PRAJURIT
Cari Berita

PRAJURIT

21 July 2018

Tidak ada memang kesempurnaan apalagi ketika berbicara tentang kebenaran, sebab sekalipun adil itu hanya sebuah kata ia tetap berjarak dengan kebenaran dan tidak akan pernah sempurna mencapainya (Foto: Dok. Pribadi)
Hari ini kami berdiskusi dengan seorang  prajurit. Baru hari ini dalam hidupku seorang prajurit kokoh mendengar semua pendapat-pendapat tajam kaum intelektual yang tabu dengan kemunafikan  yang santun. Tidak ada yang kami sembunyikan bahkan lurusnya pikiran seorang prajurit dalam menjalankan perintah kami pertanyakan. Sebenarnya untuk semua kata yang kami ucapkan dengan tajam sepertinya menyakitkan siapapun yang tidak terlatih untuk berpikir.

Sang prajurit meminta kami mencari solusi dari setiap persoalan yang kami ajukan. Alih-alih memberikan solusi ia malah menjadi bingung dengan gagasan yang kami utarakan. Prajurit memang dididik untuk menyelesaikan persoalan, namun kaum intelektual dilatih untuk memeriksa setiap persoalan dan mencurigai setiap penyelesaian.

Tidak ada memang kesempurnaan apalagi ketika berbicara tentang kebenaran, sebab sekalipun adil itu hanya sebuah kata ia tetap berjarak dengan kebenaran dan tidak akan pernah sempurna mencapainya.

Kami bisa saja membubarkan negara meski kami tidak benar-benar memperjuangkannya.Kami bisa duduk seharian berdebat dan berdiskusi, mencoba membangun asumsi demi asumsi, menyusun hipotesis lalu merobohkannya ketika kami harus menertawakan diri sendiri. Jika seharian kami telah merancang berdirinya sebuah negara maka dalam waktu sedetik kami akan meninggalkannya ketika kami bosan untuk memikirkannya.

Taat pada negara berarti perlu didasarkan pada kebebasan bukan karena kepatuhan yang dilandasi rasa takut kehilangan kemerdekaan.Negara wajib tunduk kepada kemerdekaan warganya hanya dengan demikian ia bisa mewujudkan kehendak warganya.

Inilah yang membuat kami terlihat remeh. Sekumpulan berandal yang tidak tertib dalam berpikir tapi sulit dipatahkan dalam setiap perdebatan.Kata -kata kami tajam tapi bukan untuk menusuk hanya sekedar basa basi yang juga akan terlupakan jika kami harus tidur dan terbangun dalam keadaan lapar.

Mengawali sebuah topik dengan sebuah pertanyaan mengundang perdebatan sengit bukan hanya dengan lawan bicara, lidah kami sendiri kami cerca jika gagap dalam menerjemahkan ide.Ya! bagi  negaraitu tidak lebih dari basa basi yang perlu untuk ditanggapi serius.

Prajurit taat dengan pimpinannya bukan berarti ia kehilangan kemerdekaannya. Dalam ketaatan itulah sebenarnya kemerdekaan warga dapat terjaga, kemerdekaan itu pikiran!. Kesadaran untuk bertindak secara mandiri dan juga berpikir mandiri lepas dari segala simbol yang berusaha membangun benteng. Ketaatan seorang prajurit membuat ia tidak lari dari kesatuannya, ketaatan itu pulalah yang akan membuat ia berlari ke garis pertahanan lawan dan bertempur.

Namun apa yang menjamin seorang prajurit merdeka?. Prajurit adalah warga negara yang terlatih untuk berperang. Ia dengan kebebasannya memilih untuk menjadi prajurit dan tidak kehilangan hak konstitusinya hanya karena ketaatan pada pimpinannya. Tidak ada yang hilang dalam dirinya bahkan oleh atasannyayang tertinggi sekalipun. Sebagai warga negara konstitusi menjamin kemerdekaan itu.

Prajurit hidup dalam keteraturan, hanya  dengan itu kebebasan keprajuritannya bisa dijamin, sebab jika ia bertindak liar dan taat dibawa nafsu kekuasaan ia bukan prajurit dan ia kehilangan makna keprajuritan itu.

Tapi satu hal yang unik, prajurit senang berbicara tentang hal mistis dan agama. Khusus ketika pembahasan kami tentang jiwa. Ia menerangkan bahwaada perbedaan antara roh dan jiwa. Roh adalah wada non materi yang mewadahi jiwa, sementara jiwa adalah percikanIlahi yang purwarupa dan hadir dalam raga manusia. Kata prajurit ia pernah mati, ia menonton raganya sendiri.

Aku meneguk susu coklat yang dalam gelas. Jeda untuk setiap tegukan membuat diskusimengalir tanpa ketegangan. Tidak ada yang keberatan gagasannya di bedah dengan metode pertanyaan dan perdebatan. Asap rokok mengepul berusaha memenuhi ruang hampa. Mata sang prajurit bergerak, terkadang menatap lurus penuh perhatian, bergerak ke atas pertanda dia sedang berpikir. Kami bangga ketika ada prajurit yang berpikir karena pikiranlah kehormatan terbesar bagi orang -orang merdeka.

Oleh: Stenly Jemparut