Jeritan Pelita di Pelosok Negeri
Cari Berita

Jeritan Pelita di Pelosok Negeri

MARJIN NEWS
28 July 2018

Gambar: Ilustrasi
Guru adalah sosok yang memanusiakan manusia. Undang-undang nomor 14 tahun 2005 menyebut guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, melatih, dan mengevaluasi peserta didik. Kehadiran guru membawa dampak besar bagi kemajuan bangsa.

Semua orang pasti tahu akan hal ini. Apa yang dilakukan agar menjadi insan pendidik yang profesional? Sederhananya yang dilakukan guru adalah menjadi insan yang pembelajar. Pembelajar dalam artian membuka diri untuk melakukan pembaruan pada setiap aspek sehingga kita bias mengembangkan perspektif yang barudan wawasan yang luas untuk anak didik. Di pundak kita dititipkan tanggungj awab paling besar untuk wajah masa depan bangsa kita.

Untuk memajukan sektor pendidikan tidak terlepas dari peran guru. Tapi kenapa guru tidak dilirik? Berdasarkan pengamatan penulis yang juga seorang sosok  anak yang tinggal pada sebuah daerah terpencil yakni Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bahwa perjuangan dan pengorbanan para guru sebagai pahlawan tak kenal lelah dipandang sebelah mata oleh pihak lain.

Kenapa penulis mengatakan seperti itu, karena realita mengatakan seperti itu. Mereka terus berjuang dengan segala bentuk kekurangan baik sarana maupun prasarana seperti harus melintasi sungai, jembatan yang bisa dikatakan sudah rapuh, jalan yang serba bebatuan dan belum direnovasi, akses internet yang bisa dikatakan tidak disentuh sama sekali. Saya mengatakan ini bukanlah semena-mena untuk membandingkan guru-guru di daerah perkotaan, tetapi sekadar mengatakan bahwa beginilahhal yang dihadapi guru-guru di pelosok-pelosok negeri.

Saya juga merasa sedikit janggal karena kebanyakan guru-guru yang berdedikasi di daerah terpencil adalah mereka yang masih honorer. Lantas kalau seperti ini adanya, di mana konsep pemerataan? Kita boleh bermimpi terkait kesejahteraan tetapi ternyata diskriminasi kenyataan.

Saat ini negara kita dapat dikatakan sudah lebih dari setengah abad merasakan kemerdekaan. Tapi, apakah pendidikan di Indonesia sudah merdeka? Pertanyaaan ini merupakan bahan permenungan bagi kita. Berbagai kendala membuat para guru merasa takut untuk mengabdi di pelosok-pelosok. Dapat dibanyangkan  untuk mencapai sekolah mereka harus melewati rintangan alam. Tidak jarang sekolah dilibubarkan akibat cuaca yang buruk dan medan yang berat.

Meskipun dengan situasi yang dialami, tetapi dengan rasa memiliki dan ketulusan mereka terus berjuang untuk menanggapi keantusiasme anak-anak untuk belajar. Merasa sangat bahagia memenuhi rasa ingin tahu mereka terkait pengetahuan. Mereka dituntut untuk memiliki kreativitas yang tinggi. Perjuangan anak-anak untuk merasakan bangku pendidikan tidaklah mudah.

Namun, yakinlah hasil tidak akan mengkhianati proses. Akan tiba saatnya mereka akan bertumbuh menjadi orang hebat yang akan bertanggungjawab untuk bangsa dan negara ini. Untuk itu, sudah seharusnya masyarakat maupun pemerintah menempatkan atau menghargai guru seperti profesi yang lain. Sehubungan dengan itu diperlukan suatu langkah yang komperensif dan diharapkan dapat terealisasi seperti, penjaminan mutu, pembenahan manajemen guru.

Perlu juga disadari bahwa mesyarakat memiliki andil besar terhadap pengembangan profesi guru. Oleh karena itu, masyarakat harus diikutsertakan terkait hal itu sehingga terus digali dan dioptimalkan.

Saya dengan penuh harapan mendambakan adanya perubahan untuk pendidikan di daerah-daerah terpencil. Memang kita semua sadari bahwa hal tersebut sangatlah sulit untuk dilakukan dan membutuhkan proses yang panjang. Tetapi, setidaknya kita berusaha untuk menjawab jeritan mereka dengan adanya suatu perubahan untuk dunia pendidikan khususnya daerah terpencil.

Oleh: Efriska K. Tau, S.Pd