Mama Lekas Pulang, Refleksi Kritis Ivan Nestorman Atas Kerinduan Keluarga TKI di Luar Negeri

Ketika semua orang menangis tidak berdaya, meratapi peti mati berisi tubuh kaku tak bernyawa ia datang dengan sosok seorang bocah polos dalam lagu "Mama Lekas Pulang"

Ketika semua orang menangis tidak berdaya, meratapi peti mati berisi tubuh kaku tak bernyawa ia datang dengan sosok seorang bocah polos dalam lagu "Mama Lekas Pulang" (Foto: Dodi Juraman)
Tidak bisa dipungkiri bahwa perempuan masih menjadi korban eksploitasi untuk dikirim ke luar negeri untuk menjadi buruh migran. Menurut Poerwandari, dkk. (2002: 44) Buruh perempuan sering mengalami diskriminasi dalam hal gaji, sekaligus menjadi korban pelecehan seksual. Tak jarang, perempuan korban perdagangan seksual menjadi korban eksploitasi pengguna “jasa” maupun agen atau majikannya sendiri.

Sejarah pengiriman besar-besaran perempuan tenaga kerja ke luar negeri dimulai di awal tahun 80-an. Pada tahun 2015, Bank Dunia mencatat bahwa sumbangan devisa TKI sebesar US$ 10,5 miliar atau sekitar 140 triliun rupiah. Angka tersebut lebih tinggi dari penerimaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang mencapai 110 triliun rupiah hingga awal tahun 2015. (Katadata.co.id, 26 Januari 2017)

Indonesia merupakan negara dengan pekerja migran yang cukup besar. Menurut data BNP2TKI, 31 Januari 2016 untuk periode 2011-2016, sejumlah 2.320.959 orang meninggalkan Indonesia untuk bekerja sebagai TKI. Dari jumlah yang sedemikian banyak, tercatat ada sekitar 62% TKI adalah perempuan dan berpendidikan rendah.

Data tersebut juga menunjukkan sebuah fakta yang sangat mengejutkan yaitu kurang lebih 1,5 juta TKI merupakan perempuan yang bekerja di sektor domestik atau Pembantu Rumah Tangga dengan kategori pendidikan SMP (40,5%) dan SD (30,17%).

Fakta yang menunjukkan betapa pendidikan rendah tersebut tidak bisa dibendung sebagai pengaruh besar penyebab terjadinya kekerasan yang semakin meningkat. Ditambah sistem perlindungan yang tidak pernah berjalan optimal dan hanya isapan jempol semata. Rata-rata kasus yang menimpa TKW asal Indonesia terungkap melalui pengaduan terkait permasalahan pelecahan verbal maupun fisik.

Laporan Reuters pada 19 September 2013 melalui sebuah Survey dari Misi Pekerja Migran Hong Kong 2012 yang melibatkan 3.000 wanita migran menemukan sekitar 58 persen pekerja telah mengalami kekerasan verbal, 18 persen mengalami kekerasan fisik dan 6 persen mengalami pelecehan seksual.

Situasi tersebut adalah kondisi riil TKI kita yang bekerja di luar negeri. Belum lagi kabar tentang pengiriman TKI ilegal atau Human Traffcking yang menempatkan provinsi Nusa Tenggara Timur pada  posisi puncak sebagai penyumbang dan penerima peti mati TKI paling banyak. Buram dan gelap. Tidak ada cahaya harapan. Bungkam, tidak ada perlawanan.

Disitulah sosok Ivan Nestorman datang membangkitkan pengharapan. Ketika semua orang menangis tidak berdaya, meratapi peti mati berisi tubuh kaku tak bernyawa ia datang dengan sosok seorang bocah polos dalam lagu "Mama Lekas Pulang".

Sang Maestro musik NTT itu benar-benar merefleksikan betapa kerinduan akan kepulangan para TKI kepada keluarga untuk merajut kembali kasih sayang yang mulai hilang. Lagu yang tergabung dalam album IOM tahun 2015 itu menceriterakan bahwa anak dari para TKI mengamini bahwa uang adalah sesuatu hal yang sangat diperlukan. Namun, uang tidak bisa memberikan kasih sayang.

Lirik lagunya sangat sederhana, jujur, sangat emosional dan berhasil menggambarkan realita yang sebenar-benarnya atas keluarga para TKI terutama bagi anaknya yang ditinggal ketika masih dalam tahap pertumbuhan.

Realitas ini memang kadang selalu dikesampingkan, pendekatan birokratis kepada aparat pemerintahan dan pihak terkait kadang hanya menyisakan rasa kecewa dan sakit hati, tidak bisa menyentuh akar persoalan. Bahwa sesungguhkan persoalan yang dihadapi masyarakat kita adalah ketimpangan ekonomi, kemiskinan. Pilihan menjadi TKI dengan tanpa menimbang resiko seperti tertera di awal tulisan ini merupakan resiko yang tidak bisa dihindarkan.

Ivan Nestorman yang kita kenal hanya sebagai seorang seniman ternyata juga aktif menyerukan suara-suara pembebasan. Belenggu kemiskinan baginya melalui lagu-lagu sarat makna itu harus diretas dan diselesaikan. Kita butuh gaya penyelesaian masalah yang baru untuk membebaskan para TKI dari penindasan. Terutama memenuhi harapan anak-anak mereka untuk kembali mendapatkan kasih sayang yang sempat hilang. Salam..

Oleh: Andi Andur   

Komentar

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,2,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,229,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,3,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,42,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,141,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,44,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,241,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,3,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,139,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,55,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,36,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,86,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,4,Novanto,1,Novel,15,NTT,116,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,341,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,87,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,862,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,63,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Mama Lekas Pulang, Refleksi Kritis Ivan Nestorman Atas Kerinduan Keluarga TKI di Luar Negeri
Mama Lekas Pulang, Refleksi Kritis Ivan Nestorman Atas Kerinduan Keluarga TKI di Luar Negeri
Ketika semua orang menangis tidak berdaya, meratapi peti mati berisi tubuh kaku tak bernyawa ia datang dengan sosok seorang bocah polos dalam lagu "Mama Lekas Pulang"
https://3.bp.blogspot.com/-TI7Y9h2Td7k/W0sb7CVlYFI/AAAAAAAABsg/MqzEkT9C7sgET2PgvwEII5isSJsE4H09wCLcBGAs/s320/ivan.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-TI7Y9h2Td7k/W0sb7CVlYFI/AAAAAAAABsg/MqzEkT9C7sgET2PgvwEII5isSJsE4H09wCLcBGAs/s72-c/ivan.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/07/mama-lekas-pulang-refleksi-kritis-ivan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/07/mama-lekas-pulang-refleksi-kritis-ivan.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy