$type=carousel$cols=3

Kiran, Si Penakluk Idealisme Aktivis Di Atas Ranjang

Dari sekian banyak buku yang dikirimnya, satu buku berupa novel karya Muhidin M Dahlan paling menyita perhatian saya. Selain karena juduln...

Dari sekian banyak buku yang dikirimnya, satu buku berupa novel karya Muhidin M Dahlan paling menyita perhatian saya. Selain karena judulnya yang kontroversial caranya menyajikannya pun begitu tidak lazim (Foto: Dok. Pribadi)
Saban hari, saya mendapat beberapa buah buku dari seorang sahabat lama yang saat ini tengah berada di Semarang. Kami sering berkumpul bersama di Surabaya untuk membahas banyak hal. Setelah hilang kontak sejak awal tahun 2016, bom yang mengguncang Surabaya membuat romantisme pertemuan kami muncul lagi ke permukaan.

Sebuah kabar baik ternyata tengah dialaminya. Dia menjadi seorang wartawati di sebuah media swasta yang cukup memiliki nama di tanah air. Dari saling bertukar informasi, kami akhirnya sampai kepada sebuah diskusi serius tentang rutinitas masing-masing.

Dia seperti lazimnya seorang muslimah yang soleh mengaku merasa terpukul dengan peristiwa pembomam di Surabaya. Dengan nada rendah melalui sebuah pesan voice note via WhatsApp dia menitip pesan agar kami, teman-teman lamanya menjaga diri dan bisa saling berkomunikasi jika ada hal-hal yang buruk mendekati.

Saya lalu menceritakan kepadanya tetang rutinitas kami yang sudah tidak lagi berkumpul seperti dulu. Semua pada sibuk dengan urusan masing-masing, apalagi semester sudah mulai menua dan beban perkuliahan pun semakin banyak.

Sejak saat itu, dia mulai tertarik ketika saya mengatakan bahwa saat ini pasca peristiwa pilu itu kami di PMKRI yang dia kenal sejak mengenal saya tengah mengupayakan sebuah program deradikalisasi dunia pendidikan di Kota Surabaya. Gayung bersambut, dia menawarkan bantuan.

Meski tidak pernah dia mengutarakan niatnya secara terang-terangan dia meminta saya untuk mengambil buku di rumah seorang kawan sebagai hadiah ulang tahun yang baru dilaksanakan pada bulan Agustus besok setelah tiga minggu sebelumnya kami bertukar informasi.

Dari sekian banyak buku yang dikirimnya, satu buku berupa novel karya Muhidin M Dahlan paling menyita perhatian saya. Selain karena judulnya yang kontroversial caranya menyajikannya pun begitu tidak lazim. Dahlan benar-benar menelanjangi titik nadir aktivis dalam kehidupannya sehari-hari.

Novel berjudul "Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Memoar Seorang Muslimah" ini berlatar tempat  di kota Jogjakarta yang merupakan sebuah kota yang terkenal dengan sebutan kota pelajar. Novel ini  merupakan sebuah kisah nyata yang mengisahkan seorang wanita bernama Nidah Kirani seorang mahasiswi S1 yang merupakan seorang aktivis sebuah organisasi islam.

Mahasiswi ini merupakan sesosok wanita yang sholeha, yang selama hidupnya hanya dihabiskan untuk beribadah seperti sholat dan membaca Al-Quran, Kiran hampir melupakan kehidupan duniawinya.  Kiran awalnya tinggal di pondok Ki Ageng bersama seorang sahabatnya yang merupakan teman curhatnya.

Kiran aktif dalam forum-forum di kampusnya yang membahas mengenai keislaman.  Dalam kegiatan aktifnya di forum-forum islam membuatnya mengenal dan ikut bergabung bersama suatu organisasi islam yang memperjuangkan agama islam di Indonesia. Tetapi tekadnya untuk memperdalam agama dengan mengikuti organisasi ini pupus, dia menemukan kejangalan-kejangalan di organisasi ini yang memperbolehkan melakukan segala cara dalam mengumpulkan dana seperti dengan cara menipu, mencuri, dan melacur.

Kiran merasa sangat kecewa karena apa yang dipikirkannya selama ini tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga dia memutuskan untuk meninggalkan organisasi ini bersama 4 orang temannya, dengan rasa frustasi dan kekecewaan yang teramat besar terhadap organisasi ini dan Tuhannya. Kiran merasa bimbang. Kiran ingin berontak dan mundur karena dia mendapatkan tekanan yang sangat berat dari organisasi, lingkungannya, dan bahkan dalam dirinya sendiri.

Dan akhirnya Kiran merasa hidupnya tidak ditolong Tuhannya dan Kiran melakukan hal-hal yang diluar pemikirannya, Kiran yang pada awalnya bercita-cita menjadi muslimah yang beragama secara kaffa kini pupus dan pada akhirnya kini menjadi seorang pelacur.

Kiran yang awalnya seorang muslimah bejilbab lebar kini berubah menjadi sesosok wanita yang dapat memuaskan gairah para lelaki, dan berubah menjadi wanita jalang yang berkelana dari satu lelaki ke lelaki lain. Kiran menjual tubuhnya hampir ke setiap lelaki.

“Aku hanya ingin Tuhan melihatku. Lihatlah aku Tuhan! Kan ku tuntaskan pembrontakanku pada-Mu!” kata-kata ini yang selalu dikatakanya setelah bercinta tanpa rasa penyesalan.

Kiran merasa puas karena telah menelanjangi topeng-topeng kemunafikan dari lelaki yang selama ini selalu tampak terhormat didepan tetapi kenyataan dibelakannya tidak seperti itu. Dalam melakukan kegiatan maksiatnya ini Kiran dibantu oleh dosennya yang merupakan seorang germonya.

Kiran merasa tubuhnya yang telah diciptakan oleh Tuhannya itu yang dapat membuat lelaki bertekuk lutut atas kemolekan tubuhnya itu. Tetapi di dalam kegiatannya ini Kiran juga masih mengikuti kegiatan mahasiswa islam yang cukup besar.

Di saat kondisinya yang galau, ia justru melampiaskan kekecewaannya dengan melakukan free sex. Disini penulis menjelaskan bahwa semua yang tergoda oleh Nidah Kirana untuk melakukan freesex adalah pria-pria yang merupakan aktivis Islam. Mereka adalah orang-orang munafik pikir Nidah. Akhirnya ia pun menjual diri nya pada para pria. Pelacur, pilihan yang dia pikir lebih menguntungkan ketimbang hanya sekedar freesex dengan teman-teman kampusnya.

“Aku sang nabi kejahatan, akan menemui kehidupan bumi yang makin lama makin gelap. Nantikan aku manusia-manusia! Aku, sang nabi kejahatan, sang putri api, akan terus mengganggu, menyobek-nyobek, dan membakar topeng-topeng kemunafikan hidupmu. Tunggu saja. Aku segera datang. Segera datang.” Tulis Dahlan diakhir cerita perjalanan pencarian Nidah Kiran.

Vulgar dan tidak layak dibaca?
Jika kita hendak mencari karya sastra dengan bahasa yang vulgar, kasar, buku Muhidin M. Dahlan dapat diambil sebagai sampelnya. Bahkan saking vulgarnya, ada dua halaman dalam buku itu yang disensor dengan tinta hitam, sehingga beberapa kata atau sebaris kalimat tidak bisa dibaca (hal. 102-103).

Diksi (pilihan kata) yang disajikan terkadang mengesankan, bahwa penulis adalah orang yang tidak punya tata-krama dan tidak berpendidikan. Dengan permohonan maaf, kami sajikan contohnya di halaman 194 :

‘Hubunganku dengannya tak kurang dan tak lebih semata hanya seksnya saja untuk pelampiasan kekosonganku. Lain tidak. Cinta? Taik.’

Mungkin saja, buku ini bagi orang dewasa hanya sebagai entertainment saja. Tapi bagi orang muda yang sedang mencari jatidiri, yang belum matang, pilihan kata penulis buku akan menjadi semacam ‘ayat suci’ yang akan menentukan sikapnya kelak. Maka, kekasaran jiwa, kevulgaran yang telanjang, sikap tak mengenal kehalusan bahasa dan kesantunan kata, akan berpotensi semakin merusak mental bangsa kita (yang sudah rusak ini) untuk jangka panjang.

Muhidin M. Dahlan akan turut bertanggung jawab untuk hal ini.

Oleh: Andi Andur


Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,2,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,216,Asmat,4,Asusila,5,Badung,7,Bali,95,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,12,BBM,1,Bencana Alam,1,Berita,2,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,40,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Camilian,1,Cerpen,135,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,434,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,21,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,E-KTP,4,Editorial,38,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,5,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,3,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,20,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,29,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,14,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,2,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,2,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,222,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,1,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,65,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,4,Kepemudaan,130,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,13,KNPI,2,Komodo,5,Komunikasi,1,Komunitas,5,Korban,1,Korupsi,57,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,47,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,40,Lakalantas,8,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,1,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,14,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,35,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,79,Manggarai Barat,1,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,Narkoba,5,Nasional,222,Natal,19,Ngada,1,Novanto,1,Novel,15,NTT,105,Nyepi,2,Olahraga,10,Opini,331,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,20,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,1,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,80,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,22,Peristiwa,790,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,2,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,59,Politikus,4,POLRI,6,Pristiwa,18,Prosa,1,PSK,1,Puisi,51,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,7,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,21,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,Somasi,1,Sosial,1,Sosok,3,Sospol,35,Start Up,1,Sumba,11,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Kiran, Si Penakluk Idealisme Aktivis Di Atas Ranjang
Kiran, Si Penakluk Idealisme Aktivis Di Atas Ranjang
https://2.bp.blogspot.com/-fYWH3Y-GYiA/W0YvFwqb4HI/AAAAAAAABp4/vFGMt_XeC4AVSMiSbnhSe00O7CLHIkWtQCLcBGAs/s320/andi%2Bandur.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-fYWH3Y-GYiA/W0YvFwqb4HI/AAAAAAAABp4/vFGMt_XeC4AVSMiSbnhSe00O7CLHIkWtQCLcBGAs/s72-c/andi%2Bandur.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/07/kiran-si-penakluk-idealisme-aktivis-di.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/07/kiran-si-penakluk-idealisme-aktivis-di.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy