Menjadikan Ideologi Pancasila Sebagai Obyek Kontrak Politik Pilpres 2019 Itu Melecehkan!

Padahal Pancasila sudah diterima sebagai sebuah "ideologi negara" yang mengikat seluruh warga negara Indonesia sejak ia lahir sampai mati

Padahal Pancasila sudah diterima sebagai sebuah "ideologi negara" yang mengikat seluruh warga negara Indonesia sejak ia lahir sampai mati (Foto: Istimewa)
Langkah Ketua Umum DPP Partai Demokrat yang juga Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, SBY, menjadikan Ideologi Pancasila sebagai "obyek" dalam kontrak politik untuk diimplementasikan oleh Capres dan Cawapres melalui Partai Demokrat, merupakan tindakan "pelecehan" terhadap Pancasila sebagai Ideologi Negara yang sudah dijamin dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945.

Menjadikan Pancasila sebagai "obyek" kontrak poltik dalam penjaringan Capres dan Cawapres sama saja dengan menjadikan Ideologi Pancasila dalam posisi pilihan yang fakultatif (boleh memilih atau tidak memilih) atau setara dengan "obyek" Perjanjian yang dalam lalu lintas Hukum Perjanjian bisa ditawar, dikurangi atau ditiadakan sama sekali, tergantung kesepakatan.

Ini yang berbahaya, karena ideologi Pancasila hanya dilihat sebagai alat untuk tawar menawar dalam sebuah "kontrak poltik" sebagaimana kontrak-kontrak lainnya dalam dunia perjanjian, yang jika dianggap cocok oleh para pihak maka "kontrak politik" diterima, ditandatangani dan mudah diingkari, namun jika tidak cocok ya ditolak atau diabaikan.

Padahal Pancasila sudah diterima sebagai sebuah "ideologi negara" yang mengikat seluruh warga negara Indonesia sejak ia lahir sampai mati. Ideologi Pancasila bukanlah sesuatu yang diperhadapkan untuk dipilih atau tidak dipilih, melainkan Pancasila itu berlaku secara "erga omnes", sehingga tidak untuk dijadikan alat tawar menawar dalam penjaringan capres-cawapres.

Di dalam release SBY di YouTube, Partai Demokrat ingin mengikat Capres dan Cawapres 2019 dengan sebuah "Kontrak Politik" yang obyeknya adalah "Ideologi Pancasila". Tujuannya katanya agar Capres dan Cawapres dari Partai Demokrat jika terpilih tidak ingin membuka ruang penyeberangan bagi Ideologi yang bertentangan dengan Pancasila seperti Komunisme dan Radikalisme Agama.

Keinginan SBY ini berbanding terbalik dengan sikap SBY dan Partai Demokrat selama 10 tahun SBY menjadi Presiden, dimana gerakan kelompok Intoleran dan Radikal menguat dan mendapat tempat, sementara negara dibuat tidak berdaya melalui kebijakan Presiden SBY Partai Demokrat yang ketika itu mencabut UU No. 8 Tahun 1985 Tentang Ormas dan menggantikan dengan UU No. 17 Tahun 2013 Tentang Ormas, yang lebih membuka ruang bagi kelompok Intoleran dan Radikalisme.

Model kontrak politik yang akan diterapkan oleh Partai Demokrat dalam menjaring Capres dan Cawapres dengan menempatkan Ideologi Pancasila sebagai "obyek" kontrak politik, sesungguhnya merupakan sebuah pelecehan terhadap kedudukan, sifat dan hakekat "Pancasila" sebagai Idelogi bangsa dan dasar negara yang sudah  final, tidak boleh ditawar-tawar apalagi dijadikan sebagai "obyek" kontrak poltik yang bersifat transaksional.

Karena bagaimanapun Ideologi Pancasila sudah dijamin keberadaan dan kekuatan mengikatnya di dalam Pembukaan dan Batang Tubun UUD 1945 hingga kepada UU lainnya (harga mati), maka hal itu jelas menurunkan derajat dan marwah Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara itu sendiri.

Partai Demokrat dipersepsikan oleh publik sebagai partai yang selama 10 tahun SBY menjadi Presiden telah membuka ruang penyeberangan dan tumbuh subur bagi kelompok intoleran dan radikal melalui kebijakannya antara lain berupa mencabut UU No. 8 Tahun 1985 Tentang Ormas dan menggantinya dengan UU No. 17 Tahun 2013 Tentang Ormas, yang memberi ruang penyeberangan untuk masukanya gerakan Intoleran dan Radikal menjadi semakin kuat dan terbuka, sementara negara dibuat tidak berdaya menghadapi kelompok Intoleran dan Radikal, ketika negara hendak menindaknya apalagi membubarkannya.

SBY dan Partai Demokrat harus mengubah konten kontrak politik yang menjadikan "Ideologi Pancasila" sebagai "obyek kontrak politik" dalam menjaring Capres dan Cawapres, jangan jadikan Pancasila atau Ideologi Negara sebagai barang dagangan, karena Konstitusi sudah memberikan garansi bahwa Ideologi Pancasila merupakan satu-satunya asas atau dasar negara yang menjadi fundasi NKRI, bahkan setiap ormas wajib menjadikan Pancasila sebagai asas di dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasinya.

Oleh: Petrus Selestinus 
Koordinator TPDI & Advokat PERADI

COMMENTS

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Agraria,1,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,3,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,231,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,2,Berita,9,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,45,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,157,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,2,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,45,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,4,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,259,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,6,Kepemudaan,151,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,59,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,56,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,7,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,88,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,5,Novanto,1,Novel,15,NTT,117,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,352,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,22,Pariwisata,25,Partai Politik,24,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,PenaBiru,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,864,Peritiwa,2,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,PP PMKRI,1,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,67,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,26,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,7,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Menjadikan Ideologi Pancasila Sebagai Obyek Kontrak Politik Pilpres 2019 Itu Melecehkan!
Menjadikan Ideologi Pancasila Sebagai Obyek Kontrak Politik Pilpres 2019 Itu Melecehkan!
Padahal Pancasila sudah diterima sebagai sebuah "ideologi negara" yang mengikat seluruh warga negara Indonesia sejak ia lahir sampai mati
https://3.bp.blogspot.com/-j0in9R0f8j4/W0ykgb9YrcI/AAAAAAAABtU/QOaucGau7wEUo8lIwaWIQU7xIpMo5ffOwCLcBGAs/s320/petrus%2Bselestinus.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-j0in9R0f8j4/W0ykgb9YrcI/AAAAAAAABtU/QOaucGau7wEUo8lIwaWIQU7xIpMo5ffOwCLcBGAs/s72-c/petrus%2Bselestinus.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/07/menjadikan-ideologi-pancasila-sebagi.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/07/menjadikan-ideologi-pancasila-sebagi.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close