Catatan Seorang Mahasiswa dari Negeri Rantauan

Foto: Ilustrasi
Angin hangat menghembus lembut kulitku yang tengah dengan semangatnya melangkahkan kaki menuju ke kampus. Cahaya matahari pun tak ketinggalan memancarkan cahaya keemasannya, menerawang, melewati celah-celah gedung bertingkat di kota pahlawan, lalu  mendarat tepat pada kulit hitam pembalut tubuh dengan segala isinya ini.

Hari ini adalah hari pertama UAS di kampusku. Tidak ada alasan lagi untuk terlambat. Sekarang sudah menunjukkan pukul 06.20 dan ujian dimulai jam 07.30. Lebih cepat  lebih baik. Bukankah begitu kata pepatah?.

Derap langkah kakiku terus membawa tubuh ini sampai pada halaman kampus. Kasak kusuk kehidupan kampus mulai terlihat sejak itu juga. Semua orang dalam pagar hitam itu bertingkah sesuai perannya.  Ibu-ibu Kantin masih pada rutinitasnya, bergulat dengan kompor gas, asap dan bumbu-bumbuan guna mempersiapkan makanan bagi para pelanggannya sebelum mereka datang.

Petugas parkiran nampak sibuk mencatat nomor kendaraan yang hendak masuk ke lahan parkiran sesekali meneguk kopi dan mengisap rokok yang barang tersisa satu Batang lagi. Begitupun yang lainnya. Tukang sapu dengan cekatan menyapu lantai dan halaman. Soal kebersihan lingkungan kampus menjadi tanggungjawabnya. 

Semua bergerak tanpa komando dan tanpa kontrol. Tidak ada tumpang tindih soal pekerjaan. Semua bergerak pada koridor mengabdi.  Seorang tukang sapu tidak mungkin masuk keruangan kelas lalu memberikan kuliah pada para mahasiswa. Pun sebaliknya, dosen pun pasti akan jijik mengerjakan pekerjaan kotor seperti yang selama ini dikerjakan tukang sapu. Inilah yang dinamakan wajar. Begitulah kehidupan akan wajar bila sama seperti kemarin.

Tidak boleh seorang bergerak tidak pada tugasnya.Karena jika demikian yang terjadi, maka akan berpengaruh pada proses keseluruhannya. Jika satu cacat, maka urusan yang lain pun tidak berjalan dengan baik.

Aku terus melangkah. Otakku tau, ke arah mana kaki ini diperintahkan melangkah. Ke ruang kelas, tentunya. Butir-butir keringat pun bercucuran dari badan yang membasahi kemeja kotak-kotak ala Ahok yang aku kenakan.

"Assalamualaikum. Selamat pagi kawan-kawan" sapaku pada kawan-kawan yang sedari tadi berada di ruangan ujian.

"Walaikumsalam. Selamat pagi juga Rinus" jawab mereka tanpa komando

"Eh, bagaimana persiapan ujian hari ini." sahut Toby yang sahabatku yang juga satu daerah denganku.

"Tidak ada alasan tidak siap. Bukankah begitu?.

"Baiklah. Mahasiswa sudah seharusnya demikian.  Oh ya,  kartu ujian mu sudah kamu ambil?" Tanya Toby singkat

"Aduh.. Aku belum mengambilnya.  Bagaimana denganmu. Sudah ambil?"

"Sudah. Tadi  barusan ambil di TU Fakultas"

"Benarkah? Baiklah, aku ke sana dulu ya" sahutku, tanpa menunggu jawaban darinya, lalu tergesa-gesa menuju ke ruangan tata usaha. Percakapan singkat itu kemudian terhenti seiring kakiku aku ayun menuju ruangan Tata Usaha.

Di ruangan tua berbalut cat biru itu, tampak segerombolan Mahasiswa tengah sibuk mengantri. Tidak ada keperluan lain. Tentu mereka mengambil kartu ujian sama sepertiku.

Seorang laki-laki tua umur dengan rambut telah beruban, dan matanya yang tertutup kaca mata bulat, berdiri dibalik meja yang dipenuhi oleh tumpukan buku dan kertas, dengan sabar melayani Mahasiswa yang tengah tergesa-gesa ingin segera mendapatan kartu ujian. Begitulah pekerjaannya. Apakah dia senang dengan pekerjaan ini?. Aku tidak mau mengetahuinya.

Aku lalu masuk ke barisan antrian. Tidak membutuhkan waktu lama, kini giliranku tiba.

"Selamat pagi pak Man" sapaku ramah dengan segurat senyum yang bisa aku buat.

"Selamat pagi juga Rinus. Hmm mau ambil kartu ujian ya?" Jawab pak Sumantri yang kerap dipanggil Pak Man ini.

"Iya pak Man. Kemarin belum sempat ambil" kataku sambil mengetokan jari telunjukku pada meja kayu dihadapan ku.

"Boleh pak Man minta tunjukkan kwitansi pembayaran SPPmu?"

Tanpa menyahut, aku lalu mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasku, lalu menyerahkan padanya. Untunglah, aku tidak meninggalkannya di kos.

Pak Sumantri kemudian mengalihkan pandangannya pada kertas putih garis-garis dengan angka dan huruf yang menempel pada kertas itu sambil memperbaiki posisi kacamatanya.

"Rinus, sepertinya pak Man tidak bisa memberikan kartu ujian mu" kata pak Sumantri seraya mengalihkan pandangannya padaku.

"Kenapa begitu pak?"

"Kamu belum melunasi uang SPP Sampai Bulan Agustus".

"Loh, Inikan masih bulan Juli!"

"Ini sudah menjadi ketentuan dari kampus" kata pak Sumantri sambil melihat kwitansi itu  sekali lagi.

"Baiklah pak, ini memang ketentuan kampus, tetapi apakah harus membuat saya tidak bisa ikut ujian?".

"Ya, begitulah resikonya".

Aku diam sebentar.

"Kalau hari pertama ujian gini, apakah  ada dispensasi tidak pak?". Kataku melanjutkan percakapan.

"Untuk urusan dispensasi bukan di Tata Usaha. Kami tidak punya hak untuk itu. Silahkan kamu menghadap Kaprodimu. Mungkin dia bisa membantu. Silahkan kamu menghadap beliau di ruangannya".

"Baiklah pak jika begitu. Permisi pak" akupun berlalu, adalah hal yang tidak berguna jika menanyakan, apalagi memprotes kebijakan kampus kepada pihak Tata Usaha. Karena sesungguhnya, mereka hanya menjalankan perintah dari atasan. Yah, tidak jauh berbeda dengan  para Tentara atau Polisi yang manut dan tunduk  pada perintah dari atasan tanpa bertanya alasannya, apalagi  memprotes atau menolak. Jangan harap.

Dengan perasaan mulai tak tenang, aku harus mengayunkan kakiku lagi melewati tangga puluhan jumlahnya, menuju lantai dua tempat Pak Parno Kaprodiku berada.

Di ruangan, pak Parno sedang duduk berhadapan dengan laptopnya. Tampaknya dia agak sibuk.
Aku masuk dengan wajah lugu dan penuh harap. “Apapun yang terjadi, aku harus berhasil meluluhkan hati dosen itu agar sekiranya saya mendapat dispensasi untuk ikut ujian” gumanku dalam hati sambil mengumpulkan keberanian yang tersisa. Tanpa berbasa-basi, aku mengutarakan maksudku, mengingat ujian tidak lama lagi akan dimulai.

"Mohon maaf mas. Untuk ujian kali ini tidak ada dispensasi bagi mahasiswa yang belum lunas SPP sampai bulan Agustus. Yang boleh mengikuti ujian hanya mereka yang sudah membayar SPP sampai bulan Agustus. Itu sudah keputusan final dan tidak ada tawar menawar lagi. Silahkan kamu mengikuti ujian susulan minggu depan saja. Dengan konsekuensi membayar uang susulan sebesar 75 ribu per satu mata kuliahnya. Tapi tetap, SPPmu harus dilunasi dulu" jawab pak Parno dengan tidak berdosanya sambil terus memandangi layar kaca laptopnya.

"Tapi pak, bukankah pelaksanaan ujiannya pada bulan Juli!?.”

“Iya. Memang. Tetapi, sudah kukatakan tadi, bahwa keputusan kampus mengharuskan lunas sampai bulan Agustus”. Aku diam sejenak. Sepertinya aku tidak cukup kuat berargumen dengan  dosen yang satu ini. Mau tidak mau, harus memelas kali ini.

“Baiklah pak. Ini sudah menjadi keputusan final dari kampus. Tapi Saya mohon untuk kali ini saja. Bantu saya pak. Saya sudah tidak tau lagi harus memohon bantuan kepada siapa lagi selain kepada bapak. Saya sudah menelepon orang tua di kampung. Katanya Untuk saat ini mereka hanya punya cukup uang untuk membayar SPP Sampai bulan Juli saja. Pun kalau sampai mengikuti ujian susulan yang mengharuskan bayar lagi per mata kuliahnya mereka tidak akan bisa pak. Tolonglah saya pak".

Begitulah yang terjadi, terkadang Mahasiswa harus memelas, bila perlu berlutut di hadapan dosen jika urusannya begini. Persetan dengan harga diri. Dan apa pula harga diri itu. Ini urusan kuliah, apapun harus dilakukan.

"Mas.. aku mengerti keluh kesah mas. Tapi, sudah kukatakan tadi. Ini sudah menjadi ketentuan kampus. Saya tidak punya hak untuk memberikan dispensasi"

"Pak,, Saya mohon dengan kerendahan hati. Tolonglah untuk kali ini saja, boleh sekiranya saya mengikuti ujian. Kali ini saja". Tanganku aku katupkan.

"Sudahlah mas. Kamu harus paham dengan sistem yang ada  dikampus ini. Apa yang menjadi keputusan rektor harus diikuti. Kami sama sekali tidak punya hak untuk memberikan dispensasi. Pun kalau aku memberinya, pasti saya akan di ditegur atau bahkan lebih ekstrim lagi saya bisa di berikan sanksi oleh Rektor karena sudah melanggar ketentuan. Harap kamu memaklumi itu. Saya hanya bisa menyarankan agar, mas lunasi uang SPP sampai bulan Agustus. Jika tidak, mau tidak mau kamu batal ikut ujian. Jika tidak, kamu ikut ujian susulan, tentu saja dengan konsekuensi yang ada".

Kata-kata ini keluar dari mulut pak Parno yang membuat aku bungkam. Diam. Semua kosa kata yang selama ini aku pelajari mendadak hilang dari ingatan. Mungkin tidak Hilang, tapi bisa jadi saraf yang menghubungkan otak dan mulut ini mendadak tidak berfungsi membuat tak sepatah katapun keluar dari mulutku.

Ya, ini memang ketentuan. Tapi, Benarkah ketentuan?. Atau jangan-jangan ini hanya alasannya saja? Ah, tidak mungkin. Aku bergulat dengan asumsi-asumsi yang aku bangun sendiri. Tubuhku mematung. Kecuali mata yang mencuri pandang ke luar jendela. Memandangi beberapa mahasiswa yang tampak kekhawatiran. Barangkali mereka juga menghadapi hal yang sama denganku.

Aku lalu berpikir, sudah tidak ada harapan lagi untuk mengikuti ujian kali ini. Pulang ke kos adalah keputusan yang tepat untuk  saat ini. Tidak ada gunanya memohon dispensasi kepada Kaprodi dan memang tidak ada dispensasi.

Dengan ekspresi kecewa, marah dan putus asa aku izin pamit keluar dari ruangan itu, dengan tetap sopan. Biar bagaimanapun, aku harus bertingkah sebagaimana mestinya. Itulah pelajaran yang orangtuaku utarakan semasa kecil dulu. Jangan biarkan emosi melangkahi rasa hormat pada siapapun.

Kaki membawa tubuh ini menuju ke gerbang, melewati halaman kampus beralaskan paving. Beberapa temanku yang sedang berada di halaman menyapa. Kami berbincang-bincang sebentar dan berlalu. Tenyata mereka mengalami nasib yang sama. Ah, sobat begitu Malangnya nasib kita.

Aku mesti pulang ke kos. Ya. Saat ini, ruangan kelas bukanlah tempatku lagi. Bila tetap bersikeras kesana, sudah pasti aku akan ditendang keluar ruangan ujian oleh pengawas. Aku terus melangkah melewati jalanan rata berkelok-kelok, melewati gang-gang setengah kumuh, berpapasan dengan penjual buah-buahan dan tentu saja silih-silihan dengan kendaraan motor yang berlalu-lalalang dijalanan membuat suasana hati semakin kacau.

Dalam hati aku tiada hentinya mengumpat. Tidak tahu kepada siapa. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain mengumpat. Yah, jika hati sudah dirasuki emosi, akalpun agak sulit untuk bekerja.
Begitu lemahnya diri ini, sampai porak poranda hanya gegara masalah tidak ikut ujian. Tidak. Ini masalah cukup berat. Setidaknya untuk ukuran diriku.

Di kos-kosan aku merebahkan tubuhku diatas kasur tipis berbalut kain berwarna hitam bercak hijau. Mataku hanya bisa menjangkau dinding tembok karena pemandangan di luar tertutup olehnya.
Pikiran melayang jauh, bekelana dialam imajinasi, melampaui dunia materi yang biasanya ditangkap oleh indra-Indra.

Wajah pak Parno tak pernah hilang dari ingatan. Kumis tebalnya menjadi gambar yang tidak enak untuk diingat. Kata-katanya,,, ah itulah yang paling menjengkelkan. Oke. Baiklah. Aku tidak melunasi uang SPP sampai bulan Agustus. Dan selanjutnya tidak boleh mengikuti ujian. Lalu, apa?. Hah?

Dunia kampus saat ini menjelma sebagai peluang bisnis yang bagus untuk meraup pundi-pundi keuntungan oleh para petinggi kampus. Tujuan ideal yakni mencerdaskan dan membebaskan sudah semakin tabu saja di dunia perguruan tinggi. Ah lupakan soal itu.

Mari bicarakan soal lain. Aku tidak tahu, apakah mereka juga sedikit saja mengintrospeksi diri, bahwa mereka pun tidak sepenuh hati memberikan hak kami yaitu ilmu. Dalam hitunganku selama satu semester ini, salah satu dosenku hampir separuh dari jadwal yang dibuat tidak pernah hadir di ruangan perkuliahan. Dengan berdalil “ada urusan penting” dia dengan seenaknya tidak hadir.

Walaupun demikian, tidak pernah sedikitpun uang SPP dikurangi setiap bulannya. Mereka tidak mau peduli dengan hal itu. Yang mereka mau tau adalah kami harus membayar. Itu saja.
Begitulah pikiran yang terus muncul dalam otakku saat ini. Sampai kepala pusing dibuatnya. Keringat-keringat dingin berkucuran dari pelipis dan kening.

Masih dialam bayangan,  terlintas wajah kedua orangtuaku yang tidak pernah absen dari pikiran. Wajah, yang kini tidak muda lagi. Wajah dan tubuh yang tidak pernah berhenti ketika berpanas-panasan dibawah panas dan terik matahari, menggigil kedinginan diguyur hujan demi menafkahi ketiga adikku dan diriku ditambah membiayai kuliah dan biaya hidupku di tanah rantau ini.

Aku terlahir dari keluarga dengan penghasilan pas-pasan, di sebuah pulau seberang sana. Berdasarkan klasifikasi dari para pakar, kami masuk golongan keluarga miskin. Mengapa mereka menyematkannya pada keluargaku?. Barangkali karena penghasilan keluarga kami tidak mencapai standar yang mereka tentukan. Ya, mungkin seperti itu. Lihat saja, ketika aku masih kecil dulu keluarga kami paling sering mendapatkan uang bantuan dari pemerintah kepada rakyat miskin.

Itu barangkali hasil dari klasifikasi para pakar tadi. Ah, persetan dengan itu. Subsidi memang membantu, namun dalam jangka pendek. Tidak jangka panjang. Subsidi hanya membuat masyarakat semakin manja dan kebergantungan terhadap pemerintah semakin tinggi. Maaf kalau saya salah dalam hal.

Pikiranku lalu memutar memory ingatan lain. Memory kejadian barang satu hari lalu. Itu ketika aku bercakap-cakap dengan tetanggaku di kampung di telepon, dari mereka aku mendapati informasi bahwa kondisi kesehatan ayah sedang menurun. Raganya sudah tidak kuat lagi untuk berkebun kata mereka. Namun hal itu tidak pernah bapak ceritakan langsung padaku.

Yang mereka ceritakan hanyalah cerita yang enak didengar, tidak pernah sedikitpun mereka memberikan kabar bahwa ayah sedang sakit. Tentu saja mereka tidak ingin agar pikiranku terganggu oleh karena berita itu. Mereka tidak ingin aku tidak fokus mengikuti ujian. Ah ibu dan bapak. Kalian telah berbohong. Dan kalian berdua berbohong demi diriku. Aku tidak tau, bohong seperti inikah yang dilarang oleh agama!?. Sungguh aku tidak tahu. Jika memang iya, aku ingin Tuhan mencatatkan dosa ini menjadi bagian dari dosaku. Bukan pada orangtuaku.

Jauh. Pikiranku terpental jauh dari tubuhku. Baru kali ini, aku mengalami situasi seperti ini. Aku tidak tahu, apa yang perlu aku perbuat sekarang.

“Perlu kiranya aku menelpon orang tua mengenai hal ini?. Ah tidak. Itu bukan ide bagus. Tidaklah baik membebani mereka lagi. Tidak perlu kiranya  membagi kesulitan ini kepada siapapun. Apalagi kepada orangtuaku. Aku harus bisa sendiri. Lantas, aku harus bagaimana?”. Pikiran semakin kacau.

Tawaran solusi muncul dengan susah payahnya, lalu dengan entengnya pula ditentang oleh pikiran sendiri. Masih terbaring di tempat tidurku. Lalu dengan tenaga yang masih tersisa aku bangun, tangan meraih gelas lalu menuangkan air dari galon biru yang menjadi hiasan kos selama ini. Aku meneguk air itu tanpa tersisa setetespun. Udara hangat kota surabaya tak habisnya mengelus kulit ini.

 “Ah, aku harus bekerja!”

Entah darimana pula datangnya ide gila itu. Namun, jujur, untuk sekarang ini, ini ide terbaik yang bisa didapati. “Lalu bagaimana dengan kuliah?”. Begini. Aku ingin tetap melanjutkan kuliah, aku sangat ingin bergelar sarjana. Aku ingin membanggakan orang tua dengan nama indah yang berhiaskan gelar. Aku ingin memiliki masa depan yang menjanjikan. Dan kata orang, dengan pendidikan itu bisa terwujud, ya itu benar. Aku ingin kesemuanya itu.

Tapi, lihatlah yang terjadi sekarang.  Aku tidak dapat melunasi SPP dan tidak diijinkan lagi Untuk mengikuti ujian. Dan aku tau diri dan sadar bahwa ternyata pendidikan memang tidak untuk melayani kami yang tidak punya uang. Ya. Sistem Pendidikan Era kolonial dengan era kita sekarang ternyata tidak jauh berbeda.

Dulu, portal untuk mendapatkan pendidikan adalah golongan. Yang boleh mendapatkan pendidikan Hanya mereka dari golongan tertentu saja. Mereka tidak lain adalah anak dari bangsawan dan keturunan Bangsa kolonial. Yang pribumi agak susah.

Sekarang, pendidikan dibatasi oleh uang. Yang punya uanglah yang boleh mendapatkan pendidikan, sedangkan yang tidak punya, jangan harap. Itulah yang terjadi padaku. Aku lolos pada portal yang pertama, dan berhasil mendapatkan pendidikan tinggi. Tapi sekarang, pada portal kedua aku tidak bisa. Aku sudah selesai.

Semoga tidak ada lagi yang terhadang oleh portal-portal itu lagi, seperti aku. 

Oleh: Beni Pankri
marjinnews.com Surabaya

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,155,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,180,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,567,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,36,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,276,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,52,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,60,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,287,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,241,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,414,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,19,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1114,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,36,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,87,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,19,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,64,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,46,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Catatan Seorang Mahasiswa dari Negeri Rantauan
Catatan Seorang Mahasiswa dari Negeri Rantauan
https://4.bp.blogspot.com/-AdpkT5p9TI8/W10neqLR4TI/AAAAAAAABy8/1JjJiRjvCGUbuRKVC0OsuT68qPhm4ITzACLcBGAs/s320/foto.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-AdpkT5p9TI8/W10neqLR4TI/AAAAAAAABy8/1JjJiRjvCGUbuRKVC0OsuT68qPhm4ITzACLcBGAs/s72-c/foto.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/07/catatan-seorang-mahasiswa-dari-negeri.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/07/catatan-seorang-mahasiswa-dari-negeri.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close