Penegakan Ideologi Pancasila, Tema Seminar Pembuka LKK PMKRI Cabang Makassar
Cari Berita

Penegakan Ideologi Pancasila, Tema Seminar Pembuka LKK PMKRI Cabang Makassar

MARJIN NEWS
17 July 2018

Seminar yang dihadiri oleh sekitar 100 orang itu dihadiri oleh Anggota Biasa PMKRI Cabang Makassar, Cabang Palopo, Cabang Toraja, Alumni dan para tamu undangan dari masing-masing kampus yang ada di kota Makassar (Foto: PMKRI Makassar)
Makassar, marjinnews.com - Dalam rangka membuka kegiatan Latihan Kepemimpinan Kader (LKK), PMKRI Cabang Makassar melaksanakan seminar nasional dengan tema “Penegakan Ideologi Pancasila dalam Praktik Hidup Berbangsa dan Bernegara” pada Senin (16/7/2018) di Ruang Pola Kantor Gubernur Sulawesi Selatan.

Seminar yang dihadiri oleh sekitar 100 orang itu dihadiri oleh Anggota Biasa PMKRI Cabang Makassar, Cabang Palopo, Cabang Toraja, Alumni dan para tamu undangan dari masing-masing kampus yang ada di kota Makassar dengan beberapa narasumber seperti Dr. Arqam Asikin selaku Analis Politik dan Kebangsaan, Yustinus, S.IP (Akademisi) dan Viani Octavius, SH,. MH (Advokat dan Akademisi).

Menurut Yustinus Pancasila adalah karya agung bangsa, rumah kita, rumah kita bersama, dan rumah kita untuk selamanya. Pembumian nilai-nilai Pancasila harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sejak Indonesia didirikan.

"Di era globalisasi ini seharusnya bisa membawakan nilai-nilai Pancasila semakin jauh lebih baik sebagaimana yang telah dicita-citakan oleh founding father"ujar akademisi sekaligus alumni PMKRI Cabang Makassar itu.

Namun, semakin banyaknya pengaruh terhadap jalannya pencapaian ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Pancasila maka cita-cita itu akan berjalan pisah. Pengaruh itu datang dari masyarakat Indonesia sendiri, baik secara individu maupun secara kelompok. 

"Ini adalah tantangan kita hari ini, jika hal itu dibiarkan maka dapat mengancam dan merusak kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun ada jaminan konstitusional yang cukup bagi pluralisme di Indonesia,  namun sebagian masyarakat Indonesia masih trauma apalagi dengan maraknya  terorisme di akhir-akhir ini di berbagai tempat" terang Viani Octavius dalam seminar yang juga didukung oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tersebut.

"Tugas besar bagi kita semua sebagai generasi muda yaitu  merancang skenario bangsa ini untuk tahun-tahun yang akan datang. Pancasila diharapkan bukan hanya sebagai wacana semata / tekstual tetapi pancasila harus dibumikan sebagai tataran kontekstual. Hari ini PMKRI Cabang Makassar menjadi tuan rumah kaderisasi merupakan langkah awal yang baik untuk mempersiapkan pemimpin – pemimpin bangsa, sekiranya kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut" tegas Dr. Arqam Asikin.

Selain itu, dalam sambutannya Ketua Presidium PMKRI Cabang Makassar, Anastasia Rosalinda menganalogikan Pancasila sebagai satu pohon besar yang tumbuh subur dan menjadi tempat berlindung seluruh bangsa Indonesia, dan Akar dari pada Pohon Pancasila itu ialah kearifan lokal, semakin tertanam dengan baik akar tersebut, dirawat baik maka pohon itu akan terus berdiri kokoh hingga usia Negara RI mencapai 73 tahun dalam waktu dekat.

"73 tahun  berdiri tentunya bukanlah usia yang muda, diusianya yang semakin dewasa, Bangsa Indonesia diperhadapkan dengan pelbagai tantangan, salah satunya radikalisme. Radikalisme bukan tentang pelaku, jaringan atau kelompok, namun radikalisme memiliki akar keyakinan, doktrin dan ideologi yang menyerang kesadaran manusia dengan menghendaki perubahan secara radikal / fundamental reform melalui jalur kekerasan" ujar Rosalia.

Dia juga menegaskan bahwa penanganan atas berbagai masalah tersebut tidak bisa hanya melalui penegakan hukum (Hard Approach) tetapi dibutuhkan partisipasi seluruh elemen bangsa termasuk generasi muda dalam hal ini disebut Kontraradikalisme, yang mana sasaran gerakan ini ditujukan kepada masyarakat yang belum terpapar paham radikal.

"PMKRI Cabang Makassar mengajak seluruh mahasiswa dan masyarakat untuk bersama-sama membangun ruang diskusi, dialog, seminar maupun upaya lain yang dapat meningkatkan nasionalisme anak bangsa dan tentunya menjadi gerakan kontraradikalisme" tutupnya. (AA/MN)