Sarjana Kambing, Sebuah Film Tentang Perjuangan Melawan Stigma Masyarakat Tentang Sarjana Pengangguran
Cari Berita

Sarjana Kambing, Sebuah Film Tentang Perjuangan Melawan Stigma Masyarakat Tentang Sarjana Pengangguran

MARJIN NEWS
31 July 2018

Peserta diskusi dan nonton bareng film Sarjana Kambing usai melakukan kegiatan di warkop Petra, Pasar Puni Ruteng pada Senin (30/7/2018) malam. (AA/MN)
Ruteng, marjinnews.com - Meningkatnya angka kemiskinan di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ternyata memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap jumlah penyerapan tenaga kerja di wilayah tersebut. Menurut data BPS menyebutkan pada akhir 2016, dari 5,2 juta orang ada sebanyak 1.150.080 orang atau 22,01 persen penduduk NTT tergolong penduduk miskin. Atas jumlah tersebut, NTT pun jatuh sebagai provinsi termiskin ketiga setelah Papua dan Papua Barat.  Pada tahun 2013 dan 2014 NTT sempat berada di urutan termiskin keempat di Indonesia.

Meningkatnya kemiskinan itu didasarkan atas bertambahnya jumlah orang miskin diukur berdasarkan pada tingkat pendapatan mereka yang rendah yaitu di bawah Rp 1.500.00 per bulan atau Rp 327.003 per orang per bulan. Pada Maret 2016, jumlah penduduk miskin sebanyak 1.149.920 orang tetapi karena pada tambahan 160 orang pada September sehingga angkanya meningkat menjadi 1.150.080 orang.

Dari periode Maret-September 2016, angka kemiskinan naik 1,26 persen, karena terjadi kenaikan dari Rp 322.947 pendapatan per kapita per bulan (Maret) menjadi Rp 327.000 per kapita per bulan (September).

Sebagian besar penduduk miskin berada di pedesaan, hanya 112.480 orang yang berada di perkotaan. Besarnya jumlah penduduk miskin di pedesaan terjadi karena lebih besar disumbangkan oleh peran komoditas pangan seperti beras ketimbang bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Di samping itu, naiknya harga kebutuhan pokok juga ikut mendorong sejumlah penduduk di NTT terjatuh di garis kemiskinan.

Masalah Pengangguran
Selain rendahnya tingkat pendapatan, meningkatnya jumlah orang miskin di NTT juga berkorelasi dengan angka pengangguran. Tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2016 mencapai 3,59 persen, meningkat 0,47 poin dibandingkan Februari 2015 yang sebesar 3,12 persen.

Ada sebanyak 88 ribu orang mengganggur pada Februari 2016, bertambah 13 ribu orang dibandingkan Februari 2015 sebesar 75 ribu orang. Dari status pekerja dalam pekerjaan, bekerja dengan status formal hanya sebesar 21,58 persen , sedangkan pekerja informal 78, 42 persen atau empat dari lima pekerja yang bekerja tanpa jaminan sosial yang baik.

Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) NTT pada Agustus 2016 sebesar 66,93 persen, turun 2,32 poin dibandingkan TPAK Agustus 2015 yang sebesar 69,25 persen. Secara nasional TPAK Indonesia pada Agustus 2016 mencapai 66,34 persen lebih rendah dibanding TPAK NTT. Penduduk yang bekerja di NTT pada Agustus 2016 mencapai 2,28 juta orang, bertambah 57,8 ribu orang dibanding keadaan pada Agustus 2015 yang sebesar 2,22 juta orang.

Distribusi penduduk yang bekerja pada Agustus 2016, relatif sama dengan Agustus 2015. Sebagian besar penduduk yang bekerja di sektor pertanian  sebesar 1,21 juta orang (53,32 persen), diikuti jasa kemasyarakatan (16,42 persen), perdagangan (10,19 persen) dan industri (7,35 persen).

Namun sejak Februari 2017, jumlah penganggur turun sebanyak 7.400 orang dari total jumlah angkatan kerja yang tercatat 2,50 juta orang. Penurunan jumlah penganggur ini beriringan dengan jumlah penduduk bekerja hingga tenggang waktu Februari 2017 meningkat sebanyak 65.200 orang.

Menanggapi persoalan yang cukup serius tersebut, Komunitas Pecinta Literasi Indonesia (KOPERASI) melakukan kegiatan diskusi dan nonton bareng film berjudul Sarjana Kambing yang disutradarai oleh Agus Elias bersama mahasiswa, pelajar SMA/SMK, masyarakat, dan beberapa aktivis PMKRI Cabang Ruteng dan LMND Ruteng.

Bertempat di warung kopi PETRA di area sekitar Pasar Puni Ruteng, puluhan mahasiswa dan pelajar itu berdiskusi setelah menyaksikan film tentang perjalanan seorang sarjana pasca kuliah pada Senin (30/7/2018) malam.

Menurut Ilda Wahyu, seorang pelajar kelas XII Jurusan Bahasa SMAK Setia Bakti mengatakan bahwa film Sarjana Kambing itu sangat menginspirasi dirinya untuk bisa menemukan cita-citanya di masa yang akan datang. Ilda dengan beberapa temannya mengaku mengetahui diskusi dan nobar tersebut dari media sosial facebook.

"Terima kasih kepada kakak-kakak dari marjin news yang sudah mengajak kami melakukan diskusi dan turut berpartisipasi dalam bedah film ini. Film ini sangat menginspirasi dan membuat saya secara pribadi mampu menentukan pilihan hendak kemana saya pasca lulus SMA" ujar gadis yang ingin menjadi jurnalis itu.

Sementara itu menurut Ito Ndasung, mahasiswa semester akhir STKIP St. Paulus mengatakan bahwa film Sarjana Kambing merupakan sebuah gambaran paling nyata tentang stigma masyarakat di seluruh Indonesia terutama di Manggarai tentang gelar sarjana seseorang. 

"Stigma masyarakat tentang gelar sarjana itu masih sangat primitif. Dalam perspektif mereka ketika seseorang mendapat gelar sarjana maka menjadi sebuah kewajiban bagi seseorang itu bekerja sebagai pegawai dan bekerja di kantor. Padahal banyak peluang di sekitar kita yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi masalah pengangguran sarjana. Yang penting jangan malas" ujar Ito yang juga menjabat sebagai Presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI Cabang Ruteng itu.

Dalam diskusi itu juga peserta yang hadir diberi kesempatan untuk memetakan persoalan dan memberikan solusi terkait persoalan masyarakat Manggarai. Beberapa ide cemerlang seperti pengoptimallan bidang pertanian dan industri rumahan serta beternak bisa dikembangkan menjadi sumber penghasilan serta bisa menyerap tenaga kerja.

"Tidak ada cara lain selain kita yang muda ini harus turun tangan mengatasi persoalan yang semakin berlarut-larut ini. Generasi kita harus menjadi generasi emas dalam memutus mata rantai kemiskinan masyarakat kita untuk Manggarai yang lebih baik" kata Ican, salah satu peserta diskusi.

Untuk diketahui, kegiatan diskusi dan nobar film Sarjana Kambing merupakan salah satu rangkaian acara pembuka kegiatan bertajuk Tour Jurnalistik yang dilaksanakan oleh KOPERASI, sebuah komunitas yang digagas oleh marjinnews.com untuk menampung aspirasi mahasiswa dan anak muda untuk sebuah perubahan bernilai konstruktif. 

Kegiatan Tour Jurnalistik ini melibatkan sekitar 30 sekolah SMP/SMA, OMK di tiga kabupaten di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. (EC/MN)