Pendidikan: Pandangan dan Rekomendasi
Cari Berita

Pendidikan: Pandangan dan Rekomendasi

MARJIN NEWS
12 July 2018

Suasana diskusi rutin Forum Kajian Sint Lucas PMKRI Cabang Surabaya membahas konsep pendidikan menurut Paulo Freire pada Sabtu, (7/7) malam. (Foto: PMKRI Cab. Surabaya)
Masalah pendidikan memang masih menjadi bahan diskursus yang tak lekang oleh waktu. Baik dari segi konsep hingga tahap implementasi. Beberapa hal yang paling gampang dilihat mengenai; infrastruktur, biaya sekolah, kurikulum, sampai kesempatan belajar yang masih kontroversial. 

Dalam melihat persoalan pendidikan yang ada, kita bisa merujuk pada pemikiran pedagog terkenal Brazil, Paulo Freire yang mengusung konsep pendidikan dengan metode dialogis. Pendidikan yang dimaksud tidak terbatas pada ruang kelas (pendidikan formal) yang kita kenal selama ini, tetapi lebih luas daripada itu.

Guru bukan hanya sarjana pendidikan yang mengajar di sekolah – maupun pengertian murid bukan hanya peserta didik yang mendaftar, membayar biaya sekolah dan bersekolah. Namun, setiap orang yang melaksanakan kegiatan belajar (mencari tahu, mengamati, menganalisis, mengkaji persoalan, menyebarluaskan pengetahuan) dapat disebut guru ataupun murid (pembelajar).

Guru dalam pandangan Freire adalah seorang katalisator. Melalui dirinya suasana dialog terjadi, baik pembahasan mengenai ilmu pengetahuan yang memerlukan kedisiplinan ilmiah hingga kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, guru bukan sumber pengetahuan melainkan pembimbing (tutor) yang baik, inisiator yang setia, dan rekan (partner) dalam segala urusan.

Meskipun berbagai instrumen pendukung pendidikan telah dipersiapkan demi tujuan proses tersebut, ternyata tidak membawa dampak signifikan terhadap proses pembelajaran yang terjadi di sekolah. Sebagai contoh, “kurikulum 2013”. Nyatanya bukan obat manjur yang dapat memastikan untuk membuat murid lebih aktif daripada guru. Maka, kita bukan lagi berhadapan dengan instrumen pendidikan dan sarana-prasarana untuk mentransformasi pendidikan, melainkan kualitas guru yang patut diperbaharui.

Soal kurikulum dan metode pembelajaran di sekolah, membuat kita menyangsikan lembaga pendidikan yang ada selama ini. Ada realita bahwa sekolah hanya dipandang sebagai peningkatan strata sosial pribadi seseorang, bukan sejatinya sebuah proses pembebasan diri menuju manusia merdeka seperti yang dipikirkan Freire. Dengan bersekolah, seseorang akan menjadi sarjana (mendapatkan gelar), dapat bekerja di mana saja dan menuai hidup mapan.

Tentu, hal tersebut sangat berbeda dengan yang dipikirkan Freire pada masa itu, dan sayangnya anggapan tersebut masih berlaku umum di masyarakat. Freire lebih menekankan bahwa pendidikan adalah sebuah proses pembebasan – sebuah ruang demi kesadaran hidup bersama, demi kebaikan umum (common good).

Sekolah mencerminkan bahwa ada visi yang mau dikejar – dengan menerapkan fokus pembelajaran hanya pada aspek kognitif dan menafikan kecerdasan yang lain – yang tentu dapat dijadikan modal bagi kelangsungan hidup di masa depan. Namun, visi tersebut ternyata tidak sama sekali selaras dengan proses (metode) yang diterapkan di sekolah. 

Belum lagi, para sarjana/akademisi/ilmuwan (Profesor atau Doctor), tidak memiliki pengaruh (rekomendasi) terhadap kelangsungan hidup bersama sesuai dengan spesifikasi keilmuan yang digeluti. Maka tak jarang, jurnal-jurnal penelitian internasional lebih digandrungi untuk dijadikan bahan rujukan dalam penulisan karya ilmiah atau untuk mengentaskan masalah sosial. Sebab, para pakar di Indonesia kalah produktif daripada pakar luar negeri. Miris.
....
Beberapa hasil identifikasi masalah tersebut di atas, mengharuskan kita untuk mencari jalan keluar. Beberapa di antaranya; pertama, sebaiknya proses perekrutan guru tidak hanya berfokus pada lulusan sarjana keguruan/pendidikan, melainkan dilaksanakan secara terbuka – perlu dirancang sebuah metode perekrutan untuk menghasilkan kualitas guru yang mampu membimbing, menginisiasi, merangsang rasa ingin tahu peserta didik, agar proses pembelajaran betul-betul menjadi ruang eksplorasi informasi dan ilmu pengetahuan dan menemukan kemampuan peserta didik.

Kedua, para pakar/akademisi harus mempertanggungjawabkan profesionalitas keilmuan dengan melakukan penelitian dan menyebarluaskan hasil penelitian sehingga berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat – baik kajian/penelitian lapangan maupun kajian literatur.

Sumber:
Makalah “Paulo Freire: Pendidikan Kritis, Humanis, dan Membebaskan” Oleh Yeri Mahur.
Hasil Diskusi “Forum Kajian Sint Lucas PMKRI Cabang Surabaya-Sanctus Lucas”, Sabtu 7 Juli 2018.

Oleh: Gandy Bosco
Presidium Pendidikan dan Kaderisasi