Luca Modrić, Dari Mantan Anak Korban Perang Hingga Menjadi Kapten Timnas Kroasia
Cari Berita

Luca Modrić, Dari Mantan Anak Korban Perang Hingga Menjadi Kapten Timnas Kroasia

15 July 2018

"Modrić telah memecahkan lebih banyak kaca di jendela hotel daripada apa yang telah diledakkan oleh bom. Dia bermain sepak bola non-stop di sekitar aula hotel." (Foto: Istimewa)
Feature, marjinnews.com - Piala Dunia Rusia 2018 banyak memberikan kejutan. Dimulai dengan gugurnya tim favorit juara sampai pada munculnya calon juara baru seperti Kroasia yang akan melawan Prancis dalam laga puncak pada Minggu (15/7/2018). Prancis lolos setelah mengalahkan Belgia yang penuh dengan pemain bintang, sementara Kroasia mati-matian berhasil melengser Inggris yang juga dipenuhi pemain-pemain muda dengan skor 2-1.

Jalan panjang Kroasia menuju juara piala dunia 2018 tidaklah mudah. Sempat harus berjuang melalui adu pinalty selama tiga kali pertandingan, mereka paling mendapat banyak dukungan dari penggemar sepak bola di seluruh dunia untuk menjadi juara ketimbang Prancis.

Keberhasilan Kroasia tidak terlepas dari bagaimana sang kapten tim tanpa pernah kenal lelah memotivasi teman-temannya untuk berjuang habis-habisan di lapangan hijau. Yah, dia adalah Luca Modrić. Salah satu pemain bintang Real Madrid yang banyak dicintai para Madridista di seluruh dunia. Siapa yang menyangka, pria berbadan mungil dengan pipi tirus itu merupakan seorang anak mantan korban perang.

Luca Modrić lahir di Zadar, Kroasia, pada 9 September 1985, masa kecilnya penuh dengan konflik karena bertepatan dengan Perang Kemerdekaan Kroasia pada tahun 1991. Ketika perang semakin intensif, keluarganya terpaksa melarikan diri dari konflik dan ayahnya mendaftarkan diri menjadi tentara nasional.

Pada bulan Desember 1991, ketika Modrić berumur enam tahun, dia dan keluarganya terguncang oleh tragedi ketika kakeknya, bersama dengan enam warga sipil lansia lainnya dieksekusi oleh pemberontak Serbia yang merupakan bagian dari polisi SAO Krajina di desa Jesenice.

Pada waktu itu rumah mereka dibakar habis. Modrić dan keluarganya pun dipaksa hidup sebagai pengungsi selama tujuh tahun di Hotel Kolovare. Mereka kemudian pindah ke Hotel Iž yang dikelilingi oleh suara granat meledak dan pecahan kaca. Modrić masih ingat betul dengan momen sulit dalam hidupnya itu.

Sepak bola hanya menjadi media pelarian diri dari konflik yang mengerikan yang melanda Kroasia pada awal tahun sembilan puluhan, lapor MailOnline. Salah seorang juru bicara untuk Hotel Kolovare pernah menyatakan:

"Modrić telah memecahkan lebih banyak kaca di jendela hotel daripada apa yang telah diledakkan oleh bom. Dia bermain sepak bola non-stop di sekitar aula hotel."

Sebelum karirnya di lapangan hijau sukses besar seperti saat ini, Modrić juga menemui banyak kendala. Tim sepak bola Kroasia HNK Hajduk Split memilih untuk tidak mengontrak Modrić karena dinilai terlalu muda dan tidak memiliki otot yang kuat sebagai seorang profesional. Tapi kini Hajduk Split boleh jadi menjadi pihak yang paling menyesal dengan keputusannya.

Setelah memulai karier dan menandatangani kontrak dengan sang pesaing, Dinamo Zagreb, Modrić menjadi juara Liga Kroasia tiga kali, dua kali juara Piala Kroasia dan satu kali memenangi Piala Super Kroasia. Modrić kemudian pindah ke Tottenham Hotspur di mana ia menjadi andalan dan kunci kebangkitan klub London Utara, dengan menorehkan 159 penampilan.

Mantan manajer Spurs, Harry Redknapp menggambarkannya sebagai: "Neraka bagi musuh dan mimpi seorang manajer. Dia berlatih kesetanan dan tidak pernah mengeluh. Ia akan bekerja dengan dan tanpa bola di lapangan dan bisa mengalahkan pemain belakang dengan tipuan atau dengan umpan. Dia bisa masuk ke tim mana pun di empat besar."

Pada tahun 2012 Modrić menandatangani kontrak dengan Real Madrid, di mana ia dengan cepat memantapkan dirinya di tim utama di bawah asuhan Carlo Ancelotti, dan kemudian Zinedine Zidane yang di akhir musim 2017/2018 mengangkat trofi Liga Champions untuk tahun ketiga berturut-turut.

Jalan panjang karir Luca Modrić itu ternyata tidak sepenuhnya berjalan mulus. Masa lalu tidak membuatnya terpuruk melainkan bangkit dan kini membawa negaranya memantapkan langkah merebut trofi piala dunia.

Jika anda memperhatikannya dengan sungguh di lapangan hijau selama piala dunia 2018, ia akan tetap terus berlari meski raut wajahnya menunjukkan betapa ia sangat kelelahan. Meski tidak jarang dia memegangi lututnya yang kesakitan ia tetap tersenyum memberi semangat untuk rekan-rekan setimnya. (EC/MN)