wajah ibu Nani sambil mendengarkan apa yang disampaikan. Tetapi ada pula yang sibuk dengan urusan pribadi dan lebih memilih untuk bercerita dengan teman duduknya. Saat melihat situasi tersebut, tanpa pikir panjang ibu Nani langsung menegur kedua anak tersebut.

“Anjani, Arda,” tegur ibu Nani

Seketika situasi menjadi hening kembali, anak-anak fokus mendengarkan ibu Nani semua. Akan tetapi situasi tersebut tidak bertahan bergitu lama, sebab Anjani dan Arda kembali ribut sendiri membuat siswa-siswi yang lain ikut terganggu. Saat ini ibu Nani tidak menyebut nama lagi.

“Yang di belakang jangan sibuk sama urusan sendiri ya, berlatihlah untuk saling mendengarkan,” ucap ibu Nani.

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ibu Nani kembali melanjutkan apa yang telah ia mulai dari tadi. Seakan teguram yang disampaikan oleh ibu anni tidak masuk pada mereka, Anjani dan Arda malah semakin menjadi-jadi. Bahkan bukan hanya sibuk sendiri, kali ini mereka menggeluarkan  suara ketawa yang sangat keras sehingga  siswa yang lain merasa terganggu. Ibu Nani pun mengambil tindakan, memanggil kedua anak tersebut untuk maju ke depan kelas dan meminta mereka menggantikan ibu Nani untuk mengajar.

“Anjani, Arda apa alasan kalian sehingga lebih memilih untuk sibuk sendiri? Apa kalian tidak suka akan kehadiran  saya ditempat ini?” ucap ibu Nani. Anjani dan Arda tidak bergeming, entah karena merasa bersalah atau malu untuk berbicara.

“Ayo jawab, satu persatu,” ucap ibu Nani lagi.
Ibu Nani memberi mereka waktu beberapa menit tetapi tidak bergeming juga.
“Oke sekarang kalian menggantikan ibu Nani di depan,” ucap ibu Nani.
“Ibu akaan duduk di bangku kalian,” lanjut ibu Nani.
Ibu Nani pun meninggalkan kedua anak tersebut dan berjalan menuju bangku Anjani dan Arda.

“Anak-anak sekarang kalian mendengarkan Anjani dan Arda ya, mereka akan menggantikaan ibu karena mereka sudah pahami semua materinya,” ucap ibu Nani.
Anak-anak yang lain hanya menjawab, “iya bu...”
Situasi kelas sangatlah tegang dan hening. Sepuluh menit telah berlalu tetapi Arda dan Anjani tidak mengelurkan suara juga. Hingga ibu Nani pun berajak dari bangku menuju tempat Arda dan Anjani berdiri.

“Bagaimana rasanya? Apakah kalian sudah sadar, bahwa apa yang kalian lakukan itu tidak merugikan orang lain. Tidak hanya merugikan diri kalian. Lihatlah teman-teman kalian yang menjadi batunnya. Mereka tertinggal beberapa jam hanya untuk mengurus kalian berdua,” ucap ibu Nani.

“Sekarang kalian minta maaf pada teman-teman kalian, karena  telah merugikan mereka,” lanjut ibu Nani.
“Teman-teman dari hati yang paling dalam, saya minta maaf ya karena telah menggangu dan merugikan kalian. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Saya juga ingin meminta maaf pada ibu Nani, karena telah membuang waktunya dan membuat ibu kecewa,” ucap Anjani.

“Saya juga ingin meminta maaf pada teman-teman karena telah menggangu kenyamanan  kalian. Saya juga berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama dan bahkan  tidak akan berbuat ulah lagi,” sambung Arda.

“Iya tidak apa-apa asalkan kalian jangan  lakukan hal serupa lagi,” ucap salah seorang anak.

“Betul itu, kita harus hargai waktu,” sambung seorang anak dari pojok kelas.
“Kami berjanji teman-teman. Terima kasih ya kalian telah memaafkan kami,” sambung Arda.
“Saya juga ingin meminta maaf dan berterima kasih pada ibu Nani, karena telah menyadarkan kami,” lanjut Arda.
“Ibu juga telah memaafkan kalian, asalkan  jangan membuat hal serupa ataupun membuat keributan lagi ya. Tidak hanya untuk Arda dan Anjani, hal ini juga berlaku untuk semua waga kelas,” jawab ibu Nani.
“Baik ibu...” jawab anak-anak secara bersamaan.

Anjani dan Arda dipersilahkan untuk kelmabli ke tempat duduknya semula. Semua perhatian ditujukan pada pelajaran. Situasi kelas menjadi kondusif, pelajaran berjalan semestinya. Tidak ada lagi yang buat ulah. Kejadian tersebut menjadi menjadi pelajaran tersendiri bagi Anjani dan Arda serta anak-anak yang lainnya. Bahwa waktu itu sangat berarti  walau hanya sedetiknya. Kejadian  serupa tidak ibu Nani temukan lagi pada pelajarannya.

Jam pelajaran pun usai, bertanda pelajaran hari itu telah usai. Masing-masing anak memasukkan kembali semua barang bawaannya ke dalam tas.

“Siap gerak! Beri Salam!” ucap ketua kelas dengan lantang.
“Terima kasih ibu Nani” ucap semua murid dengan lantang.
Ibu Nani hanya membalasnya dengan senyuman. Sebelum keluar kelas, satu persatu murid-murid menyalami ibu Nani.

Oleh: Priska Ganus

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,154,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,180,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,567,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,36,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,276,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,60,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,287,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,239,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,414,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,19,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1113,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,36,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,87,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,19,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,64,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,46,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Senyum Takkan Pudar Dimakan Letih
Senyum Takkan Pudar Dimakan Letih
https://3.bp.blogspot.com/-yWXBtmtLVV8/W1puOzflp8I/AAAAAAAABxc/L5_N-sWngXEjUoWJVDDUMMMUTdAnyfDPwCLcBGAs/s320/Screenshot_2018-07-26-22-26-20-1.png
https://3.bp.blogspot.com/-yWXBtmtLVV8/W1puOzflp8I/AAAAAAAABxc/L5_N-sWngXEjUoWJVDDUMMMUTdAnyfDPwCLcBGAs/s72-c/Screenshot_2018-07-26-22-26-20-1.png
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/07/senyum-takkan-pudar-dimakan-letih_26.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/07/senyum-takkan-pudar-dimakan-letih_26.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close