Ngeri! Per Maret 2018: 1,14 Juta Warga NTT Hidup Dalam Lingkaran Kemiskinan
Cari Berita

Ngeri! Per Maret 2018: 1,14 Juta Warga NTT Hidup Dalam Lingkaran Kemiskinan

MARJIN NEWS
16 July 2018

Angka ini mengalami lonjakan 7.400 orang jika dibandingkan dengan jumlah pennduduk miskin NTT pada September 2017 yang masih berada pada angka 1.134.740 orang (Foto: Istimewa)
Feature, marjinnews.com - Lagi-lagi sebuah pukulan telak mengenai wajah pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bagaimana tidak, berdasarkan hasil siaran resmi Badan Pusat Statistik Perwakilan NTT pada Senin (16/7/2018) ditemukan bahwa ada sekitar1.142.170 orang di NTT masih hidup dalam kemiskinan pada Maret 2018.

Angka ini mengalami lonjakan 7.400 orang jika dibandingkan dengan jumlah pennduduk miskin NTT pada September 2017 yang masih berada pada angka 1.134.740 orang. Meski demikian secara prosentase, angka kemiskinan di NTT malah turun 0,03 persen dari 21,38 persen pada September 2017 menjadi 21, 35 persen lada Maret 2018.

Kepala BPS Provinsi NTT, Maritje Patiwelapia dalam konfrensi pers di Lantai II Gedung BPS Propisi NTT, Senin siang, mengatakan, disparitas kemiskinan antara perkotaan dan pedesaan cukup tinggi.

Pada September 2017, persentase penduduk miskin di kota di NTT 10,11 persen dan penduduk miskin di desa 24, 59 persen. Namun pada Maret 2018, jumlah penduduk miskin di kota 9,94 persen, jumlah penduduk miskin di desa di NTT melonjak menjadi 24,74 persen.

Angka kemiskinan tersebut, kata Maritje diukur berdasarkan konsep kebutuhan dasar. Dengan konsep ini, jelas Maritje, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur berdasarkan garis kemiskinan.

"Garis kemiskinan makanan adalah nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan (setara 2.100 kalori per kapita per hari). Sedangkan garis kemiskinan bukan makanan adalah nilai minimum pengeluaran untuk perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan pokok non makanan lainnya," jelas Maritje seperti dilansir Tribun.

Metode ini, kata Maritje dipakai BPS sejak tahun 1998 supaya hasil penghitubgan konsisten dan terbanding dari waktu ke waktu. Maritje mengungkapkan, faktor-faktor terkait dengan tingkat kemiskjnan di NTT periode Seotember 2017 sampai Maret 2018, yakni; pertama, selama periode September 2017-Maret 2018 terjadi inflasi Umum 1,81 persen.

Sedangkan pada periode Maret 2017-Maret 2018 terjadi inflasi umum 2,25 persen. Kedua, tingkat kesejahteraan petani cenderung meningkat pada bulan Maret 2018. Hal itu tercermin dari nilai tukar petani NTT bulan Maret sebesar 104,48 atau meningkat 1,48 poin jika dibandingkan periode September 2017 sebesar 103,00.

Ketiga, tingkat pengangguran terbuka di NTT pada bulan Februari 2018, 2,98 persen. Sebagian besar penduduk, yakni sebanyak 1,46 juta (58,63 persen) bekerja di sektor pertanian.

Keempat, Gini ratio Provinsi NTT pada Maret 2018 sebesar 0,351 turun 0,008 poin dari periode September 2017 sebesar 0,359 . Kelima, pada Periode November 2017 -Februari 2018 persentase rumah tangga penerima raskin / rastra atau BPNT 43,09 persen. (EC/TN/MN)